Kualitas Garam Gunungkidul Lebih Baik Dari Pati Dan Semarang

oleh
Sri Sultan HB X meninjau produksi garam di Pantai Sepanjang, Gunungkidul. DIY, November 2018 lalu. KH

WONOSARI, (KH),– Di Gunungkidul terdapat dua lokasi pantai yang dijadikan sebagai tempat produksi garam, yakni di Pantai Sepanjang dan Pantai Nguyahan.

Garam yang dihasilkan petani garam di dua pantai tersebut, sebagaimana disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Purwono Sulistyo Hadi, kualitasnya cukup baik.

“Kualitas garam yang dihasilkan dari pantai selatan Gunungkidul lebih baik dari Semarang atau Pati,” kata dia belum lama ini.

Hanya saja, patut disayangkan harganya kalah bersaing di pasaran. Sebab, jika ingin untung selain menutup biaya proses produksi maka mestinya dijual dengan harga minimal Rp. 4 ribu tiap kilogram.

Namun, harga garam di pasaran saat ini di Gunungkidul hanya Rp. 2.000 per kilogram. Sehingga jika mengikuti harga tersebut tentu petani garam akan rugi. Pihaknya berharap segmentasi pasar segera didapat khusus untuk produk garam Gunungkidul.

“Layak dijual Rp. 4 ribu. Kalau Rp. 2 ribu per kilogram ya rugi,” tandas dia.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Disperindag Kabupaten Gunungkidul, Johan Eko Sudarto, menyampaikan, yang diperlukan saat ini yakni peningkatan kapasitas dan kualitas dari produk garam tersebut serta bagaimana upayanya agar bisa diterima oleh pasar.

“Sayangnya kemampuan produksi tidak diimbangi dengan kemampuan pemasaran,” kata dia.

Tak kalah penting selain upaya pengenalan ke pasar atau konsumen, perlu diperhatikan juga kelengkapan sertifikasi atau ijin POM, IUMK, PIRT, label halal, pembuatan merek dan kemasan.

Selain pemasaran, aspek produksi garam dinilai juga belum optimal, sebab, seperti diungkapkan Kepala Seksi Kenelayanan DKP Gunungkidul, Dewi Asthi, petani garam masih mengalami kendala dalam hal mengurangi kadar air pada garam. para petani garam hingga saat ini belum memiliki alat untuk mengurangi kadar air dari produk garam yang dibuat.

“Produksi garam di kedua pantai tersebut baru sebesar 100 kilogram per bulan,” terang Dewi. (Kandar)

Komentar

Komentar