Karawitan

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Festival Karawitan antar Kecamatan se-Gunungkidul, 2016
Festival Karawitan antar Kecamatan se-Gunungkidul, 2016. Foto: KH

Gendheng-gendhinge ginanti, sinelan sendhon
sindhenan, irama lemes embate, nyendari ande asmara,
mring sanggya kang miyarsa, ringgit tumenggeng raras rum,
rumeres ing karawitan
.
[Asmaradana, Wiwahan Dalem, Pigeaud, 1953]

Suara-musikal nan indah, sebagai bentuk purwa gendhing bernama Lokananta, di awal waktu, turun dari tawang: Suralaya (tempat para dewa), di puncak gunung. Bernada salendro.

Gunung yang satu-rupa dengan kethuk, kempul, kenong, dan gong!

(G)Ongngngngngng…..begini getaran yang mengawali pagelaran ringgit-purwa.

Gunung, sebagai wali kayon-jagad dan kehadiran alam, mengandung citarasa musikal dalam perwujudannya. Gunung menggelegarkan suara dari perut bumi: gara-gara. Realitas mikro alam berupa pancaran gelombang, yaitu gelombang-semesta atau gelombang-radio (gelombang-elektromagnetik/EW). Dengan bahasa frekuensi, yang oleh para wangsa tradisional di waktu purwa disimbolkan dengan tempat-tempat wingit di bumi yang ‘dikoneksikan’ ke tawang (langit, antaralaya, antariksa, gagantara, akasa), yang digambarkan beberapa tokohnya mampu menggapai wilayah gegana ini, atau ke alam multi-dimensi (alam lain; other-side), gelombang-semesta memiliki kelenturan dan panjang-gelombang yang tiada terkira untuk merambat (karamaya) ke segala penjuru semesta. Para leluhur membahasakan ketakberhinggaan tawang dengan penokohan Nawang Wulan, sementara itu wangsa manusia (penokohan Jaka Tarub) selalu mencoba tiada henti untuk mendalami-mengahayati wilayah ‘langit’ ini. Meskipun apa yang dilakukan oleh wangsa Jaka Taruban laksana cebol anggayuh lintang. Wangsa manusia mengidentifikasi dirinya bisa meraih langit (Nawang Wulan) sekaligus tidak. Mereka (wwang, wangsa, atau ras manusia) menciptakan bangunan-bangunan suci yang, tentu atas petunjuk dan wewarah Tawang/Langit, menyertakan konsep tawang di dalam konstruk-bangun-dirinya, yaitu awang-uwung atau wuwungan. Bangunan ini diberi bentuk estetika kayon dan sejenisnya sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah tarub (omah); replika giri yang menggelegar hingga menyundul langit (pilar-langit), disebut giria atau griya.  Bangunan-tubuh-manusia beserta bangunan-omahnya itu dimaksudkan untuk menghadirkan rasa-tawang agar membumi. Hadir di bumi. Hingga wangsa manusia (Jaka Taruban) ingin selalu menggapai omah-omah dengan Tawang.

