Kemarau, Warga Bikin Sumur-Sumur Kecil Mengais Sisa Air Telaga

Warga di Kecamatan Rongkop mengambil air dari sumur-sumur kecil yang dibuat setelah dasar telaga mengering. KH/ Wibowo.

RONGKOP,(KH),– Kemarau panjang yang menyebabkan krisis air di Kabupaten Gunungkidul membuat ratusan telaga sebagai salah satu tampungan air hujan mulai mengering. Dampak keringnya telaga ini mulai dirasakan oleh warga Dusun Ngricik, Desa Melikan Kecamatan Rongkop.

Warga yang biasa memanfaatkan air telaga untuk berbagai kebutuhan seperti memberi minum ternak, mencuci bahkan untuk memasak terpaksa harus mengais air dari sumur yang dibuat diarea telaga yang mulai mengering.

Bukan karena alasan tidak kuat membeli air dari tangki swasta, namun inisiatif warga mengambil air dari lubang-lubang sumur kecil buatan dengan kedalaman 15 cm tersebut sebagai salah satu cara menghemat air yang dilakukan oleh warga. Sebab harga satu tangki air bersih ditempat ini mencapai Rp.150 hingga Rp. 200 ribu untuk kapasitas tangki 5.000 liter.

Menurut warga setempat, Narni, Telaga Banteng merupakan satu-satunya telaga yang menjadi tampungan air hujan di dusun tersebut. Sejak mengering 4 bulan lalu, dasar telaga sudah tidak lagi tergenang air hujan sebagai cadangan saat musim kemarau. Persoalan pemenuhan air diperparah dengan belum masuknya jaringan air bersih milik pemerintah.

“Kita buat sumur-sumur kecil seperti ini, lalu kita tunggu airnya keluar. Jika nanti sudah terisi kami ambil untuk dibawa pulang,” ujar Narni kepada sejumlah media saat ditemui di seputar telaga Minggu, 16 Juli 2017 lalu.

Warga lainya, Watini menambahakan, air tangki seharga Rp. 150- Rp. 200 ribu dengan kapasitas 5.000 liter tersebut jika digunakan secara terus menerus akan habis dalam waktu yang cukup singkat , yakni 2 minggu saja.

Sehingga untuk menghemat air bersih, belasan warga disekitar telaga tetap memanfaatkan sisa-sisa air telaga. Meski dalam kondisi air yang keruh, warga tetap memanfaatkan air tersebut untuk mencukupi berbagai kebutuhan.

Dugi griyo mangkih kajenge bening rumiyen, nembe diagem ngombor sapi, (sampai rumah dibiarkan mengendap atau tidak keruh, baru kami gunakan untuk memberi minum sapi,” ucap Watini.

Hampir setiap pagi dan sore, belasan warga silih berganti mengambil air dengan jerigen dan beberapa ember. Warga memperkirakan, satu bulan kedepan simpanan air di telaga Banteng akan habis sehingga tidak lagi bisa dimanfaatkan.

Warga hanya berharap intensitas droping air yang dilakukan oleh pemerintah dapat ditingkatkan. Sehingga bantuan air bersih tersebut dapat mencukupi kebutuhan air 40 kepala keluarga yang ada di dusun tersebut.

“Sudah menjadi rutinitas kita mengambil air seperti ini. Ya itung-itung sekalian olah raga, ” tutur ibu dua orang putra tersebut.

Kecamatan Rongkop Kabupaten Gunungkidul memang menjadi salah satu wilayah yang mengalami krisis air bersih pada musim kemarau. Selain kecamatan tersebut ada 6 kecamatan lain di Gunungkidul juga mengalami nasib yang sama.

Data Badan Penanggulanagan Bencana Daerah (BPBD) terdapat 45 ribu jiwa dari 7 kecamatan dikhawatirkan akan mengalami krisis air bersih sebagai dampak musim kemarau. (Wibowo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar