Lambungkan Keroncong, Handayani Night Festival Libatkan 450 Seniman

oleh
Pers release Handayani Night Festival (HNF) 2019. (KH/ Kandar)

WONOSARI, (KH),– Masih dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-74, komunitas lintas seni dan budaya serta generasi muda Gunungkidul dengan berbagai latar belakang yang tergabung dalam wadah Gugur Gunung Project akan menggelar Handayani Night Festival (HNF) 2019.

Ketua Panitia HNF, Guntur Susilo dalam agenda jumpa pers di Wonosari, Kamis, (29/8/2019) mengatakan, dalam HNF akan ditampilkan 10 group keroncong dari Gunungkidul. “Gelaran HNF 2019 melibatkan setidaknya 450 seniman,” kata dia.

Kegiatan yang juga berisi fashion show batik, live mural, dan tari kolosal serta penyajian kuliner jadul tersebut akan digelar di ruas Jalan KH Agus Agus Salim, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul pada Sabtu, (31/8/2019).

Lebih jauh disampaikan, agenda yang akan berlangsung dari sore hari hingga malam tersebut akan bernuansa serba keroncong. Pentas musik pop kolaborasi musik keroncong, fashion show diiringi keroncong, serta pentas seni tari kolosal juga diiringi musik keroncong.

“Kegiatan ini sekaligus untuk mengangkat kembali seni budaya lokal, salah satunya musik keroncong yang semakin terbenam keberadaannya belakangan ini,” imbuh Guntur.

HNF, lanjutnya, dikemas dengan konsep tiga panggung terbuka secara berderet. Pengunjung akan leluasa melihat setiap pertunjukan yang digelar. Guntur berharap, agenda untuk melestraikan seni dan budaya ini dapat menjadi event nasional yang konsisten digelar.

Sementara itu Sekertaris Panitia, Sidik Purnomo menambahkan, dari 10 group keroncong yang tampil sebagian beranggotakan pelajar SMP. Hal tersebut menandakan musik keroncong juga berpotensi berkembang serta layak menjadi warna musik anak muda.

Ungkap Sidik, penyerahan souvenir sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada tokoh seni dan tokoh masyarakat yang berjasa bagi dunia seni dan budaya Gunungkidul akan mewarnai HNF 2019. Souvenir penghargaan akan diberikan kepada Tjipto Swasono (pencipta logo Gunungkidul), Gunarto (pembuat tugu Handayani), Titik (pencipta mars Gunungkidul), Alm. Manthous (pelestari keroncong dan maestro Campursari), Endah Laras (pelestari keroncong) dan Djaduk Ferianto (pelestari dan pegiat keroncong).

“Agenda menelan biaya hingga Rp. 70 juta. Biaya penyelenggaraan berasal dari berbagai donatur,” tukas Sidik. (Kandar)

Komentar

Komentar