Kenapa Seseorang Ingin Pamer Alat Kelamin?

oleh
ilustrasi. foto: istimewa.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Selasa, (22/5/2028) lalu terjadi peristiwa asusila di Wilayah Semanu. Tindakan asusila tersebut dilakukan oleh seorang lelaki bermotor. Oknum yang diketahui berambut keriting tersebut melakukan masturbasi di hadapan seorang anak putri, Ay yang masih berusia 8 tahun.

Berdasar informasi yang dihimpun, sepulang dari mengaji, Ay berjalan pulang sendirian. Setelah memasuki gang kampung ia di dahului pelaku yang mengendarai sepeda motor. Beberapa meter berada di depan Ay, pengendara putar balik hingga berada di belakang Ay berjalan.

Rupaya pelaku memastikan kondisi jalan dalam keadaan sepi. Ay tidak menghiraukan gerak gerik pelaku. Setelah itu pelaku menghampiri Ay yang masih berjalan. Lantas pelaku menanyakan alamat, saat itulah pelaku melancarkan aksinya, yakni mengeluarkan alat kelamin kemudian melakukan masturbasi.

Ay berusaha menghindar namun pelaku berusaha menahan dengan terus melontarkan pertanyaan. Beberpa saat berlangsung masturbasi yang dilakukan pelaku hingga mengeluarkan sperma.

Ditanya terkait fenomena tersebut, dokter spesialis kejiwaan sekaligus Psikiater RSUD Wonosari, dr. Ida Rochmawati, Sp. KJ., menilai bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan yang mengarah Eksibisionisme.

“Exhibionisme adalah kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan organ vital atau alat kelaminnya kepada orang asing atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih intim,” jelasnya.

Menurutnya, pelaku biasanya memiliki problem psikologis yang membuatnya kesulitan dalam mengendalikan ego. Penanganan secara komprehensif terkait gangguan jiwa yang dialami dapat dilakukan namun perlu pendalaman kasus serta pemeriksaan kepada pelaku.

Ida menegaskan, selain perlunya penanganan terhadap pelaku, tidak kalah penting mengntisipasi dampak yang ditimbulkan pada anak yang melihatnya.

“Karena berpotensi menimbulkan persepsi negatif tentang aktivitas seksual yang berdampak saat anak kelak dewasa, oleh karena itu pendampingan orang tua dan konsultasi dengan ahli sangat diperlukan,” tukasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar