Kerajinan Lampu Antik Semin Tembus Pasar Internasional

Lampu-lampu antik karya Rusmani. insert: seorang pekerja sedang mengecor alumunium. KH/ JNE.

SEMIN, (KH),– Berdasar data, angka kemsikinan di Gunungkidul masih tergolong tinggi. Masyarakat yang terjerat permasalahan ekonomi masih cukup banyak. Dengan kenyataan minimnya lapangan kerja, sehingga kemandirian masyarakat untuk mendirikan wirausaha menjadi salah satu upaya solusi mengatasinya.

Ada begitu banyak ragam bidang wirausaha yang dirintis warga Gunungkidul sesuai daya cipta masing-masing. Salah satu jenis wirausaha yang tergolong artistik berupa kerajinan lampu gantung antik yang dijalankan warga Semin, Rusmani (55).

Siapa sangka, karya warga Padukuhan Garotan, Desa Bendung ini diminati pasar, tak hanya lokal akan tetapi hingga menembus pasar internasional.

“Pada saat dirintis dari tahun 1981 oleh orang tua awalnya hanya membuat lampu taman saja. saya melanjutkan usahanya, kemudian tahun 1989 saya mencoba membuat lampu kuno,” tutur Rusmani belum lama ini.

Meski pengerjaannya tanpa menggunakan mesin atau alat-alat modern beberapa negara menerima produk lampu bikinan Rusmani. Berulang kali dirimya mengirim produk-produknya ke Yunani, Belanda, Brunei Darusalam, Malaysia dan lain-lain.

Untuk mendukung kelancaran produksi Rusmani melibatkan warga sekitar sebagai pekerja. Mereka semua terdiri dari kaum laki-laki, sebab jenis pekerjaan terbilang berat yang lazim dilakukan oleh pria. Salah satu rutinitas pekerjaan yang biasa dilakukan yaitu pengecoran logam besi dan alumunium.

Dalam satu bulan bersama 5 karyawan Rusmani mampu membuat sebanyak 200 lampu kuno. “Terkadang tidak sampai 200 jika yang dibuat berukuran besar dengan ragam variasi yang agak rumit,”jelasnya.

Saat pesanan sepi, Rp.5 juta menjadi jumlah omzet yang kerap ia peroleh. Wirausaha pembuatan lampu kuno ini tergolong industri rumahan  dengan hasil yang cukup besar, sebab ketika permintaan seang tinggi hasil keuntungan dalam sebulan bisa mencapai puluhan juta.

Hasil yang didapat selain sebagai pemenuhan kebutuhan rumah tangga, Rusmani juga tak banyak menemui kesulitan mengantarkan ketiga anaknya lulus sekolah jenjang SMA.

Sambungnya, bahan baku alumunium dengan mudah ia peroleh dari solo. Sedikit mengulas teknis pembuatan, setelah diencerkan alumunium masuk kedalam wadah cetakan yang terbuat dari cor beton.

Dirinya berharap, produksi lampu antiknya semakin berkembang sehingga dapat memperkerjakan karyawan lebih banyak lagi, secara otomatis mengurangi jumlah pengangguran yang ada di dusunnya. (JNE)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar