Karawitan

oleh
Festival Karawitan antar Kecamatan se-Gunungkidul, 2016
Festival Karawitan antar Kecamatan se-Gunungkidul, 2016. Foto: KH

Gendheng-gendhinge ginanti, sinelan sendhon
sindhenan, irama lemes embate, nyendari ande asmara,
mring sanggya kang miyarsa, ringgit tumenggeng raras rum,
rumeres ing karawitan
.
[Asmaradana, Wiwahan Dalem, Pigeaud, 1953]

Suara-musikal nan indah, sebagai bentuk purwa gendhing bernama Lokananta, di awal waktu, turun dari tawang: Suralaya (tempat para dewa), di puncak gunung. Bernada salendro.

Gunung yang satu-rupa dengan kethuk, kempul, kenong, dan gong!

(G)Ongngngngngng…..begini getaran yang mengawali pagelaran ringgit-purwa.

Gunung, sebagai wali kayon-jagad dan kehadiran alam, mengandung citarasa musikal dalam perwujudannya. Gunung menggelegarkan suara dari perut bumi: gara-gara. Realitas mikro alam berupa pancaran gelombang, yaitu gelombang-semesta atau gelombang-radio (gelombang-elektromagnetik/EW). Dengan bahasa frekuensi, yang oleh para wangsa tradisional di waktu purwa disimbolkan dengan tempat-tempat wingit di bumi yang ‘dikoneksikan’ ke tawang (langit, antaralaya, antariksa, gagantara, akasa), yang digambarkan beberapa tokohnya mampu menggapai wilayah gegana ini, atau ke alam multi-dimensi (alam lain; other-side), gelombang-semesta memiliki kelenturan dan panjang-gelombang yang tiada terkira untuk merambat (karamaya) ke segala penjuru semesta. Para leluhur membahasakan ketakberhinggaan tawang dengan penokohan Nawang Wulan, sementara itu wangsa manusia (penokohan Jaka Tarub) selalu mencoba tiada henti untuk mendalami-mengahayati wilayah ‘langit’ ini. Meskipun apa yang dilakukan oleh wangsa Jaka Taruban laksana cebol anggayuh lintang. Wangsa manusia mengidentifikasi dirinya bisa meraih langit (Nawang Wulan) sekaligus tidak. Mereka (wwang, wangsa, atau ras manusia) menciptakan bangunan-bangunan suci yang, tentu atas petunjuk dan wewarah Tawang/Langit, menyertakan konsep tawang di dalam konstruk-bangun-dirinya, yaitu awang-uwung atau wuwungan. Bangunan ini diberi bentuk estetika kayon dan sejenisnya sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah tarub (omah); replika giri yang menggelegar hingga menyundul langit (pilar-langit), disebut giria atau griya.  Bangunan-tubuh-manusia beserta bangunan-omahnya itu dimaksudkan untuk menghadirkan rasa-tawang agar membumi. Hadir di bumi. Hingga wangsa manusia (Jaka Taruban) ingin selalu menggapai omah-omah dengan Tawang.

Kita juga mengerti bahwa musik-universal alam (universal-music) mewujud di dalam suara pepohonan yang dirubuhkan untuk dandanan omah, untuk mendukung laku omah-omah ras manusia. Kayu tertiup angin. Kayu ambruk. Kayu digergaji. Logam dipukul. Batu dipecah. Batu bersenggolan dan bertubrukan. Bambu disisiki. Kayu dan bambu dijadikan lonjoran dan belahan. Pada akhirnya wilayah-wilayah teknologis dalam kebudayaan manusia harus sejalan dengan suara manusia dan alam. Siji, loro, telu! Tak selang begitu lama omah tegak berdiri. Omah adalah wadah manusia. Dengan demikian omah, sebagai wadah, tak lain merupakan penampung suara kehidupan: perut atau rahim manusia. Omah adalah sumber suara manusia. Omah disabdakan keluarga manusia dengan kata-kata: Om, atau Ong, atau Oing, yaitu kata-kata yang mengandung getaran/mantra kosmik. Mantra ini mengiringi aksi-aksi dalam kegiatan berbudayanya. Kata-kata dan suara manusia dinyanyikan, didendangkan, ditembangkan. Omah adalah sumber tembang. Leluhur Jawa mengatakan: tembang itu laguning tembung; kata-kata yang dinyanyikan (musik kata-kata). Dibuat lah luk, lekuk-lekuk, dan cengkok dalam tembang. Diciptakanlah, berlambar rasa dan karsa, wadah suara manusia yang disebut gamelan. Gamelan merupakan orkestra purwa, yaitu suara-suara musikal-universal yang lahir dari beraneka wadah alamiah yang menyertai keberadaan manusia. Gamelan, rohnya, lahir dari  suatu papan yang disebut omah. Isinya? Jelas: tawang! Udara! Atau odara, atau namu-namu. Produk suara gamelan, maka dari itu, kemenjadiannya ada yang dengan teknik didamu omahnya. Ada yang dengan teknik dipetik omahnya. Ada yang digesek. Ada yang dipukul atau digamel (gamel: pukul). Kata-asal gamel ini melahirkan istilah gamelan.

Meniup, memetik, menggesek, dan memukul adalah aksi-arkais manusia purwa yang telah dicontohkan oleh titah-supra (supra-human) di waktu purwa sebagai ejawantah eros (semangat-hidup) para leluhur meliputi dimensi profan dan sakral. Keempat aksi arkais tersebut merupakan gambaran penghayatan-cinta yang sangat dalam (untuk tak secara langsung mengatakan: aksi psiko-seksual) dan tinggi lewat instrumen gamelan. Kata-kerja yang berhubungan dengan kebendaan gamelan di atas digunakan untuk kerja: mamayu hayuning bawana (memperindah indahnya dunia).

Gamelan yang berbentuk pencon (susu) yang serupa dengan meru (gunung) dan omah (bangunan rumah manusia), atau berbentuk wilahan (bambu, kayu, logam) yang serupa dengan bilah kayu-bambu-logam untuk menyokong sebuah bangunan omah (rumah), atau berbentuk bumbung (bambu) yang serupa dengan perkakas makan-minum dan pekerjaan manusia, adalah bentuk-bentuk natural alam yang setelah diolah dengan akal dan rasa oleh manusia melahirkan gendhing. Gendhing adalah musikalitas gamelan yang dihasilkan dengan aksi ‘mengolah’ wadah (sifat kewanitaan atau keperempuanan secara eksplisit dan implisit) yang disebut instrumen gamelan itu tadi. Bahkan, leluhur Jawa memberi sebutan bagi orang yang ahli menciptakan instrumen gamelan pun dengan nama: gendhing.

Komentar

Komentar