Kita juga mengerti bahwa musik-universal alam (universal-music) mewujud di dalam suara pepohonan yang dirubuhkan untuk dandanan omah, untuk mendukung laku omah-omah ras manusia. Kayu tertiup angin. Kayu ambruk. Kayu digergaji. Logam dipukul. Batu dipecah. Batu bersenggolan dan bertubrukan. Bambu disisiki. Kayu dan bambu dijadikan lonjoran dan belahan. Pada akhirnya wilayah-wilayah teknologis dalam kebudayaan manusia harus sejalan dengan suara manusia dan alam. Siji, loro, telu! Tak selang begitu lama omah tegak berdiri. Omah adalah wadah manusia. Dengan demikian omah, sebagai wadah, tak lain merupakan penampung suara kehidupan: perut atau rahim manusia. Omah adalah sumber suara manusia. Omah disabdakan keluarga manusia dengan kata-kata: Om, atau Ong, atau Oing, yaitu kata-kata yang mengandung getaran/mantra kosmik. Mantra ini mengiringi aksi-aksi dalam kegiatan berbudayanya. Kata-kata dan suara manusia dinyanyikan, didendangkan, ditembangkan. Omah adalah sumber tembang. Leluhur Jawa mengatakan: tembang itu laguning tembung; kata-kata yang dinyanyikan (musik kata-kata). Dibuat lah luk, lekuk-lekuk, dan cengkok dalam tembang. Diciptakanlah, berlambar rasa dan karsa, wadah suara manusia yang disebut gamelan. Gamelan merupakan orkestra purwa, yaitu suara-suara musikal-universal yang lahir dari beraneka wadah alamiah yang menyertai keberadaan manusia. Gamelan, rohnya, lahir dari  suatu papan yang disebut omah. Isinya? Jelas: tawang! Udara! Atau odara, atau namu-namu. Produk suara gamelan, maka dari itu, kemenjadiannya ada yang dengan teknik didamu omahnya. Ada yang dengan teknik dipetik omahnya. Ada yang digesek. Ada yang dipukul atau digamel (gamel: pukul). Kata-asal gamel ini melahirkan istilah gamelan.

Meniup, memetik, menggesek, dan memukul adalah aksi-arkais manusia purwa yang telah dicontohkan oleh titah-supra (supra-human) di waktu purwa sebagai ejawantah eros (semangat-hidup) para leluhur meliputi dimensi profan dan sakral. Keempat aksi arkais tersebut merupakan gambaran penghayatan-cinta yang sangat dalam (untuk tak secara langsung mengatakan: aksi psiko-seksual) dan tinggi lewat instrumen gamelan. Kata-kerja yang berhubungan dengan kebendaan gamelan di atas digunakan untuk kerja: mamayu hayuning bawana (memperindah indahnya dunia).

Gamelan yang berbentuk pencon (susu) yang serupa dengan meru (gunung) dan omah (bangunan rumah manusia), atau berbentuk wilahan (bambu, kayu, logam) yang serupa dengan bilah kayu-bambu-logam untuk menyokong sebuah bangunan omah (rumah), atau berbentuk bumbung (bambu) yang serupa dengan perkakas makan-minum dan pekerjaan manusia, adalah bentuk-bentuk natural alam yang setelah diolah dengan akal dan rasa oleh manusia melahirkan gendhing. Gendhing adalah musikalitas gamelan yang dihasilkan dengan aksi ‘mengolah’ wadah (sifat kewanitaan atau keperempuanan secara eksplisit dan implisit) yang disebut instrumen gamelan itu tadi. Bahkan, leluhur Jawa memberi sebutan bagi orang yang ahli menciptakan instrumen gamelan pun dengan nama: gendhing.

Kemudian, ontologi kuna (ajaran makrifat) tentang gendhing diwujudkan suatu karya sastra berjudul Sastra-Gendhing oleh seorang raja-gunung bergelar Sultan Agung; berpasangan dengan karya tari Bedhaya Ketawang.

Para leluhur Jawa (Nusantara) yang telah membahasakan naturalitas alam ke dalam bentuk gendhing dan yang wadahnya diciptakan oleh seorang gendhing ini, kemudian menciptakan formula-kompleks seni karawitan. Karawitan atau kerawitan adalah kehalusan olah rasa manusia tentang alam yg diekspresikan dengan instrumen gamelan melalui kelembutan dan keluwesan gendhing-gendhingnya. Rawit itu lungid, atau lelungidan; suatu bentuk keindahan (kalangenan) yang landhep (tajam). Sifat lungid karawitan difungsikan sebagai titik-pijak, dasar, atau perangkat untuk menajamkan rasanya. Lungid adalah sifat lancip pada material-tajam seperti pisau atau welat (bilah kulit bambu). Orang desa memiliki istilah rawit/riwit yang dikenakan pada material lombok, yaitu lombok yang kecil tubuhnya namun begitu tajam-pedas rasanya. Sesuatu yang lungid bertujuan untuk mengajak manusia bergerak (mlampah) menuju kelepasan (liberasi) dan pencerahan (pepadhang). Rawit dapat pula diartikan luk (kelokan pada tubuh keris), atau lekuk-lekuk, sehingga di dalam karawitan terdapat luk-lekuk nada yang berhubungan dengan istilah-istilah seperti: laras, slendro, pelog, ladrang, ketawang, ulihan, sakgongan, notasi sindhenan, bawa, gerongan, buka, jineman, umpak-umpak, senggakan, pathetan, sulukan, ada-ada, dan lain-lain, serta berhubungan dengan unsur pendukung seperti: wiyaga, sindhen, nama-nama instrumen (kethuk-kenong-siter hingga gong, dll.), cakepan, dan lain-lain, yang kombinasi-kolaborasi antar bagian atau instrumennya mendukung satu orkestra kompleks yang disebut karawitan itu.

Karawitan, dalam ruang dan waktu tertentu, sebagai seni pertunjukan yang mandiri dalam makna tidak sedang sebagai pengiring seni pertunjukan lain, sering disebut klenengan. Klenengan adalah alunan orkestra gamelan-lengkap (instrumental) yang disuarakan oleh para penabuh dan vokalis (sindhen, gerong). Untuk keperluan tertentu seperti ewuh dan atau tarub (perayaan pernikahan di antara wangsa manusia; diwakili penokohan Jaka Tarub – Nawangwulan), alunan karawitan terkadang dilaksanakan dengan instrumen terbatas, tidak lengkap, hanya: gender, slenthem, gambang, siter, rebab, suling, gong, dan kendhang saja, dinamakan gadhon. Sementara itu istilah cokekan atau siteran merujuk pada alunan gendhing karawitan yang terbatas pada instrumen: kendhang, siter, dan gong saja; terkadang hanya siter dan vokalis thok. Seperti dua orang tukang mbarang masuk-keluar kampung, bapak-ibu, yang lelaki manggul dan memainkan siter, sementara yang perempuan nyindheni. Ada lagi yang disebut uyon-uyon, yaitu alunan gendhing karawitan yang lebih menonjolkan vokal dengan latar instrumen gamelan yang lirih (lirihan). Di lain waktu, jenis instrumen gamelan apa yang akan ditabuh kala pertunjukan karawitan bisa sangat luwes bergantung permintaan yang punya gawe. Jika perlu, dicampur dengan instrumen musik diatonis.

Gambaran tentang bagian tubuh karawitan di atas mengukuhkan bahwa ia (sebagai tubuh tunggal) atau mereka (sebagai organ-kolektif) berhubungan dengan kata lelemesan: sifat instrumen dan gendhing karawitan itu luwes dalam segi garap.

Pada awalnya, karena keluwesan (kelenturan), kenaturalan, dan kedinamisannya, karawitan digunakan sebagai pengiring berbagai seni pertunjukan lain, seperti: kethoprak (teater), wayang, dan tari. Di waktu-waktu kemudian karawitan madeg sendiri sebagai suatu pertunjukan/pementasan. Lemes adalah salah satu sifat karawitan yang bukan tanpa daya, namun mengandung keluwesan layaknya gemulai alam dan wanita. Alam adalah swanitta, kesucian atau kemurnian yang merdeka. Kemurnian alam ya gunung-menggelegar, kelok sungai, bening-telaga, mata-air yang suci, samudera tak bertepi, dan sebagainya. Sehingga karawitan sangat pas digunakan untuk menggambarkan kecantikan alam dan wanita beserta sifat-sifatnya.

Gemulai alam dan para penari wanita mendapatkan jodohnya: karawitan yang bersifat luwes.

