Kisah Ki Ageng Wonokusumo dan Tradisi Madilakhiran

Daryanto salah satu juru kunci berada di samping Gebyok, Makam. KH/ Kandar
Daryanto salah satu juru kunci berada di samping Gebyok, Makam. KH/ Kandar

KARANGMOJO, (KH)— Cerita yang dipaparkan kali ini masih terkait pelarian Majapahit. Adanya petilasan berupa makam tokoh penting di ‘sejarah’ Gunungkidul, yang menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah untuk berziarah, sebagian besar tidak lepas dari cerita pelarian Majapahit.

Di tempat-tempat seperti ini masyarakat lokal sekitar makam dan masyarakat dari luar daerah yang berkunjung sadar dan yakin bahwa petilasan atau makam tokoh cikal-bakal wilayah, keturunan kerajaan, pemimpin wilayah, atau pemuka keyakinan, merupakan tempat yang baik untuk berdoa dan berziarah karena membawa berkah dan doanya mudah dikabulkan.

Bertaburnya makam dan petilasan tokoh penting di wilayah Gunungkidul secara turun-temurun melahirkan tradisi di dalam masyarakat sekitarnya dengan tujuan untuk memberikan penghormatan kepada sang tokoh dan sebagai pengingatan akan keberadaannya. Caranya dengan menggelar ritual kenduri, doa bersama, sedhekahan, dan sejenisnya.

Seperti halnya apa yang selama ini dilakukan oleh masyarakat sekitar Padukuhan Wonotoro, Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, terhadap Makam Ki Ageng Wonokusumo I atau sering disebut dengan K.A. Wonokusumo. Makam tokoh ini begitu disakralkan dan dianggap memiliki kekuatan magis-religius sehingga masyarakat dari luar DIY bahkan luar Pulau Jawa pun datang untuk berziarah atau menggugurkan nadhar setelah permohonannya tercapai. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan peringatan meninggalnya K.A. Wonokusumo yaitu setiap Bulan Jumadil Akhir (pada hari Senin atau Kamis antara tanggal 20-25 Bulan Maret Tahun Masehi).Peringatannya berupa upacara, yaitu sebuah prosesi tradisi yang dinamakan Madilakhiran.

Juru kunci makam K.A. Wonokusumo saat ini ada tiga orang, yaitu: Daryanto, Karnoto, dan Ngadiyo. Ini kali pertama juru kunci makam dalam satu periode jabatan tidak hanya satu orang, tidak seperti dua periode jabatan sebelumnya. Daryanto, salah satu juru kunci yang berbincang dengan KH beberapa waktu lalu, mengisahkan awal mula K.A. Wonokusumo datang hingga menetap di wilayah Jatiayu, yang ia peroleh turun-temurun.

Kedatangan K.A. Wonokusumo ke Gunungkidul bersamaan dengan waktu pelarian orang-orang dari Majapahit setelah terjadi peperangan. Beberapa tokoh yang ikut serta dalam rombongan K.A. antara lain: Ki Ageng Pandanaran (Tembayat, Klaten), Ki Ageng Giring III (Giring), dan Ki Ageng Wonokusumo II (Karangmojo).

Awalnya, K.A. Wonokusumo sempat ikut Ayahnya K.A. Giring III di Giring. Tidak selang begitu lama, dirinya bepergian ke arah timur laut hingga sampai di wilayah Karangmojo. Tempat K.A. Wonokusumo tinggal adalah Desa Gedangrejo. Di wilayah ini K.A. Wonokusumo mencoba mengumandangkan adzan. Kumandang adzanc K.A. Wonokusumo ternyata tidak nyaut, tidak terdengar dari Giring, Sodo, dan Bayat. Juru kunci Daryanto menambahkan, begitu juga dalam berkomunikasi, wilayah Gedangrejo tidak tersambung dengan wilayah Giring, Sodo, dan Bayat.

Menyadari keadaan ini, K.A. Wonokusumo mencari tempat yang lebih tinggi. Sampailah beliau di Wonotoro, Jatiayu, yaitu tempat makam beliau sekarang. Dari situ lah komunikasi antara tiga wilayah, yaitu Giring, Sodo, dan Bayat dapat tersambung. Diceritakan kemudian, beliau adalah pemuka agama dan pemimpin di wilayah tersebut.

Dalam perjalanan hidupnya, K.A. Wonokusumo sempat merasakan masa penjajahan Belanda. Beliau dianggap sebagai musuh yang membahayakan pihak Belanda. Saat itu, saat orang-orang Belanda mencari keberadaannya, beliau disembunyikan oleh sembilan sahabatnya. Sembilan sahabat itu bernama; Eyang Joyo Lelono, Eyang Joyo Prakoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Ny Resemi, dan Nyi Joimanuk. Para sahabat menjawab pertanyaan pihak Belanda bahwa K.A Wonokusumo sudah meninggal.

Saat ditanya mengenai kapan terjadinya peristiwa ini, juru kunci menjawab bahwa waktu meninggalnya K.A. Wonokusumo  dihubungkan dengan jawaban kesembilan sahabat tersebut. Kemudian dilestarikan oleh masyarakat sekitar hingga kini sebagai bentuk peringatan, bernama Madilakhiran.Makam kesembilan sahabat K.A. Wonokusumo  berada di tiga bangunan yang disebut lintring, yang berada di sekitar bangunan utama makam, yaitu joglo yang menjadi letak batu nisan K.A Wonokusumo.

Berdasar cerita juru kunci terdahulu, sebelum diganti dengan batu, nisan K.A. Wonokusumo yang asli ketika pertama kali ditemukan oleh warga berupa kayu. Nisan kayu yang diganti dengan batu lantas ditaruh di atas gebyok (penutup nisan berbahan kayu berbentuk balok). Gebyok berukuran 3m x 3m x 1,5m dan berpintu satu telah ada sejak pertama kali keberadaan makam diketahui oleh warga.

“Bangunan Joglo sebagai pelindung (rumah) makam itu pernah direhab oleh panitia Madilakiran. Sebelumnya atap joglo berasal dari kayu atau disebut sirap, lantas diganti genteng semen.Waktu itu pembiayaan rehab joglo selain diupayakan bersama panitia peringatan juga mendapat dukungan dari para peziarah” , kisah Daryanto.

Joglo tempat makam K.A Wonokusumo ini berbeda dengan tempat tinggal pada umumnya. Selain berukuran tidak begitu luas, tinggi tiangnya hanya 1,25 meter, sedangkan atap tengah memiliki tinggi 3 meter. Dalam perkembangannya, para peziarah yang merasa doa dan keinginannya terkabul lantas ikut membantu perehaban dan perawatan bangunan, berupa perbaikan lantai, eternit, cat dan lainnya.

Dilanjutkan oleh Daryanto, ada juragan sapi yang ikut membantu perehaban joglo, membangun lintring, serta cerobong asap tempat pembakaran kemenyan, yaitu warga berkebangsaan Cina. Pengembangan pembangunan di sekitar makam sebagian besar dibiayai para peziarah. Adanya makam K.A Wonokusumo dan para sahabatnya itu menjadikan area sekitar makam menjadi pemakaman umum. Namun demikian pengembangan lokasi tidak diperbolehkan berkembang ke arah utara, artinya tidak boleh berada di tempat yangi lebih tinggi dibanding makam K.A. Wonokusumo. Seperti petilasan atau makam yang disakralkan pada umumnya, setiap malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon dikunjungi banyak peziarah, yang jumlahnya mencapai ratusan, terutama saat musim kemarau.

Hal lain yang terkait dengan cerita K.A. Wonokusumo adalah tokoh ini menyukai kesenian terbangan. Diyakini oleh masyarakat, saat sebuah kelompok seni terbangan sedang mengadakan latihan, beliau datang untuk melihat, namun hanya juru kunci yang pertama saja yang dapat mengetahui dan berkomunikasi dengan beliau. Diceritakan pula, dulu ketika Sultan Hamengku Buwana IX memerintah, gambaran keluhuran Kraton Yogya yang ditandai dengan wujud pancaran sinar-sinar cahaya dari berbagai pelosok yang menuju kraton pada saat hari jumat, pancaran sinar dari makam K.A. Wonokusumo lah yang paling terang, paling kuat, atau malah bisa dikatakan satu-satunya tempat yang memancarkan cahaya dibanding makam/petilasan pepundhen kraton yang lain.

Juru kunci dan warga pelestari tradisi Jumadilakhiran. KH/ Kandar
Juru kunci dan warga pelestari tradisi Jumadilakhiran. KH/ Kandar

Tradisi Jumadilakhiran

Meskipun hari meninggalnya K.A Wonokusumo bukan merupakan hari sesungguhnya, karena peristiwa kematian K.A Wonokusumo hanya kabar yang disampaikan oleh para sahabatnya untuk mengelabuhi pihak Belanda, namun sebagai bentuk peringatan, masyarakat mengadakan tradisi jumadilakhiran. Tradisi jumadilakhiran atau sering diucapkan madilakhiran masih lestari, berjalan sejak puluhan tahun silam hingga saat ini. Jumadilakhiran dilaksanakan pada setiap Bulan Jumadil Akhir. Puncaknya pada hari Senin atau Kamis antara tanggal 20-25 Bulan Maret Tahun Masehi.

Selama hampir sebulan sebelum hari H, masyarakat serta peziarah dari berbagai kota bahkan dari Sumatra dan Kalimantan, telah datang di lokasi untuk ikut merayakan. Para peziarah yang datang biasanya memiliki hajat. Ada yang hajatnya telah terkabul dan pada peringatan berikutnya tetap datang. Ada yang datang untuk berdoa demi sebuah hajat. Yang hajatnya terkabulkan atau belum, mereka ikut menyumbang. Daryanto bertutur, “Yang pernah sambat-sebut atau mengucapkan nadhar dan akan menyumbangkan sesuatu saat madilakhiran, maka mereka datang memenuhi janjinya. Janji itu semisal: menyembelih sapi, kambing, ayam, atau menyumbangkan kebutuhan masak yang lain. Doa dan permohonan para peziarah mengenai berbagai hal, misalnya mengenai usaha dagang, jodoh, pekerjaan, pendidikan, sakit, naik pangkat, dan lainnya”. Macam-macam nadhar itu, Daryato mencontohkan, bisa berupa: setelah sembuh dari sakit akan menyembelih sapi saat madilakhiran dilaksanakan; jika diterima bekerja akan menyembelih ayam; jika usaha dagangnya laris akan menyembelih kambing; dan seterusnya. Semua itu dilakukan sebagai wujud syukur para peziarah.

Gambaran prosesi madilakhiran seperti ini: mereka, para peziarah lokal maupun peziarah dari berbagai kota seperti Jakarta, Bali, Mojokerto, Tulungagung, Surabaya, Solo, Klaten, serta Kalimantan dan Sumatra, berkelompok berjumlah 20 hingga 30-an orang. Mereka berkelompok, berada di rumah-rumah warga di tiga padhukuhan, yakni Wonotoro, Warung, dan Banjardowo, bergabung dengan warga dari bebagai kota yang jumlah keseluruhannya mencapai 500-an orang. Warga tiga padukuhan ini memang masih melestarikan tradisi madilakhiran: Padukuhan Wonotoro ada 170 warga, Banjardowo ada 100-an KK, sedangkan Padukuhan Warung sekitar 130-an KK. Mereka melaksanakan nyadran: menyembelih dan memasak apa yang di sumbangkan oleh peziarah. Saat memasak tidak diperkenankan untuk mencicipi makanan. Tetapi anehnya, makanan yang telah dimasak selalu saja ‘pas’ bumbunya. Setelah makanan masak lalu dikendurikan, dibagi ke sekitar, dan dimakan bersama. Setelah itu mereka mendatangi Makam K.A Wonokusumo bersama juru kunci untuk berdoa, menyampaikan maksud (hajat), atau mengucap syukur telah melunasi nadhar.

Karena kegiatan madilakhiran ini sudah diakui oleh pemerintah sebagai tradisi kebudayaan dan even wisata, maka pada setiap dilaksanakannya tradisi madilakhiran setiap tahun dihadiri pihak-pihak terkait, seperti: dari Kraton Yogyakarta, Disbudpar, Pemkab, Kodim, Polres, Muspika, pihak desa, tokoh, dan tamu undangan lain. Prosesi madilakhiran atau wilujengan K.A. Wonokusumo sebagai even budaya berupa kegiatan syukuran dengan kendhuri bersama. Setelah kendhuri usai, masakan dihidangkan untuk disantap bersama. Demi mendukung prosesi madilakhiran atau wilujengan K.A. Wonokusumo ini, Disbudpar Gunungkidul membangun sebuah joglo di sebelah barat makam, tujuannya agar bisa digunakan untuk prosesi acara tiap tahunnya, yang sering dihadiri oleh peziarah dari kota-kota yang jauh.

Karena kota asalnya yang jauh, terkadang para peziarah harus menginap sebelum pulang. Ada keyakinan, jika ada peziarah yang hadir di acara ini dapat membawa pulang bunga tabor, sekaligus membawa pulang air sendang Panti Tirta Jaya yang berada di sebelah barat makam, yang debit kucuran airnya selalu saja tetap meski kemarau atau hujan deras, maka permohonannya akan terkabul.

(KH/Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar