Kinclong Dan Harumnya Toilet SMKN 3 Wonosari Sampai Tingkat Nasional

Kepala SMKN 3 Wonosari, Dra Susiyanti Mpd dan Cahyaningsih selaku innovator. KH/ Kandar
Kepala SMKN 3 Wonosari, Dra Susiyanti Mpd dan Cahyaningsih selaku innovator. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Diawali dengan adanya toilet bau dan kotor membuat Guru IPA SMKN 3 Wonosari ini prihatin. Cahyaningsih sang innovator akhirnya berniat membuat suatu gerakan agar toilet tidak kotor, atau bahkan sering mampet karena kecerobohan siswa lantaran sampah atau bekas pembalut yang menyumbat saluran.

Inisiatif ini dimulai tahun 2013 silam, sebagai guru IPA ia menganggap ini merupakan tanggung jawabnya. Mulailah ia dengan menggunakan jam ekstrakurikuler IPA untuk mengadakan lomba kebersihan toilet.

Awalnya kedengaran aneh,namun kegiatan ini tetap berjalan, sebelum dan sesudah dibersihkan toilet di foto terlebih dahulu sebagai bukti. “Sehingga praktis setiap kali ada pembelajaran IPA toilet selalu bersih. Lantas muncul pertanyaan, masak toilet bersih kalau ada pelajaran IPA saja, kemudian warga sekolah yang lain mulai memberikan dukungan,” ujar Cahyaningsih menceritakan awal inovasinya dimulai, Kamis, (7/4/2016).

Pengembangan demi pengembangan dilakukan, beberapa siswa yang aktif dalam kegiatan tersebut membentuk sebuah komunitas, yaitu Komunitas Pecinta Toilet Bersih, komunitas ini mayoritas anak perempuan, lantas mereka berniat membuat toilet khusus perempuan, yakni toilet BSJ (Bersih sehat dan Jujur).

Pada toilet tersebut, jelas dia, terdapat sebuah almari yang berisi pembalut, celana dalam atau kebutuhan kewanitaan lainnya. Siapa saja yang mengambil kebutuhan di almari tersebut meski tanpa penjaga langsung membayar sendiri, atau menulis nama dan kelas apabila belum membawa uang.

“Manfaat dari inovasi ini cukup terasa, penurunan jumlah siswa yang tiap bulan ijin pulang lebih dulu karena haid tadinya antara 6-10 anak kini tinggal 1 anak saja atau bahkan tidak ada,” imbuh dia.

Dia menyebutkan, perkembangan selanjutnya, yakni dengan membuat Majalah dinding (Mading) yang ditempelkan di toilet, ini dilakukan karena para siswi tidak hanya ingin sebatas toilet bersih saja, tetapi juga ada pengembangan pengetahuan.

“Pengembangan inovasi mading adalah keinginan mereka untuk mengetahui dan memahami penanganan datang bulan yang baik, ditambah lagi materi kesehatan reproduksi,” kata Cahyaningsih lagi.

Beberapa anggota aktif, lebih jauh dijelaskan,  selain mengisi Mading dengan materi serupa mereka juga mengadakan coaching clinic kepada siswa lain, dalam hal ini sebelumnya anggota aktif telah memperoleh pembekalan dari BPMPKB.

Mereka menjadi guru sebaya, siswa yang mendapat pembekalan melayani konsultasi teman-temannya, hal ini untuk menghindari perasaan siswa canggung apabila bertanya kepada orang yang lebih tua, diinformasikan, komunitas diikuti sebanyak 90-an anggota siswi SMKN 3 Wonosari.

Hal inilah yang lantas ketika ada lomba inovasi pelayanan publik/ One agency one inovassion kategori responsive gender untuk dua tahun berturut-turut 2015-2016 SMKN 3 Wonosari selalu meraih prestasi.

Mendapat apresiasi penghargaan dari Menteri Pendayagunaan aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menjadi atas inovasi “One Stop Service Toilet, Trandsetter gaya Hidup Remaja Peduli Kesehatan Reproduksi” sebagai TOP 99 inovasi pelayanan publik, kemudian untuk tahun ini dilanjutkan penilaian TOP 35 ditingkat nasional.

Kepala Sekolah, Dra Susiyanti Mpd mengaku bangga atas prestasi yang sebelumnya tak disangka akan sampai hingga tingkat nasional tersebut. Menurutnya, inovasi dari konsep yang sederhana serta mudah dalam penarapan membuatnya mendapat penghargaan.

“hal ini lebih kepada menggugah kesadaran dan motivasi siswa, ternyata hal sekecil apapun apabila bermanfaat akan memperoleh apresiasi. Hal ini juga berkaitan dengan pembangunan karakter anak,” ulasnya.

Karenanya, beberapa sekolah telah melakukan kegiatan serupa, mereplikasi apa yang telah dilakukan SMK N 3 Wonosari, diantaranya; SMK N 1 Wonosari, SMK Muhammadiyah 1 Wonosari, dan SMK Muhammadiyah Karangmojo. Bahkan sekolah setingkat SMP, dalam waktu dekat juga akan mulai menerapkan.

“Pernah juga mendapat kunjungan Tim Kabupaten Sehat dari Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat mengadakan studi banding,” pungkas Susiyanti. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar