Kereta Dorong, Masih Menjadi Primadona

oleh

WONOSARI, kabarhandayani.– Kereta dorong adalah salah satu alat transportasi yang digunakan sebagian petani di Padukuhan Karangasem, Desa Mulo, Kecamatan Wonosari. Kereta ini dibuat menggunakan bodi kayu dan ban dari bearing atau laker bekas yang didapat dari bengkel-bengkel motor ataupun mobil.

Sejak dulu, secara umum petani desa Mulo menggunakan kereta dorong sebagai alat transportasi pengangkut hasil pertanian atau sekedar membawa hijauan makanan ternak. Kereta ini dibuat dengan memanfaatkan bahan kayu, dibuat berbentuk kotak, dengan ukuran tertentu, memiliki empat roda, memanfaatkan bearing (laker) bekas.

Alat transportasi sederhana ini akan dimanfaatkan untuk mengangkut hasil pertanian atau barang-barang yang dibawa ke ladang atau dari ladang ke rumah. Kereta dorong sampai saat ini masih digunakan oleh beberapa masyarakat di pedesaan. Meski kemajuan teknologi berkembang pesat, alat transportasi yang tidak menimbulkan polusi ini keberadaannya masih terjaga.

Menurut petani setempat, Mujiyem, kereta ini sangat membantu dirinya untuk membawa hasil pertanian pulang. Di usianya yang hampir 60 tahun, ibu empat orang putra ini lebih sering memanfaatkan kereta dorong dari pada harus menggendong hijauan makanan ternak dari sawah yang jaraknya hampir 3 kilometer.

“Kereta ini kuat membawa beban berat, kita dorongnya juga mudah, dari pada harus menggendong lebih mudah menggunakan kereta ini,” kata Mujiyem saat ditemui sepulang dari ladangnya di jalan Baron, Jumat ( 27/6/2014).

Mujiyem mengaku, untuk membuat satu unit kereta dibutuhkan uang sekitar Rp 200.000,00. Bearing (laker) sebagai roda biasa dibelinya dengan harga Rp 20.000,00 untuk satu pasang. sedangkan sisanya untuk upah tukang dan membeli bahan kayu, jenis kayu akasia dipercaya yang paling kuat untuk membuat kereta dorong tersebut. (Juju/Hfs)

Komentar

Komentar