Ki Ageng Giring dan Awal Mula Desa Sodo

oleh
Mas Bekel Anom Surakso Fajarudin, Juru Kunci Makam Ki Ageng Giring III. KH/ Kandar

PALIYAN, (KH)— Menurut sejarah lisan, sosok Ki Ageng Giring III yang keberadaan makamnya berada di Desa Sodo Paliyan, erat kaitannya dengan awal mula Kerajaan Mataram yang kemudian pecah menjadi Keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Menyertai kisah Ki Ageng Giring III ternyata sekaligus juga sebagai awal cerita terbentuknya Desa Sodo. Disampaikan beberapa waktu lalu oleh salah satu juru kunci Makam Ki Ageng Giring III Yusuf Fajarudin atau dengan julukan Mas Bekel Anom Surakso Fajarudin, bahwa kisah ini terjadi sekitar tahun 1500 M.

Dalam penuturannya, Ki Ageng Giring III berasal dari keturunan kerajaan Majapahit yakni anak Brawijaya IV sedangkan sahabat atau dianggap adiknya Ki Ageng Pemanahan merupakan keturunan dari Brawijaya V. Keduanya mengembara ke Kraton Pajang, berguru kepada Sunan Kalijaga. Lambat laun terjadi perpecahan atau geger di Kraton Pajang yang mengakibatkan wahyu kraton oncat atau pergi dari Kraton Pajang tersebut.

Kemudian, Ki Ageng Giring III atau yang memiliki nama kecil Raden Mas Kertanadi mendapat bisikan perintah dari Sunan Kalijaga, disuruh  untuk mencari wahyu kraton, pergilah Ia bersama Ki Ageng Pemanahan atau yang sewaktu kecil bernama Ki Bagus Kacung ini. Ditunjuk oleh Sunan keduannya untuk pergi ke wilayah yang sekarang dikenal dengan sebutan Gunungkidul.

Ki Ageng Giring III menempati wilayah Sodo Paliyan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan di Kembanglampir, Girisekar, Panggang. Selama bertahun-tahun, ia bercocok tanam dan menyebarkan Agama Islam. Suatu saat ada perintah berupa bisikan suara lagi untuk menanam sepet kering (kulit kelapa) oleh Sunan, kemudian ditanamlah sebuah kulit kelapa, lalu lambat laun tumbuh cikal atau tunas kelapa yang kemudian menjadi pohon kelapa.

“Berbuahlah pohon kelapa tersebut. Terdapat satu buah degan atau kelapa muda yang hijau dengan sebutan gagak emprit,” kata juru kunci. Ungkap Mas Bekel, itulah wahyu keraton yang dicari-cari.

Sementara itu juga, Ki Ageng Pemanahan sedang bertapa atau semedi di Kembanglampir. Semedi ini juga bertujuan untuk mengetahui dan mendapat petunjuk keberadaan wahyu keraton. Pertanda wahyu keraton mulai ada, Ki Ageng Giring III mendapat bisikan lagi yang berasal dari buah kelapa muda atau degan Gagak Emprit. Isi bisikan bahwa siapa bisa meminum seketika sampai habis air kelapa muda Gagak Emprit maka keturunannya akan menjadi raja-raja di tanah Jawa.

Lantas buah tersebut dipetik lalu ditaruh di dapur (paga), yaitu sebuah rak besar tempat menyimpan hasil tani atau ada juga yang untuk menyimpan peralatan dapur. Sebelum berangkat ke ladang, Ki Ageng Giring III berpesan kepada istrinya. “Nyi jangan ada yang meminum degan ini, ini sangat penting,” begitulah Yusuf menirukan atau mengira-ira bunyi pesan suami Nyi Ageng Giring. Ki Ageng Giring III berencana meminum degan tersebut saat pulang dari ladang, pada saat haus supaya terasa segar, sekaligus agar dapat meminumnya sampai habis.

Sementara itu, dalam semedinya, Ki Ageng Pemanahan juga mendapat wangsit bahwa wahyu keraton sudah diterima kakaknya Ki Ageng Giring III. Kemudian ia jengkar atau menyelesaikan semedinya.  Ia kemudian bergegas menuju kediaman sahabat tuanya Ki Ageng Giring III di Sodo.

Sesampainya di rumah, Ki Ageng Pemanahan lantas menuju dapur, tahu bahwa di dapur ada sebuah degan di atas paga (tempat menaruh hasil tani), maka ia meminta ijin kepada Nyi Ageng Giring untuk meminumnya. “Mbakyu, Kang Mas dimana?, saya akan meminum air kelapa itu,” tanya Ki Ageng Pemanahan. “Jangan Dimas, nanti kakakmu marah,” jawab Nyi Ageng Giring.

“Tidak apa-apa Mbakyu, kalau ada apa-apa saya yang bertanggung jawab,” Mas Bekel seolah bermain drama menceritakan kisah tersebut. Ki Ageng Pemanahan memang sedikit memaksa, karena tahu bahwa wahyu kraton ada di degan tersebut. Bersamaan, pada saat itu Ki Ageng Giring sedang jamas atau mandi di Kali Nyamat.

Seperti cerita turun temurun, orang jaman dahulu memang mempunyai perasaan cukup peka atau waskita. Begitu pula dengan Ki Ageng Giring III, ia pun merasa kecolongan, tahu dan sangat merasa kehilangan ia menangis. Air mata yang menetes di bebatuan itu membuat batuan berlubang, retak atau pecah (Bahasa Jawa: gowang), sehingga di sungai tempat ia mandi hingga kini disebut Kali Gowang. Ini menjadi pengingat di mana saat Ki Ageng Giring III hatinya sedih, patah atau gowang. Lantas dikejarlah Ki Ageng Pemanahan oleh Ki Ageng Giring III, dengan maksud untuk meminta dikembalikan, atau meminta bagian keturunan dari wahyu kraton. Sembari berjalan dan terus mengejar, ia meminta kepada Ki Ageng Pemanahan, permintaan agar keturunannya dapat bergantian menjadi raja terus dilontarkan.

Komentar

Komentar