Alam oleh wangsa manusia dilabeli sifat wanita/perempuan. Alam Gunungkidul diumpamakan seperti Si Thiwul; wanita paradesa yang cantik jelita. Pengembaraan Ketawang Puspawarna ke pelosok semesta laras dengan pengembaraan-erotik (eros) di titik tertinggi-terjauh kecantikan alam atau wanita/perempuan semacam ini: di pucuk kethuk, di puncak kenong, atau pusat gong. Organologi wanita/perempuan sejajar dengan organologi alam dan organologi gamelan, yang secara tekstual ditumpahkan di cakepan (syair) gendhingnya. Kerja budaya menumpahkan bahasa organik-instrumental-kewanitaan-alamiah berkenaan dengan gendhing karawitan biasanya dilakukan oleh seorang penghayat karawitan yang mumpuni (empu) atas perintah sang raja (syaila-indra; raja-gunung). Sang raja (penguasa; dalam konteks modern diwakili oleh yang menguasai kapital) lah yang mampu menggapai erotisme dan kealamiahan puncak gunung (salendro) atau perut bumi itu. Hasilnya hampir sama (stereotip) dengan apa yang diciptakan oleh Sultan Agung berupa tarian Bedhaya Ketawang, yaitu simbolisasi andon-asmara (percintaan) antara pemimpin wangsa Mataram (syaila-indra; raja-gunung) dengan sifat kewanitaan alam (tanah, kali, samudera); Nyi Rara, dalam gerak gemulainya. Karya tari ini terinspirasi oleh paratanda dari tawang tatkala Sang Raja Gunung mamuja-semedi. Gerak dan nyanyian wanita merupakan kombinasi yang begitu cantik (hayu). Ras manusia begitu asyik-masyuk menjelajahi sifat kewanitaan/keperempuanan alam yang tak bertepi. Wangsa manusia ‘orgasme’ dalam alunan gendhing dan tarian semesta.

Barangkali Mangkunagara IV menciptakan gendhing Ketawang Puspawarna karena memang antariksa yang tak berbatas itu terlihat dari bumi (ketingal, ketawang), terindera, namun sangat sulit untuk menggapainya. Ras manusia, terutama diwakili tokoh-tokoh terpilihnya, mencoba menembus tinggi-jauhnya tawang. Pengembaraan manusia ke gagantara dengan wahana ruang angkasa Voyager (Pengembara) memang berlatar pertanyaan: sejauh dan selebar apa manusia, dengan gelombang-musik-elektromagnetik dan teknologi yang dicapainya, mampu menjadi Jaka Umbaran (wangsa manusia pengembara)? Akankah pengembaraan musikal Gendhing Puspawarna dan teman-temannya bersama Voyager menemukan sungguh apa yang disimbolkan dengan ‘Sang Ayah’, yang Hamengkubawana Langgeng, yang Makubuwana, memuncaki pucuk tertinggi-terjauh Tawang (Iswara, Antariksa, Langit)? Yang dimaterialkan dengan suara Lokananta di kayangan? Bukankah Wangsa Indu, yang bisa jadi sebagai leluhur purwa Wangsa Nusantara/Indonesia, menyebut entitas Tuhan tertinggi dengan Iswara? Tuhan tertinggi yang adalah Parama-Iswara atau Parameswara, langit yang paling purwa atau paling tinggi? Atau Nawasanga (sembilan dewa tertinggi yang mewakili arah mata angin)?

Wangsa Jawa, setelah mengetahui ketakterhinggan alam (nandhing-sarira), kemudian mulat-sarira (memahami-diri) bahwa ia penuh keterbatasan. Terutama dalam mengonsepsi tawang. Namun dalam keterbatasannya itu manusia tetap melaksanakan aksi semampunya, berbekal ngelmu (iptek) yang dimiliki. Langit (sebenarnya) tak bisa diraih tapi selalu dicoba karanggeh, laksana cebol anggayuh lintang atau jago kaluruk ing tawang. Justru titik tertinggi, terdalam, terjauh, dan terlembut alam sangat mungkin diperoleh tatkala wangsa manusia melakukan-merasakan perjalanan, penjelajahan, atau pengembaraan secara langsung di tinggi, dalam, jauh, dan lembut tubuhnya (alam). Tanpa kekhawatiran apakah Voyager sebagai wali-material ras manusia akan kembali, atau bergerak-terus sampai ketinggian seberapa; bahkan sebagai suatu bentuk keyakinan tentang gerak-kembali musikalitas alam ke asalnya. Semangat penjelajahan Sang Voyager begitu laras dengan pengembaraan musikal karawitan yang jazzy: yang daya jelajah nadanya bisa disimpulkan tiada titik henti.

Perkawinan karawitan dengan jenis atau genre musik lain sangat besar kemungkinannya karena gamelan dalam karawitan adalah embrio alat musik. Ia/mereka melahirkan alat-alat musik gamelan di geografi manapun baik tradisional maupun modern. Akhirnya, karawitan mampu kawin dengan berbagai jenis dan aliran musik. Organologi musik memiliki ruh yang sama: tiup, petik, gesek, dan pukul. Gamelan adalah spirit atau rohnya (taqline Yogyakarta Gamelan Festival). Organ dan spirit gamelan bersifat universal. Perkawinan dalam musik, seperti halnya dalam tari, rupa, dan cabang seni lain, bahkan dalam diri wangsa manusia, adalah perkawinan-incest-cosmic: yaitu perkawinan semesta antar-anak atau anak dengan ibu, yaitu aliran, organ, dan roh musik yang lahir dari rahim-alam yang sama kemudian di suatu waktu menyatu. Perkawinan ini merupakan persatuan antar organ dan roh gamelan.

Ajang festival karawitan tahunan seperti Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang cenderung memiliki ruh ‘global-universal’ dan festival-festival karawitan tingkat daerah yang lain seperti festival karawitan antar kecamatan di Kabupaten Gunungkidul yang cenderung ‘lokal’ paling tidak sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan seni karawitan tetap hidup berdampingan dengan seni lain, seperti: campursari (sebagai seni-hibrid) dan orchestra-besar musik Barat. Meskipun pada kenyataannya, seni campursari (anak hasil kawin campur) tumbuh subur di Gunungkidul. Suburnya campursari terkadang terasa kosok-bali dengan perkembangan ibunya: karawitan. Berkurangnya jumlah sindhen karawitan (atau katakanlah animo) di Gunungkidul yang lebih memilih profesi sebagai swarawati seni campursari mengindikasikan fenomena ini. Minat beberapa kalangan muda terhadap seni karawitan pun bisa dikatakan ‘sepi’ dibanding kepada campursari. Hal ini justru membuktikan bahwa karawitan itu bersifat dinamis karena sindhen dalam karawitan dengan ‘mudah’ bisa berprofesi sebagai penyanyi seni campursari dan penyanyi musik Barat. Mengapa? Konon, sebelum kehadiran laras pelog, dalam karawitan yang berlaras salendro (5 nada; mancapat; mandala) lahir lah suara vokal. Kelahiran suara vokal di dalam tubuh karawitan menuntut laras baru yaitu pelog yang memiliki kedekatan dengan nada diatonis (7 nada). Kompetensi seorang vokalis karawitan (sindhen) biasanya lebih sulit diraih dibanding swarawati karena harus menguasai gendhing-gendhing laras slendro dan pelog yang ‘berlekuk’ lebih banyak dan kompleks. Namun, ‘migrasi’ para calon vokalis karawitan ke menjadi vokalis campursari tetap membawa serta roh karawitan, yang memang secara organ maupun roh bisa dikawinkan dengan nada diatonis (barangkali selain alasan: nilai pendapatan sebagai swarawati campursari bisa dikatakan ‘lebih banyak’ dibanding pendapatan sebagai sindhen). Hibridasi garapan gendhing karawitan pentatonis-diatonis sebagai iringan pun tampak ramai dalam pertunjukan wayang, kethoprak, dan sendratari di masa kini; baik gaya Surakartan maupun Ngayogyan. Namun, dalam festifal/penyajian gendhing karawitan ‘klasik’ harus digunakan laras slendro dan pelog.

