Ki Surameja, Leluhur Desa Karangmojo yang Menentang Kekuasaan Mataram Kartasura

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Situs pemandian kuno di Pongangan, salah satu tempat ketika masa hidup Ki Suromejo. KH/ Kandar
Situs pemandian kuno di Pongangan, salah satu tempat ketika masa hidup Ki Surameja. KH/ Kandar

KARANGMOJO, (KH)— Sebelum berdirinya Gunungkidul, sebagaimana  umumnya diketahui didahului dengan adanya permukiman desa bernama Pongangan yang dipimpin oleh tokoh Ki Surameja. Ia disebut merupakan keturunan R. Dewa Katong.

Saat itu, wilayah Gunungkidul masih merupakan hutan belantara, terdapat suatu desa yang dihuni beberapa orang pelarian Kerajaan Majapahit. Desa yang dipimpin oleh R. Dewa Katong saudara Raja Brawijaya tersebut bernama Pongangan, letaknya berada sebelah utara Kantor Balai Desa Karangmojo saat ini.

Setelah R Dewa Katong pindah ke desa Katongan, 10 km di sebelah utara Pongangan, puteranya yang bernama R. Surameja membangun Desa Pongangan, sehingga semakin lama semakin ramai. Beberapa waktu kemudian, perkembangan penduduk di daerah Pongangan itu didengar oleh raja Mataram Sunan Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kartasura. Kemudian raja Mataram tersebut mengutus senopati Ki Tumenggung Prawiropekso agar membuktikan kebenaran berita tersebut.

Setelah dinyatakan kebenarannya, Tumenggung Prawiropekso menasehati dan meminta R. Surameja agar meminta ijin atau bergabung ke raja Mataram Kartasura. Hal ini karena daerah tersebut dianggap masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Mataram.

Dalam versi ini diceritakan, karena R. Surameja tidak mau, akhirnya terjadilah peperangan yang mengakibatkan R.Surameja tewas. Begitu juga 2 anak dan menantunya. Ki Pontjodirjo yang merupakan anak R Surameja akhirnya menyerahkan diri, kemudian oleh Pangeran Sambernyawa diangkat menjadi Bupati Gunungkidul yang pertama.

Versi yang berbeda diungkapkan Sukiman Siswa Suganda, sesepuh sekaligus mantan dalang, warga Padukuhan Sanggrahan Desa Umbulrejo Kecamatan Ponjong. Menurut Sukiman, sebelum Desa Karangmojo, lebih dahulu yang dihuni dan dijadikan pemukiman adalah Desa Pongangan (Balai Desa Karangmojo saat ini ke arah utara). Diceritakan, trah Majapahit memang dianggap menjadi cikal bakal warga desa ini.

Sukiman yang pernah menjadi anggota panitia pelacak hari jadi Gunungkidul pada tahun 1985 ini menuturkan, bahwa keturunan Jaran Panoleh yang bubar ke Gunungkidul memiliki keturunan Raden Kenduruan yang kemudian memiliki keturunan Ki Surameja. Memang tokoh-tokoh yang disebut apabila ditelisik berdasar sumber-sumber lain juga menjadi tokoh di wilayah lain di luar Gunungkidul.

Kemiripan cerita yang dituturkan Sukiman dengan versi pertama terletak pada datangnya bala tentara Mataram Kartasura yang meminta agar Ki Surameja mengakui atau masuk ke wilayah yang dipimpin Sunan Amangkurat Amral. Diriwayatkan, wilayah di mana Ki Surameja tinggal memang dikenal belum menjadi bagian atau masuk ke dalam wilayah pemerintahan suatu kerajaan. Mereka hidup secara berkelompok dalam permukiman desa dengan merdeka. Pada waktu itu Surameja menolak, bahkan ketika diminta secara paksa ia melawan. Surameja diketahui sebagai tokoh digdaya, rombongan bala tentara dari Mataram Kartasura bahkan sempat ditumpas habis oleh Ki Surameja dan para pengikutnya.

Pengiriman bala tentara kembali dilakukan oleh raja Mataram Kartasura. Dikisahkan pasukan yang datang waktu itu dipimpin Ki Tumenggung Prawiropekso. Peristiwa perang dan kejar-kejaran antara pasukan Mataram dan R Surameja inilah yang menyertai penamaan wilayah-wilayah atau titik atau blok di seputaran wilayah Karangmojo. Nama-nama tersebut tetap dikenal atau dipakai sebagai nama tempat hingga saat ini.

Sewaktu aksi kejar-kejaran, kuda (jawa: jaran) milik musuh Surameja mati, kemudian lokasi terjadinya kejar-kejaran tersebut dinamai Jaranmati. “Musuhnya kewalahan hingga terheran-heran dengan keampuhan Ki Suromojo,” tutur lelaki berusia 82 tahun ini beberapa waktu lalu. Di tengah buncah, dan keder mengahadapi Ki Surameja, bala tentara Mataram Kartasura menanyakan perihal kesaktian Ki Surameja kepada saudara Ki Surameja sendiri. Tokoh yang dimintai petunjuk ini dikemudian waktu menjadi Demang Jaranmati Karangmojo.

Aksi kejar-kejaran terjadi lagi, berdasar petunjuk bahwa kesaktian Ki Surameja berada pada sebuah jimat, yakni berupa tusuk konde yang dikenakan di rambutnya. Rambut Ki Surameja sangat panjang, singkatnya oleh musuh tusuk konde dipanah.  Konde (gelungan) atau ikatan rambutnya terlepas, sehingga jimat atau pusaka jatuh. Kemudian rambut Ki Surameja menjuntai terjela hingga menyentuh tanah. Masih dalam aksi kejar-kejaran, lantas kaki Ki Surameja kegubet (terikat tidak sengaja) oleh rambutnya sendiri. Peristiwa ini terjadi di sebelah barat Jaranmati, atau sebelah selatan Pongangan, sehingga kawasan ladang di wilayah tersebut dinamakan Dokgubet. Itulah pengingat peristiwa yang dialami Ki Surameja.

“Karena kegubet itu, ia berhasil ditangkap oleh bala tentara Mataram Kartasura. Setelah ditangkap, ia disidang yang kemudian hendak dibunuh,” papar mantan dalang wayang kulit senior ini. Ki Surameja berpesan kepada anak cucu keturunannya. Karena ia sudah kalah, jika warga akan ikut atau masuk menjadi bagian Mataram Kartasura atau juga menganut agama baru dipersilahkan, tetapi jangan sampai meninggalkan adat tradisi.

Versi kemunculan nama Desa Karangmojo sendiri, oleh Sukiman disebut mulai ada atau saat Bethara Katong (salah satu putra Prabu Brawijaya) singgah atau menempati sebuah “karang” atau tempat yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon Maja, sehingga tempat tersebut hingga saat ini bernama Karangmaja (kini: Karangmojo). Mengenai waktu terjadinya peristiwa penamaan wilayah ini masih memiliki runtutan cerita dengan perjalanan Ki Surameja.

KH berusaha mencoba melacak makam atau petilasan Ki Surameja, namun berdasar keterangan tokoh sepuh setempat tidak diketahui keberadaannya. Beberapa situs kuno yang disebut menjadi tempat aktivitas zaman dahulu yakni sebuah pemandian, berupa sebuah mata air, sumber air atau belik bernama situs Pongangan. Di sebelah utara sumber air di situs Pongangan saat ini berupa kawasan pertanian atau sawah masyarakat.

Surameja yang pada akhirnya diriwayatkan terbunuh, terpotong lehernya terjadi pada hari pasaran Pahing, sehingga hingga saat ini hari pasaran tersebut dihindari oleh sebagian besar warga Karangmojo apabila akan melaksanakan hajatan apapun.

Menurut penuturan Sukiman, apabila dikaitkan dengan Bupati pertama Gunungkidul, Mas Tumenggung Pontjodirjo, ia menganggap jika Tumenggung Pontjodirjo bukanlah anak R Surameja seperti yang disebut pada tulisan-tulisan sejarah Gunungkidul pada umumnya. Sebab, setting waktu cerita tentang tokoh R. Surameja terlalu lampau apabila disebut sebagai ayah dari Pontjodirjo. Sesuai cerita tutur yang pernah diterima Sukiman, disebutkan bahwa Pontjodirjo merupakan anak Ronggo Pontjo Jiwo asal dari Ngawen. Pontjodirjo memiliki 4 saudara yakni: Ny Minto Wijoyo, Pontjo Sadewo, Tambak Ganggeng, dan Pontjo Benawi.

Lantas, generasi berikutnya sebagai penerus yang menduduki pemerintahan Kademangan Jaranmati merupakan anak turun adik Ki Surameja, yakni Demang Poncowaseso. Berdasar keterangan Waluyo, tokoh seni budaya warga Jaranmati, Ki Poncowaseso memili 10 anak, di antaranya Ki Josetiko, Ki Demang Kertowedono, Nyi Pari, Ki Demang Mangundikoro, Nyi Tumbu, Ki Sabarudin, Ki Muhamad, Ki Poncowijoyo, Ki Ronojemiko, dan Ki Potrosono. (Kandar)

Komentar

Komentar