Keajaiban Nasi yang Dieleri: Asal-Usul Nama Desa Ngleri Playen

oleh
Peta rupabumi Desa Ngleri dan sekitarnya dalam google maps April 2018. KH/Googlemaps

Sejarah asal-usul wilayah dan tangkar-tumangkar-nya masyarakat Desa Ngleri Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul tak dapat dipisahkan dengan nama-nama para tokoh yang bernama Kyai Potrojoyo, Ki Drepojoyo, Ki Honggojoyo, dan seorang pertapa perempuan pelarian Majapahit bernama Raden Ayu Tanjungsari. Pada waktu dahulu, desa disebut dhusun. Desa Ngleri pada jaman dahulu disebut sebagai padhusunan yang bernama Karangkuwang atau Pocung. Karangkuwang merupakan permukiman yang subur di tengah hutan lebat kawasan pegunungan sebelah timur negara gung Mataram yang saat itu berpusat di Pleret.

 

Nama Desa Ngleri berasal dari “ngeleri”. Berawal dari kisah sebuah peristiwa kenduri di pertapaan Kalilara atau Song Putri yang diselenggarakan oleh Raden Ayu Tanjungsari dan para pengikutnya dan juga diikuti oleh rombongan Ki Honggojoyo yang baru dalam perjalanan pulang ke Karangkuwang setelah sekian tahun mengabdi kepada raja Mataram di Pleret.

Pada saat kenduri terjadi peristiwa ajaib. Nasi gurih yang “dieleri” atau yang diambil dari kendil penanak nasi dan kemudian ditumpahkan ke papan nasi serta dibagi-bagikan dengan wadah daun jati ke peserta kenduri tidak ada habisnya. Semua peserta kenduri dari kedua rombongan mendapatkan pembagian nasi tanpa kurang sedikitpun. Guna mengingat peristiwa tersebut, Sri Tanjungsari berpesan kepada Ki Honggojoyo, agar Dhusun Karangkuwang yang akan menjadi tempat tinggal Ki Honggojoyo dan sanak saudaranya diberi nama “Ngeleri” atau “Ngleri”.

Berawal dari Babad Karangkuwang

Sebelum bernama Ngleri, desa ini bernama Dhusun Karangkuwang atau Pocung. Dhusun Karangkuwang sebelumnya merupakan hutan lebat didominasi vegetasi jati (tectona grandis). Dibabat atau dibuka oleh Kyai Potrojoyo dengan maksud sebagai permukiman untuk keluarga, para anak cucunya, dan para pengikutnya. Kyai Potrojoyo dan istri adalah seorang tokoh yang gemar berkelana, ia tangguh gentur tapane, tangguh laku prihatinnya.

Pohon asem, salah satu pohon dan lokasi yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Ngleri. KH/Kandar.

Ditarik ke belakang, Kyai Potrojoyo disebutkan merupakan salah satu anak dari tokoh bernama Awallul Wadad. Awallul Wadad sendiri adalah salah satu anak dari seorang tokoh sufi dari negeri Ngerom (Kekaisaran Turki Ustmani) bernama Syekh Bakir yang untuk sementara waktu tinggal di lereng Gunung Merapi. Disebutkan kemudian, Awallul Wadad tetap tinggal di tanah Jawa, sedangkan Syekh Bakir kembali ke negerinya. Di kemudian hari, anak-anak Awallul Wadad menyebar ke berbagai tempat.

Sewaktu muda, Ki Potrojoyo suwita atau mengabdi menjadi prajurit di Kerajaan Mataram. Dikisahkan, ia menjadi salah satu prajurit andalan Mataram. Selesai mengabdi, sebelum membuka dhusun Karangkuwang, ia sempat tinggal sementara di sebuah wana atau hutan di sebelah barat Karangkuwang yang bernama Sumbermulya. Pembukaan dhusun Karangkuwang tercatat dimulai pada Sabtu Wage 11 Sapar 1594 Jawa atau 29 Juli 1670 Masehi. Sebagai penanda, Kyai Potrojoyo membuat sumur atau belik yang sekarang bernama Sumur Talang.

Kyai Potrojoyo dan para pengikutnya bersama-sama membangun dusun dan mengupayakan kesejahteraan bagi warganya. Pada suatu saat, ia bertemu dengan seorang lelaki sepuh yang hidup seorang diri yang telah tinggal di dusun tersebut. Lelaki tersebut bernama Santangrono. Disebutkan kemudian bahwa pertemuan Kyai Potrojoyo dan Santangrono menjadikan mereka menjadi saudara dekat. Ketika Santangrono meninggal, ia dimakamkan di makam Ngasem Dhusun Ngleri.

Karangkuwang di kemudian hari menjadi dusun yang berkembang. Kyai Potrojoyo menjadi sesepuh dusun dan cikal bakal warga dhusun Karangkuwang. Disebutkan, Kyai Potrojoyo berputra 2 orang, laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki selanjutnya dikenal sebagai Ki Drepojoyo dan anak perempuan yang kemudian diperistri seorang pemuda dari Gunung Dhanyangan yang bernama Ki Honggojoyo. Diketahui, Gunung Dhanyangan pada saat ini adalah sebuah alas atau hutan di sebelah utara Desa Banaran (sekarang: lokasi Dhanyangan merupakan bukit kecil di sebelah kiri jalan sebelum memasuki gerbang Hutan Wanagama).

Singkat cerita anak turun Kyai Potrojoyo melalui kedua putranya tangkar-tumangkar, menurunkan anak-cucu-buyut, dan seterusnya, yang kemudian menjadi warga masyarakat Desa Ngleri.

Makam para leluhur cikal-bakal warga Desa Ngleri. KH/Kandar.

Kisah Alas Dhanyangan

Di wilayah Alas Salak (sekarang: di sebelah utara Desa Banaran) terdapat Gua Tuban. Di tempat itulah Raden Bondan Surati seorang pelarian Majapahit melakukan nenepi sekaligus menyembunyikan diri. Dalam keseharian dan upaya penyamarannya, ia menjadi pande besi, tukang pembuat perkakas dan senjata dari logam. Karena bertempat tinggal di tengah hutan, maka Bondan Surati kemudian juga disebut sebagai Pangeran Pengalasan.

Di Goa Tuban tersebut, Bondan Surati juga bersahabat akrab dengan penduduk setempat yang tinggal di hutan sebelah timur Goa Tuban. Di kemudian hari, Bondan Surati juga memiliki istri dari warga setempat dan berputra 1 anak laki-laki. Anak laki-laki tersebut kemudian dikenal sebagai tokoh yang bernama Kyai Dhanyangan. Tempat tinggalnya di Alas Dhanyangan.

Sebelum Bondan Surati pindah ke wilayah selatan, ia melihat bahwa wilayah di sebelah selatan Alas Dhanyangan merupakan tempat yang subur (bawera atau banar, yang berarti hamparan luas dan datar), sehingga ia berpesan kepada Kyai Dhanyangan agar tempat tersebut dapat menjadi permukiman bagi para anak-cucu Kyai Dhanyangan agar diberi nama Banaran.

Singkat cerita, Kyai Dhanyangan memiliki anak laki-laki bernama Honggojoyo. Di kemudian hari, Honggojoyo menikahi anak perempuan Kyai Potrojoyo dari Karangkuwang, sehingga terjadi bebesanan antara Kyai Potrojoyo dengan Kyai Dhanyangan.

Honggojoyo Mengabdi kepada Raja Mataram

Semenjak Ki Honggojoyo menikah dengan anak perempuan Kyai Potrojoyo, ia kemudian tinggal di Karangkuwang. Ia menjadi anak menantu yang sembada. Mampu berbakti kepada Kyai Potrojoyo mertuanya dan Kyai Dhanyangan ayahnya yang tinggal di sebelah dusun Karangkuwang.

Pada suatu ketika, datang utusan dari kerajaan Mataram Pleret ke Dhusun Karangkuwang. Utusan tersebut membawa perintah raja yang memanggil kembali Kyai Potrojoyo untuk kembali mengabdi ke Mataram. Dikisahkan, pada saat itu Mataram Pleret sedang diserang pemberontakan Trunajaya dan pasukan Brang Wetan.

Berhubung Kyai Potrojoyo sudah sepuh, pada akhirnya ia mengutus anak menantunya, yaitu Ki Honggojoyo untuk berangkat ke Mataram. Ia mewakili mertuanya untuk kembali mengabdi kepada raja Mataram. Sebelum berangkat ke Kraton Pleret, Ki Honggojoyo berpamitan dan memohon doa restu kepada mertua dan juga ayahnya di Gunung Dhanyangan.

Disebutkan kemudian, pengabdian Ki Honggojoyo di Kraton Mataram sangat mengesankan para pembesar kerajaan. Ia ditugaskan sebagai prajurit pengawal raja Mataram Susuhunan Amangkurat. Ia juga terlibat dalam berbagai pertempuran dalam tugas mengamankan raja.

Runtuhnya kraton Pleret atas serbuan pasukan Trunajaya pada akhirnya membuat raja Mataram Susuhunan Amangkurat mengungsi ke arah barat. Dari Jenar, rombongan Amangkurat disertai putra mahkota Adipati Anom kemudian melanjutkan perjalanan pengungsian ke Bumiayu Banyumas. Dalam perjalanan pengungsian tersebut, sang raja wafat dan dimakamkan di Tegalarum pada tahun 1677 M. Wafatnya sang raja kemudian diikuti dengan jumenengan sang putra mahkota menjadi raja dengan gelar Susuhunan Amangkurat Amral di Banyumas pada Rabu Kliwon 25 Sapar 1601 Jawa atau 28 Mei 1677 M.

Ketika masih di Jenar, Susuhunan Amangkurat memerintahkan Pangeran Puger, adik putra mahkota untuk kembali menyusun kekuatan militer dan merebut istana Pleret yang dikuasai Trunajaya dan pasukannya. Pada Jumat Legi 17 Bakdamulud 1601 Jawa atau 17 Juli 1677, Pangeran Puger yang bekedudukan di Jenar mendapat kabar bahwa ayahnya telah wafat dan dimakamkan di Tegalarum. Mengetahui hal tersebut dan mengira kakaknya sang putra mahkota benar-benar melaksanakan niatnya untuk beribadah haji ke Mekkah, kemudian Pangeran Puger menyatakan diri menjadi raja pengganti dengan gelar Susuhunan Ngalaga ing Jenar.

Disebutkan  bahwa, bahwa Ki Honggojoyo diperintahkan menjadi salah satu pemimpin pasukan untuk menyertai Pangeran Puger merebut kembali kraton Pleret. Disebutkan pula kemudian, setelah Pangeran Puger jumeneng nata, Ki Honggojoyo diangkat menjadi senopati perang dengan nama Purbonegoro.

Dikisahkan kemudian, terjadi pertempuran besar antara pasukan Susuhunan Ngalaga ing Jenar dengan pasukan Trunajaya di Dusun Jogoboyo Kebumen. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Susuhunan Ngalaga pada akhirnya dapat memukul mundur pasukan Trunajaya. Pasukan Trunajaya terus dapat dipukul dan dikejar sampai akhirnya kembali ke Pleret. Sesampai di Pleret, Susuhunan ing Ngalaga mengetahui bahwa kondisi keraton rusak parah, banyak barang dan pusaka termasuk putri-putri kraton dijarah dan dibawa pasukan Trunajaya yang mundur ke Kediri.

Pada bulan Oktober 1677 M, Susuhunan ing Ngalaga atau Pangeran Puger kembali menegaskan diri menjadi raja Mataran di Pleret dengan gelar Susuhunan ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panataga. Disebutkan kemudian, pada Sabtu Pahing 26 Besar 1601 Jawa atau 21 Maret 1678, Ki Honggojoyo atau Purbonegoro diangkat sebagai Manggalayuda prajurit Mataram dan diberi anugerah istri abdidalem putri Keparak.

Singkat cerita, terdapat 2 raja di negara Mataram. Sang putra mahkota mengikrarkan diri sebagai Susuhunan Amangkurat Amral berkedudukan di Banyumas, sedangkan adik putra mahkota atau Pangeran Puger mengikrarkan diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panataga berkedudukan di sisa-sisa rentuntuhan Kraton Pleret. Di kemudian hari, atas bantuan para bupati pesisir dan VOC, Amangkurat Amral dapat menundukkan Trunajaya dan bermaksud membangun kraton baru di Wanakerta atau yang kemudian dikenal sebagai Kraton Kartasura.