Festival karawitan yang rutin dilaksanakan di Gunungkidul didanai oleh penganggaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Propinsi DIY tiap dua tahun sekali; bergantian pelaksanaannya putra berseling putri di tiap tahunnya. Kegiatan festival karawitan di Gunungkidul telah terekam sejak tahun 70-an. Bahkan, dulu ada lomba karawitan antar siswa SD, SMP, SMA, dan antar guru SD; bagian dari kegiatan rutin Pekan Olahraga dan Seni (Porseni). Keberlangsungan kegiatan semacam ini tak lepas dari peran para seniman karawitan (pengrawit) yang telah mengabdi untuk kemajuan seni karawitan di Gunungkidul. Bahkan, di antara para seniman itu telah mendapat penghargaan sebagai ‘abdi’ budaya dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, misalnya: Mujono Hendrotanoyo (Madusari), Darmosuwito (Selang), dan Suripto (Wareng), serta  penghargaan dari Pemerintah Propinsi DIY, misalnya: Dian Sugiyono (pegawai Depag) dan Sadipan (Karangmojo). Selain peran para pengrawit yang mumpuni, tentu dunia karawitan Gunungkidul juga didukung keberadaannya oleh para sindhen yang kesohor, seperti: Surniyati (Tanjungsari), Sutirah (Tepus), Sutarmi (Semanu), Sri Budiarti (Bejiharjo), Susmiyati (Kajar), Kasini (Tepus), Krisnawati (Gedhangsari), Tukilah (Girisuba), Sukilah (Tepus), Ambarwati (Karangmojo), dan lain-lain. Selain melalui festival, ketahanan kehidupan seni karawitan di Gunungkidul diperkuat dengan semakin bertambahnya putra-putra Gunungkidul yang ngangsu kawruh ilmu karawitan di Sekolah Menengah jurusan Karawitan dan Institut Seni jurusan Karawitan, misalnya: Purnawan (Semanu), Roni (Wonosari), dan Muchlas Hidayat (Karangmojo), yang mengusung karawitan Gunungkidul di ajang festival antar kabupaten/kota se-DIY. Pembinaan seni karawitan pun masuk ke lingkungan formal. Paguyuban sepel (nabuh-gamelan) di desa-desa di Gunungkidul rerata masih banyak dijumpai. Jika 144 desa di Gunungkidul diasumsikan paling sedikit memiliki satu paguyuban karawitan, maka minimal di Gunungkidul terdapat 144 paguyuban seni karawitan. Semangat ikut-serta di ajang festival lah yang menyebabkan para anggota paguyuban karawitan berlatih keras untuk melantunkan gendhing-gendhing dengan tingkat kerumitan tinggi.

Merujuk keterangan seorang tokoh karawitan Gunungkidul, Ki Sadipan, gendhing-gendhing karawitan yang biasanya dialunkan oleh paguyuban-paguyuban karawitan di Gunungkidul itu memang terpengaruh oleh dua gaya seni karawitan yang berkembang, yaitu gaya Ngayogyan-soran (instrumentalia) yang didominasi instrumen saron, bonang, kethuk, kenong, kempul, gong, dan gaya Surakartan-lirihan/alusan yang didominasi instrumen gender, gambang, rebab, siter, dan vokal, berdasarkan kedekatan ruang geografi masing-masing wilayah. Paguyuban karawitan di wilayah-wilayah seperti Ngawen, Semin, Nglipar, Gedhangsari, Ponjong, dan Rongkop lebih cenderung menggunakan seni karawitan gaya Surakartan dibanding Ngayogyan.

Gendhing-gendhing yang dijadikan sebagai gendhing pilihan-bebas dalam festival biasanya dipilih yang alusan atau lirihan; dimaksudkan agar bisa menggambarkan rasa-mendalam gendhing karawitan yang lembut, yang lungid. Meskipun sebenarnya instrumen gamelan soran (instrumental) juga mendukung kelembutan rasa sebuah pertunjukan karawitan, bergantung teknik garapnya. Beberapa gendhing yang dipilih di antaranya: 1) Ladrang Pariwisata munggah Ketawang Sinom Wenikenya mlebet Playon kaseling Rambangan Pangkur, 2) Ladrang Nuswantara munggah Ketawang Mijil Wedharing Tyas mlebet Playon kaseling Rambangan Dhandhanggula Pelog Pathet Nem, 3) Ladrang Gonjing Miring minggah Ketawang Pawukir mlebet Playon kaseling Rambangan Kinanthi Laras Slendro Pathet Manyura, dan 4) Ladrang Eling-eling munggah Ketawang Sinom Parijatha mlebet Playon Durma kaseling Rambangan Sekar Durma Laras Pelog Pathet Barang.

