Kisah Bunuh Diri di Wintaos: Sudiyanto Tidak Tega Orang Lain Susah

Suasana salah satu sudut Dusun Wintaos Girimulyo Panggang 02/10/2017. Dok: Kandar

PANGGANG, (KH),– Minggu,01 Oktober 2017 lalu peristiwa kemanusiaan kembali terjadi. Sudiyanto (45) diketemukan meninggal di kandang ternak tak jauh dari rumah tinggalnya. Jasadnya ditemukan Suliyanto (21), menantunya, dalam posisi tergantung di kandang sapi di alas Grengseng, Padukuhan Wintaos, Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang.

Hasil pemeriksaan petugas Polsek Panggang dan Puskesmas Panggang II menunjukkan tidak ada tanda-tanda kriminalitas. Oleh pihak yang berwenang tersebut, Sudiyanto dinyatakan meninggal karena bunuh diri. Banyak pihak dibuat heran. Motif apa yang membuat Sudiyanto mengambil jalan pintas tersebut. Pertanyaan tersebut muncul diantara warga di sekitar tempat tinggal Sudiyanto. Sudiyanto dikenal berkepribadian baik, tidak ada persoalan di dalam keluarga maupun perselisihan dengan tetangga.

“Ia juga menjalani keseharian sebagaimana warga tani pada umumnya. Semangat ke ladang, kerja tebang kayu, dan lain-lain. Kenapa Sudiyanto tega terhadap dirinya sendiri?” Itu isi hati yang dilontarkan Dukuh Wintaos Sudiyono saat ditemui KH Selasa, (2/10/2017) lalu. Sebagai tetangga dekat yang rumahnya hanya dipisahkan jalan, Sudiyono bagaimanapun masih merasakan suasana duka yang dialami keluarga. Ia masih tertegun dan keheranan terhadap peristiwa tersebut.

Sudiyono meyakini, permasalahan yang dihadapi warganya tersebut bukan perkara perekonomian keluarga. Sebab, Sudiyanto tiga hari sebelum bunuh diri baru saja membeli satu ekor sapi. Bahkan tidak lama sebelumnya ia baru saja mengadakan hajat melangsungkan pesta perkawinan anak sulungnya. Dari situ, sang kepala dukuh ini meyakini bahwa perkara ekonomi bukan menjadi penyebabnya. KH juga mengamati, rumah tinggal keluarga Sudiyanto berupa rumah kayu joglo juga menunjukkan perekonomian keluarganya di atas rata-rata warga sekitarnya.

Saat Sudiyono memperbincangkan kejadian yang baru saja menimpa warganya kepada KH, ia mencoba menelusuri dan menyampaikan beberapa hal penting. Sebagai dukuh sekaligus tetangga yang rumahnya hanya berbatas jalan kampung, Sudiyono cukup tahu bahwa Sudiyanto memiliki kesehatan fisik yang bugar.

Dalam pergaulan masyarakat desa, Sudiyanto dikenal sebagai orang yang baik pergaulannya. Orangnya pendiam, tidak mau membuat repot orang lain. Satu hal yang diingat sang Dukuh adalah, Sudiyanto ini halus hatinya. Terlebih kepada anak-anak, ia tak pernah berbuat kasar, termasuk dalam ketika ia berbicara sekalipun.

Lantas, Sudiyono lelaki kelahiran 1963 ini mencoba menarik jauh kebelakang. Ia menceritakan riwayat kehidupan Sudiyanto yang ia ketahui.

“Saat Sudiyanto masih kecil, ibunya bercerai dengan bapak tiri. Beranjak tua, ibunya jompo dan sakit lumpuh. Sudah ada sekitar 20-an tahun ia merawat ibunya yang jompo itu,” urai Sudiyono.

Merawat ibu sembari menjalani kehidupan pribadi hari demi hari dilakukan Sudiyanto. Tak pernah Sudiyanto mengeluh tentang kondisi keluarganya. Sudiyono cukup paham, Sudiyanto tak ingin merepotkan tetangga atau membebani pikiran orang lain atas segala sesuatu yang dihadapi. Itu diketahui Sudiyono melalui ungkapan dan ucapan terimakasih seolah tak habis disampaikan oleh Sudiyanto ketika para tetangga pernah membantu kerepotan keluarganya.

Sudiyono juga mengungkapkan, Sudiyanto juga dikenal sebagai warga yang tidak tega melihat peristiwa yang menyedihkan. Ketika menjumpai sesuatu peristiwa yang memprihatinkan dirinya tak sampai hati.

“Pernah saat istrinya menahan sakit yang teramat sangat saat hendak melahirkan anaknya yang saat ini masih TK, ia justru merasa sangat sedih tidak tega. Kesedihan Sudiyono saat itu justru diungkapkan dengan cara membentur-benturkan kepalanya di dinding,” kisah Sudiyono.

Sudiyono, Dukuh Wintaos Girimulyo Panggang saat memberikan keterangan kepada KH 02/10/2017. Dok: Kandar.

Sudiyono melanjutkan cerita. Dalam merawat ibunya, Sudiyanto dibantu anak pertama. Anak yang belum lama dinikahkan itu semenjak mulai dewasa sudah dapat diajak bekerja sama mengatasi kerepotan keluarga. Membantu segala jenis kerepotan keluarga, termasuk merawat nenek atau ibu dari bapaknya, Sudiyanto.

Rutinitas keseharian keluarga memang tak mampu sepenuhnya dikerjakan oleh Sudiyanto. Lebih-lebih istrinya juga sedang menderita diabetes. Ketika mengalami kekambuhan, upaya pengobatan dan perawatan juga cukup merepotkan.

“Sepertinya, itu yang menjadi beban pikiran Sudiyanto. Setahu saya dirinya memang tak mau berkeluh atau bercerita kepada tetangga,” imbuh Kepala Dukuh yang supel itu.

Sikapnya yang enggan merepotkan orang lain, menurut Sudiyono membuat almarhum lebih sering memendam rasa dan berusaha menanggung sendiri beban pikiran yang dialami. Sebelum kejadian yang memilukan yang menimpa Sudiyanto, diketahui anak bungsunya juga sedang mengalami sakit batuk.

“Belakangan, putri sulungnya yang telah menikah itu hendak diajak pindah ke rumah suami. Meski hanya berjarak puluhan meter saja dari kediaman Sudiyanto, sepertinya itu menjadi beban,” terang Sudiyono.

Sudiyono juga menepis anggapan bahwa kematian Sudiyanto karena pengaruh pulung gantung. “Warga di dusun kami rata-rata sudah tidak mempercayai hal seperti itu menjadi penyebab bunuh diri,” ungkapnya. Pada saat kejadian memang ada warga yang meminta agar tanah di bawah lokasi gantung diri itu digali untuk dicari “gelu’-nya. Warga sudah menggali dan mencari. Tetapi butiran tanah yang disebut gelu tersebut tidak ditemukan.

“Saat ini, setiap malam sepanjang 7 hari kami mengikuti doa yasinan di rumah almarhum. Itu yang mampu kami lakukan untuk menemani dan mengurangi duka keluarga yang ditinggalkan,” pungkas Sudiyono, yang saat ditemui sedang menabur benih padi di ladangnya. (Kandar)

 

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar