Ketekunan Katit Rintis Kerajinan Tatah Sungging Wayang Hingga Banjir Orderan

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kerajinan tatah sungging karya Suhardi alias Catit. KH/ JNE.

GEDANGSARI, (KH)— Mempelajari suatu bidang hingga menjadi mahir memang dibutuhkan ketekunan. Apabila ketekunan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan sebagai ahli, bisa dipastikan produk barang dan jasa yang dihasilkan dari seorang yang ahli tersebut akan dibayar mahal.

Sepeti yang dialami Suhardi (30), Warga Dusun Jatibungkus, Desa Hargo Mulyo, Kecamatan Gedangsari ini, belajar kerajinan tatah sungging sejak SMP, kini ia memetik buah hasil ketekunan dan kerja kerasnya.

Ditemui KH beberapa waktu lalu, ia mengatakan, belajar tatah sungging wayang berawal dari hobinya melukis sejak SD. Lantas ketika masuk usia SMP ia menyalurkan hobinya tersebut pada bidang kerajinan tatah sungging, salah satu jenis kesenian di bidang seni kriya.

Seni tatah sungging merupakan perpaduan seni tatah dan sungging. Seni tatah berhubungan dengan pembuatan seni stilasi, sedangkan seni sungging berkaitan erat dengan pemberian warna pada pola. Sehingga kedua hal tersebut dapat dipadukan menjadi seni tatah sungging.

Lelaki yang akrab di panggil Katit ini menuturkan, belajar tatah sungging wayang dengan seorang yang ahli di wilayahnya berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, atau selama ia menempuh pendidikan SMP.

Guru tatah sungging, Semi Hadi Carito, dianggap Catit menjadi orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Dalang Wayang tersebut mengantarkan Catit piawai dalam membuat karya tatah sungging berupa berbagai tokoh atau karakter wayang kulit.

“Saya berani memulai membuat kerajinan tatah sungging wayang dengan membeli bahan mentah berupa kulit basah kemudian diproses sekitar tahun 2006,” ungkap Catit.

Meski sudah ahli dalam membuat, upaya promosi dan mengenalkan karyanya diakui ternyata juga tidak mudah. Awalnya ia pasarkan di lingkungan tempatnya tinggal. Kemudian melebar di wilayah lingkup Desa Hargo Mulyo.

Pekerjaan rutin membeli kulit-kulit basah lalu menjemur kemudian mengerik atau mengerok kulit, menatah dan seterusnya dilakukan. Sembari ia gigih terus menerus mengenalkan produk kerajinannya. Satu pesan dari orang terdahulu selalu ia ingat sebagai penguat dalam menjalankan usaha tersebut, pesan tersebut berbunyi “golek jeneng kuwi angel, nanging yen wis duwe jeneng, jenang moro dewe,” (mencari/ membuat citra/ nama itu susah, tetapi kalau sudah punya nama/ citra rejeki datang sendiri).

Benar saja, adanya kemajuan dunia internet khususnya sosial media menjadi berkah baginya. Sekitar 4 tahun lalu ia mencoba mengenalkan produknya secara online. Kini pesanan dari berbagai kota datang, tak hanya dari dalam negeri bahkan pesanan dari luar negeri menghampiri.

“Terkadang saya tolak karena kewalahan. Pesanan datang dari Bali, Nusa Tenggara Barat, Jakarta bahkan pernah ada pesanan dari Jepang,” ujarnya senang. Ditambahkan, sejak tahun 2010 pesanan dari Jakarta seolah tidak pernah berhenti. (JNE)

Komentar

Komentar