Dan konsep munggah/minggah (dalam hal ini naik ke ketawang), merupakan fase yang harus ditapaki dalam perubahan irama di gendhing karawitan. Urutan wirama dalam gendhing karawitan, misalnya ladrang, biasanya dimulai dari yang bersifat lancar, cepat, atau gegas dulu (lancaran), baru dinaikkan ke yang lambat (wirama-siji), dinaikkan ke wirama-loro yang lambat lagi (biasanya ketawang). Setelah itu wirama naik (munggah atau minggah) ke wirama-telu yang lebih lambat lagi, lantas munggah atau minggah ke wirama-papat yang sangat sangat lambat lagi. Munggah atau minggah (meninggi) sama dengan gerak mlebet: masuk jauh ke kedalaman. Gambaran gerak wirama karawitan yang meninggi ini pada dasarnya merupakan gambaran gerak masuk ke kelembutan, ketajaman-rasa, atau spiritualitas manusia. Rasa ingin meninggi ke awang-awang. Seperti menghirup harum bunga: sekaring-bawana. Puspa yang harumnya semerbak hingga ke langit. Bagaimana nalarnya? Dunia-yang-dilipat (meminjam istilah dalam semiotika) itu serba cepat gerak iramanya. (Barangkali ini juga berlaku di dunia multi-dimensi). Irama di dalam dunia-terlipat, yang cepat geraknya, berpindah menuju dunia yang diluaskan semesta nadanya dan dalam waktu bersamaan dilambatkan iramanya. Tambah lambat. Sampai pada sangat lambat gerak iramanya. Perlambatan menghasilkan kondisi dunia-berhenti (seperti kondisi ragawiah: sembah-hyang, shalat, meditasi, samadi, dst.), namun secara batiniah atau ruhaniyah meninggi. Setelah ulihan, dunia bergerak cepat kembali. Ini lah gerak siklik dalam karawitan: sakulihan, sakkenongan, sakgongan.

Gendhing karawitan adalah gerak siklus kehidupan: laku atau lampah untuk kembali, mulih ke asalnya. Memang, yang ditembangkan dalam karawitan adalah tembang-gedhe, tembang-tengahan, dan tembang-alit yang menggunakan pola-lampah, atau guru yang telah dicontohkan polanya secara berulang-ulang sejak purwa (arketip). Lampah adalah pola pengucapan sebuah tembang (nembang, melagukan) berdasar jumlah wanda atau suku kata dalam satu baris. Cara melagukannya dengan medhot, membuat jeda (pedhotan), dengan penulisan notasi tiap empat angka, untuk suatu saat kembali kepada purwa siklusnya. Fenomena tubuhnya berlipat-lipat, berpangkat-dua, bertiwikrama, yaitu: empat, kemudian delapan, enambelas, yang terakhir tigapuluh dua.

Laku empat, berlipat, kemudian dilanjutkan laku memusat: menyatu atau satu.

Laku memusat, memang harus selalu dilakukan oleh manusia yang menggunakan nalar memencar atau memendar dalam gerak kehidupannya. Pendhapa Sewaka Praja, sebagai wakil pusat geografi kegiatan budaya di Kabupaten Gunungkidul (pusat pemerintahan), dipilih sebagai tempat berlangsungnya perayaan kelungidan karawitan. Diikuti oleh berbagai kelompok penghayat karawitan dan diprogramkan oleh Dinas Kebudayaan. Perayaan karawitan yang memusat ini sebagai upaya alamiyah-naluriyah agar wangsa manusia tetap menjaga laku batinnya secara memusat dan meninggi ke tawang: pisowanan kepada Langit; selaras dengan maksud nama sewaka-praja. Perayaan karawitan antar paguyuban karawitan se-Gunungkidul juga dilaksanakan di Pendhapa Sewaka Praja tiap 35 hari sekali pada hari Jumat Legi (Uyon-uyon Jumat Legen). Pertunjukan karawitan sudah menjadi kebiasaan direkam oleh perusahaan rekaman atau perusahaan radio di Gunungkidul, seperti: GCD FM, Handayani FM, Argasasra, Swara Adiloka, RKW, dll. Gendhing karawitan yang dipentaskan direkam untuk disiarkan secara langsung melalui gelombang udara/gegana, atau disiarkan ulang, agar bisa terdengar oleh wangsa manusia ke seluas jangkauan pemancar radio. Kontribusi perusahaan radio dalam perekaman dan penyebaran gendhing karawitan ke segala penjuru bumi memang vital.