Disebutkan kemudian, juga terjadi peperangan antara Amangkurat Amral di Kartasura dengan Susuhunan ing Ngalaga di Pleret untuk mempertahankan kedudukannya masing-masing. Pada akhirnya, sejarah mencatat terjadi perdamaian antara Amangkurat Amral dan Susuhunan ing Ngalaga. Susuhunan ing Ngalaga kemudian menyatakan kesetiaan kepada kakaknya dan menanggalkan gelar Susuhunan ing Ngalaga kembali memakai gelar Pangeran Puger. Di kemudian hari, Pangeran Puger juga pindah ke Kartasura dan membantu Amangkurat Amral dalam memerintah kerajaan.

Dikisahkan, sewaktu Pangeran Puger kembali ke Pleret dari Kartasura, ia memanggil para pengikutnya. Intinya siapa yang mau ikut dirinya ke Kartasura supaya mempersiapkan boyongan. Yang mau menetap tinggal di Pleret dipersilakan, dan yang mau kembali ke desanya masing-masing juga dipersilakan.

Ki Hongojoyo dan keluarga dan para prajurit pengikutnya termasuk bagian yang ingin pulang ke desa asalnya. Pada Sabtu Wage 17 Jumadilawal 1604 Jawa atau 14 Juli 1680 M, Honggojoyo menghadap Pangeran Puger untuk memohon diri pamit kembali ke Dhusun Karangkuwang. Pagi hari berikutnya, Ki Honggojoyo, istri dan para pengikutnya melakukan perjalanan dari kraton Pleret menuju ke timur ke arah perbukitan hutan di mana terletak Dhusun Karangkuwang.

Pertapaan Raden Ayu Tanjungsari di Song Putri

Disebutkan bahwa Pangeran Pengalasan atau Raden Bondan Surati memiliki kakak perempuan yang bernama Raden Ayu Tanjungsari. Ayu Tanjungsari tinggal di Song Putri, tempat sumber air yang berada di sebelah barat Karangkuwang. Di tempat itu, ia menjalani laku prihatin sehingga disebut Kalipepe. Pada suatu hari, datanglah Bondan Surati ke tempat tinggal Ayu Tanjungsari untuk memberitahukan, bahwa atas petunjuk gaib dari Yang Maha Kuasa, maka laku prihatin mereka sebagai pelarian Majapahit harus berpindah ke wilayah sebelah selatan. Sebagai penutup laku prihatin di Kalipepe, Ayu Tanjungsari kemudian menyiapkan ubarampe bermaksud melaksanakan kenduri untuk berpindah tempat.

Nama Ngleri Berasal dari peristiwa Nasi yang Dieleri

Setelah selesai mengabdi kepada kerajaan Mataram di Kraton Pleret, rombongan Ki Honggojoyo kembali pulang ke kampung halaman mereka di Dusun Karanguwang atau Pocung. Dusun Karangkuwang atau Pocung terletak di kawasan pegunungan dan hutan lebat di sisi sebelah timur negara agung Mataram.

Dalam perjalanan pulang, hampir sampai di Dhusun Karangkuwang, mereka melintas sumber air Song Putri, tempat di mana Raden Ayu Tanjungsari dan para pengikutnya melakukan lalu prihatin. Pada saat rombongan Ki Honggojoyo melintas, Ayu Tanjungsari dan para pengikutnya sedang mempersiapkan pelaksanaan kenduri.

Pada awalnya, para pengikut Raden Ayu Tanjungsari itu curiga melihat kedatangan rombongan orang asing yang masih berciri khas sebagai prajurit Mataram. Setelah diketahui maksud perjalanan mereka hanya sekadar melintas dan akan pulang ke kampung halaman, maka rombongan yang diketahui sebagai Ki Honggojoyo dan pengikutnya tersebut kemudian justru dipersilakan beristirahat di Kalipepe. Mereka diminta ikut kenduri penutup laku prihatin dan pindahan Raden Ayu Tanjungsari.

Pada saat kenduri di Kalipepe terjadi peristiwa ajaib. Nasi gurih yang dimasak dengan “Kendhil Merica” milik Raden Ayu Tanjungsari tersebut tiada habis sewaktu diambil dan “dieleri” atau ditumpahkan ke papan nasi serta dibagi-bagikan dengan wadah daun jati. Semua peserta kenduri dari kedua rombongan mendapatkan pembagian nasi tanpa kurang sedikitpun.

Guna mengingat peristiwa tersebut, Sri Tanjungsari berpesan kepada Ki Honggojoyo yang akan menetap di dhusun Karangkuwang, agar tempat yang akan menjadi tempat tinggal Ki Honggojoyo dan sanak saudaranya diberi nama “Ngeleri” atau “Ngleri”.

Nama itu sekaligus sebagai pengingat, bahwa laku prihatin dan perjalanan hidup para perintis dhusun dan sikap manekung kepada Gusti Pangeran Bawana Langgeng akan mendatangkan berkah bagi para anak-cucu yang bermukim di tempat tersebut.

Desa Ngleri dalam Konteks Masa Kini

Desa Ngleri pada saat ini merupakan salah satu desa yang berpemerintahan otonom dipimpin oleh Kepala Desa. Desa Ngleri seluas 986,42 ha atau 9,86 km2. Batas wilayah Desa Ngleri adalah sebagai berikut: Utara: Sungai Oya, Desa Beji dan Desa Pengkok Kecamatan Patuk, Timur: Desa Banaran, Selatan: Desa Getas, Barat: Sungai Oya dan Desa Muladan Kecamatan Dlingo Bantul.

Kondisi geografi dan topografi Desa Ngleri bervariasi, Ada tanah datar subur setengah persawahan, tanah tegalan dan pekarangan permukiman penduduk, dan tanah lereng-lereng perbukitan. Ketersediaan air tanah di Desa Ngleri terhitung termasuk mudah. Kedalaman sumur gali milik warga yang terdalam dalam kisaran 25-30 meter, sementara kedalaman sumur untuk kondisi permukiman yang mudah air dalam kisaran 10 meter.

Kepemilikan tanah di Desa Ngleri dapat dibedakan menjadi: 1) tanah yang dikuasai oleh pemerintah desa (tanah kas dhusun, tanah palenggah pamong, dan tanah pengarem-arem), 2) tanah yang dikuasai oleh pemerintah yaitu tanah kehutanan dan lain-lainnya, 3) tanah hak milik perorangan, 4) tanah kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarta (Sultan Grond).

Secara kewilayahan, Desa Ngleri terbagi ke dalam 8 wilayah Padhukuhan, yaitu: Ngluweng Puntuk Kulon, Puntuk Wetan, Ngleri Kulon, Ngleri Lor, Ngleri Wetan, Wonolagi, dan Jelok.

Jumlah penduduk Desa Ngleri pada tahun 2017 tercatat sebanyak 2.757 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.361 jiwa dan perempuan 1.396 jiwa. Sebagian besar penduduk berkarya petani, buruh tani, pekerja sektor swasta, dan sebagian kecil berkarya sebagai pegawai negara dan pamong desa. Dalam perjalanan waktu, terdapat juga warga Desa Ngleri yang merantau dan bekerja di berbagai kota besar.

Tingkat pendidikan warga Desa Ngleri cukup beragam, mulai dari tidak sempat bersekolah, tidak tamat SD, tamat SD/sederajat, tamat SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat, tamat Diploma-3, tamat Sarjana/D-4, dan terdapat beberapa warga yang tamat pendidikan Strata-2.

Balai Desa Ngleri Playen, simbol keberadaan Pemerintahan Desa Ngleri. KH/Kandar.

Adat kebiasaan, tata-cara dan tradisi perdesaan di Desa Ngleri terjaga dengan baik. Sebagai contoh, beberapa adat dan tradisi perdesaan yang masih dilaksanakan: rasulan atau bersih desa, nyadran (di Kalilara, Pesarean, dan Ngasem), ruwatan, upacara pager desa, suran/muludan, rejeban, ruwahan/selikuran/riyaya/besaran, upacara panyuwunan pertanian (ngocor, among rajakaya, tetanen), labuhan, metik (boyong Dewi Sri), gumbregan, dan memule balegriya. Demikian pula, berbagai tata cara tradisi perdesaan juga masih dilaksanakan, seperti tingkeban, brokohan bayu, tindikan, sunatan, mantenan, wilujengan tiyang seda, dan lain sebagainya.

Kegiatan kesenian perdesaan di Desa Ngleri juga masih berlangsung dengan baik. Desa Ngleri pada saat ini juga memiliki dalang pewayangan yang sering diminta masyarakat untuk menyuguhkan pergelaran wayang kulit, yaitu Mas Penewu Ki Simun Cermojoyo. Ki Simun Cermojoyo juga dikenal sebagai dalang yang sering diminta masyarakat untuk memimpin penyelenggaraan upacara ruwatan.

Pandangan Penulis

“Menulis sejarah desa itu sesungguhnya pekerjaan berat. Karena menulis sejarah desa tentu pasti ada kekurangan dan juga kelebihan di sana-sini. Ada pihak yang setuju, dan tentu ada pihak yang tidak setuju itu wajar. Oleh karena itu, pedoman kami dalam menulis sejarah desa adalah prinsip mikul dhuwur mendhem jero,” ungkap Supardal Projo Wirosaputro, ketua tim penulis kepada KH, Jumat (20 April 2018).

Kepala Desa Ngleri Drs Supardal Projo Wirosaputro, ketua tim Penulis Buku Dumadine Desa Ngleri. KH/Kandar.

Supardal yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Ngleri itu menerangkan beberapa kesulitan yang dihadapi tim penulis. Berbekal dengan catatan dan buku edisi terbatas yang telah disusun oleh para tokoh dan kepala desa terdahulu, tim penulis kemudian menyusun ulang sejarah terbentuknya Ngleri. Wawancara kepada para tokoh dan sesepuh desa/padhukuhan juga dilakukan untuk melengkapi keterangan-keterangan yang kurang.

Supardal juga berpandangan, menulis sejarah desa sesungguhnya menulis kejadian-kejadian di masa lampau dengan sumber-sumber lisan dari para sesepuh desa dan sumber-sumber tertulis yang ada. Menurutnya, menulis sejarah desa juga bersinggungan dengan cerita tutur atau cerita lisan dari masyarakat yang  tentunya terkandung hal-hal subjektif sesuai dengan keperluan hidup masyarakat pada jamannya.

“Kami berharap, sejarah Dumadine Desa Ngleri ini utamanya dapat menjadi penyemangat bagi warga Desa Ngleri dan para perantau dari Desa Ngleri agar mampu menjadi warga yang berguna bagi nusa dan bangsa,” pungkasnya.

Catatan Akhir Proses Penulisan Ulang:

Sumber utama penulisan ulang secara singkat oleh Kabar Handayani: Buku Dumadine Desa Ngleri, 2018. Buku tersebut disusun oleh Supardal Projo Wirosaputro, Dwi Yuswanto, dan Trigarto; ketiganya merupakan warga Desa Ngleri. Dalam proses penulisan ini para penulis juga mengikutsertakan Tulus Djoko Sarwono, seorang pensiunan guru dan wartawan sebagai pendamping. Karya tulis ini ditetapkan sebagai juara pertama lomba penulisan sejarah desa dalam Bahasa Jawa yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2018.

Metode yang digunakan para penulis dalam menyusun sejarah desa adalah dengan melakukan penulisan bersumber pada buku-buku catatan riwayat desa yang disusun para pinisepuh desa dan melakukan wawancara kepada para narasumber (para pinisepih desa yang masih sugeng sampai saat ini).

Acuan sumber-sumber tertulis yang digunakan para penulis: 1) S. Atmojo, Prawiro, dkk. 1984. Sujarah Ngleri. Buku cetakan terbatas. 2) Kyai Khalil Amat, Kyai Iman Dimedjo, dkk. 1983. Cathetan Pribadi lan Carita Rakyat Asal-Usul Ngleri. 3) Darmodjo, Sastro, R. 1983. Babad Ngleri: Klempakan Cathetan Saking Para Sepuh Desa Ngleri 1938-1983. Buku terbatas. 4) Marjono, Harjo. 1984. Pratelan Kepala Desa Ngleri Pengesahan Buku Sujarah Ngleri. Buku cetakan terbatas. 5) Monografi Desa Ngleri Tahun 2007. 6) Sumber-sumber tertulis lainnya adalah peraturan-peraturan terkait mulai dari UU, PP, Peraturan Pemerintah DIY, Maklumat Pemerintah DIY, Perda Kabupaten Gunungkidul, Peraturan Bupati Gunungkidul, dan Peraturan Desa Ngleri.

Para narasumber yang menjadi informan para penulis: Tugiyen (93) sesepuh Ngleri Lor, Ust Muhsin Alimi (46) tokoh agama Ngleri Lor, Radiyo (86) sesepuh Ngluweng, Suminto (48) Kepala Desa Banaran, dan H Muhari (70) tokoh masyarakat Ngleri Kulon.

****

Penulis ulang: Kandar. Penyelaras Akhir: Tugi Widi.

Komentar

Komentar