KWT Ngudi Sari Olah Singkong Jadi Mocaf, Nilai Jual Naik 4 Kali Lipat

oleh
Ketua KWT Ngudi Sari, Warti bersama Ketua PKK Kecamatan Tanjungsari, Budi Wahyuni. KH/ Kandar.

TANJUNGSARI, (KH),— Prihatin dengan harga ketela yang rendah saat dijual dalam bentuk gaplek, Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Sari di Desa Kemiri, Kecamatan Tanjungsari berupaya mengolah ketela agar memiliki nilai jual yang lebih.

Upaya tersebut, sebagaimana disampaikan Ketua KWT Ngudi Sari, Warti, telah dilakukan sejak tahun 2014 lalu. Hingga saat ini belasan produk dihasilkan dan laku dijual oleh KWT Ngudi Sari.

“Tahu sendiri harga gaplek hanya berkisar Rp. 1.200 per kilogram. Bahkan saat panen raya harganya anjlok,” ungkap Warti beberapa waktu lalu.

Karenanya, dirinya bersama 23 anggota lainnya mencari terobosan untuk menaikkan nilai jual sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Sejauh ini upaya tersebut berhasil. Warti bersama anggotanya beberapa kali melakukan percobaan dengan dampingan dari beberapa instansi seperti Dinas Pertanian. Selain itu pihaknya juga menerapkan hasil ‘belajar’ bersama paguyuban pengolah mocaf di Gunungkidul.

Dikatakan, produk olahan ketela ketika awal dirintis berupa tepung mocaf. Produk ini selain laku di lingkup Desa Kemiri dan Kecamatan Tanjungsari juga sering dikirim ke luar kota. Beberapa pengguna bahan mocaf dari Yogyakarta dan Jakarta sebagian diantaranya telah langganan membeli.

“Dalam satu minggu pernah menjual hingga 1 kuintal, bahkan saat permintaan naik pernah pula dalam satu bulan terjual 1 ton,” tutur Warti saat ditemui di ‘rumah mocaf’ bantuan dari Bank Indonesia (BI).

Berdasar hitungan dia, nilai jual ketela setelah dibikin mocaf mengalami kenaikan 4 kali lipat jika dibandingkan dengan dijual dalam bentuk ketela atau gaplek. Warti contohkan, dengan berat bahan baku yang sama perbandingan hasil produk gaplek dan harga mocaf cukup timpang.

Sebagai gambaran, produk gaplek seberat Rp. 100 Kg jika dijual dengan harga Rp. 1.200 diperoleh Rp. Rp. 120.000. Sementara dari jumlah bahan yang sama akan dihasilkan tepung mocaf sebanyak 30 Kg. tepung tersebut jika dijual tiap kilogram laku Rp. 16.000, maka diperoleh pendapatan Rp. 480.000.

“Biaya operasional antara bikin gaplek dan bikin mocaf kami hitung hampir sama. Memang bikin mocaf membutuhkan proses lebih banyak serta adanya sarana dan alat yang harus dipersiapkan dulu,” urai Warti.

Dari tepung mocaf tersebut dirinya juga mengembangkan produk siap saji yang lain. Diantaranya ada criping ketela, keripik daun ketela, roti brownis, keripik pare, stick mocaf, kue kering dan masih banyak lagi.

Kesinambungan mengolah mocaf kendala yang dihadapi Warti dan anggotanya terkait ketersediaan bahan baku. Seperti diketahui, ketersediaan ketela di Gunungkidul sangat tergantung musim. Ketika musim panen bahan baku tersedia melimpah, akan tetapi saat musim kemarau KWT Ngudi Sari kesulitan bahan baku ketela.

Warti menunjukkan stok chip mocaf. KH/ Kandar.

Salah satu upaya untuk menabung bahan baku dilakukan dengan membuat dan menampung produk chip terlebih dahulu. Chip mocaf merupakan hasil proses dari bahan baku ketela sebelum menjadi tepung mocaf.

“Beberapa warga yang bersedia kami latih untuk membuat chip dan dijual ke kami. Jumlah prosentase warga yang membuat chip hingga saat ini masih sedikit. Secara umum yang tidak bersedia membuat beralasan ribet. Memang tidak semudah membuat gaplek,” terang ibu dua anak ini.

Selain membuat chip, KWT Ngudi Sari terkadang mendatangkan bahan baku berupa ketela segar dari luar. Akan tetapi persoalan yang dihadapi biaya penyediaannya lebih tinggi. Selain harga beli juga biaya transport menjadi pertimbangan pengadaan bahan baku dari luar Gunungkidul.

Dalam kesempatan yang sama, Camat Tanjungsari, Rakhmadian Wijayanto, mengaku bangga atas kegigihan KWT Ngudi Sari. Apa yang dilakukan tersebut nyata telah mengangkat nilai jual hasil pertanian lokal.

Pihaknya juga mengaku akan menjadikan Desa Kemiri sebagai pilot project program pengembangan dan pertumbuhan desa. Melalui karangtaruna pihaknya akan mendorong pengelolaan bank sampah, pengelolaan danau, dan rintisan kebun buah.

“Harapanya suport dari dana desa guna kehadiran BUMDes sebagai induk pengelolaannya nyata mampu memberdayakan warga. Sepengetahuan kami PAD Desa Kemiri juga masih rendah,” ujar Rakhmadian. (Kandar)

Komentar

Komentar