Capaian itu susah disamai oleh perusahaan televisi.

Kontribusi perusahaan rekaman Lokananta (meniru nama gamelan yang ada di tawang/kayangan) di Solo, yaitu salah satu kota pusat karawitan, pun sangat besar bagi kelestarian seni karawitan hingga kini. Rekaman gendhing-gendhing lelagon Nartasabdan misalnya, masih bisa dinikmati oleh para pandhemen karawitan lewat frekuensi radio. Kumandang gendhing karawitan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, melatari para among tani yang giat bekerja nggarap tegalan di beberapa wilayah di Gunungkidul. “Dhel ndhedhel kae mumbul, lah layangane mancawarna pulasane, a tobat becike, lah aku gumun….kae montore mabur jejer Jaran Sembrani…..”, begini lelagon Ngundha Layangan tumlawung tertiup angin ke sana ke sana. Gendhing karawitan, dengan suaranya yang bergelombang lewat radio, sekaligus sebagai gelombang-radio itu sendiri, semakin memelosok ke seluruh permukaan bumi. Menemani among-tani mengolah tanah, mengolah rasa. Agar sebentar nanti ngleyang mumbul ke angkasa.

Ya, gendhing karawitan adalah paralambang ketajaman-rasa untuk kembali ke kemuliaan angkasa (Rawit-Mulya), ke pelosok pernafasan atau mata-angin (sembilan-dewa; nawasanga), ke tawang, ke udara (secara lahiriyah seperti halnya gendhing ayam kampungnya Sri Pendhawa atau Parman atau Kondhang Rasa atau Yu Sum yang memanjakan lidah orang-orang Gunungkidul), lewat sebuah omah, atau wadah, atau tarub yang disebut gamelan. Gamelan adalah lampah (jalan), mlampah-mlampah atau mlaku-mlaku (berjalan-jalan), atau ngumbara (mengembara), yang tak lain adalah perjalanan-kembali ke awang-uwung, ke semesta tak bertepi, ke keindahan-kelembutan alam dan wanita, lewat pusat udara dalam diri yang soran (keras suaranya), yang rawit (tajam), yang lungid (lemes, luwes; penuh rasa melayang ke langit, muluk ing gegana), yang bersifat soran (keras; suara instrumennya merambat jauh) sekaligus lirihan/alusan (kelembutan, kedalaman) seperti instrumen slenthem, yang agung di lingkungan kraton namun juga rumasuk di hati orang dusun, yang laras antara yang salendro dan yang pelog, yang digambarkan sebagai isbat di khasanah eskatologis kejawaan: jago kaluruk ing tawang. Seekor jago kaluruk (berkokok) di pagi hari; tak lelah berusaha melengkingkan suaranya ke langit; hendak meraih keelokan Rara Jonggrang, mencari-cari wewayangan Pang(h)eran.

Itu: ndhedhel-mumbul ke gegana Si Karawitan! Ia kembali meninggi ke wiyati. Lewat pucuk kethuk. Luk, lekuk, serta liuk gendhing-wajib lelagon Gunungkidulan karya Ki Sadipan dipertunjukkan: Si Thiwul yang ayu rupawan.

Dalam sebuah festival karawitan. Pesertanya 18-an kecamatan.

[KH/WG]

 

Komentar

Komentar