Kandang

oleh
Tipikal kandang sapi di wilayah Gunungkidul. KH/Kl
Tipikal kandang sapi di wilayah Gunungkidul. KH/Kl

Ada ruang domestik bagi hewan, yang di daerah Gunungkidul diperuntukkan sapi, ayam, dan kambing (ayam, yang termasuk keluarga burung, lebih senang tidur di ketinggian seperti halnya kebiasaan ‘manuk’ umumnya), yang disebut kandang. Kandang adalah ruang bagi hewan. Namun berhubungan dengan aksi manusia memelihara hewan. Di sekitar rumah manusia. Artinya, kandang adalah ruang pelihara. Ruang personal bagi hewan yang menyempit. Sementara ruang yang tak bersinggungan dengan hal ini bukan disebut kandang, tapi tempat-hidup (habitat).

Manusia lantas mencoba meminimalisasi jarak dengan membangun kandang bagi hewan peliharaan, yang meniru ‘kandang’ hewan yang sesungguhnya: habitatnya di alam-lebar-luas. Hewan yang alam dipaksa menjadi domestik. Lokal. Yang rumahan. Yang kandang. Dipaksa hidup di tempat paling-paling 3×6 meter.

Batas, sebuah istilah yang menarik dalam sudut pandang apapun, menentukan keputusan manusia menjadikan kandang berukuran tertentu. Termasuk kesediaan lahan. Dan, biaya. Kandang, termasuk lahan garapan manusia yang hidupnya berpolitik, merupakan alat politik manusia paling tidak agar kebutuhannya akan makanan (daging misalnya) terpenuhi. Barangkali lebih umum disebut sebagai strategi, teknik, metode, cara manusia mempermudah dan mempertahankan hidupnya, melalui hewan yang dibiakkan di dalam kandang. Melalui pembatasan ruang, juga gerak.

Ruang yang tadinya berbatas sungai, gunung, lembah, dipersempit (meminjam istilah posmo: dilipat). Gerak yang tadinya pendar ke kanan-kiri, ke sana ke sini, diciutkan menjadi tak lebih keliling luas kandang di atas. Pendomestifikasian, pelokalan (hewan ke kandang), atau pembiakan hewan adalah laku pengerdilan. Penyempitan (ini disukai kelaki-lakian, juga terhadap jalan dalam makna ‘sedang diperbaiki’). Pengecilan. Pengerdilan. Ibarat seekor katak, semesta yang luas dibuatkan batas baru berupa tempurung (meski bathok bolu, bolongan telu, yang bisa mengintip keluar melalui tiga lobang). Ibarat manusia-goa-nya Platon yang ‘dipaksa’ hidup di dalam goa.

Gerak menjadi terbatas. Ruang terbatas. Sudut pandang terbatas. Namun, hewan, yang identik dengan manusia, toh memiliki spirit dasar, naluri alam, bahwa ia mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi. Bahkan perubahan kondisi ekstrim tertentu. Hewan memiliki gen ini. Yang kerdil, sempit, kecil, domestik, akhirnya merupakan determinasi manusia, melalui cara fikir, persepsi, asumsi, penalarannya terhadap peruangan, pembatasan, yang lahir dari pola fikir kronologis manusia terhadap apa-apa yang menurut ukuran manusia mendukung kelestarian kehidupannya.

Kandang sapi dan kambing di kawasan Girisubo. KH/Kl
Kandang sapi dan kambing di kawasan Girisubo. KH/Kl

Meskipun demikian, hewan menyimpan kekuatan, spirit, energi tak terduga. Ketika aksi manusia ini (pendomestifikasian, pengerdilan, pengecipan) diterapkan untuk komunitas manusia, bukan untuk hewan, manusia mencak-mencak. Protes. Bentuk penjajahan. Pengerdilan. Sangat berlawanan dengan pembebasan, liberas(u)i. Padahal manusia ‘gemar’ melakukan aksi ini, baik untuk alasan ‘klangenan‘ atau yang lebih natural: untuk keberlangsungan kehidupan dan kerja manusia (konsumsi, produksi, dengan bantuan hewan peliharaan).

Sama halnya ‘keliaran’ (savage) hewan di mata manusia, manusia menolaknya, mencibirnya, namun dalam waktu bersamaan mendewakannya. Persepsi manusia, atau lebih enak: pelabelan manusia, tentang keliaran hewan dan alam, yang memunculkan motif manusia untuk selalu ‘menundukkannya’, rasanya tidak tepat; justru mengingkari ‘keliaran’ yang terjaga, yang laten (istilah ini nge-pop lagi terutama yang berhubungan dengan alat pertanian-rumah tangga yang disebut arit dan pukul), dalam diri manusia.

Manusia yang dianggap ‘liar’ (savage) tadi, dikandangkan. Dipersempit geraknya. Didomestikkan. Tujuannya agar spirit kehidupannya, semangat cinta kasihnya, pulih. Ada yang berhasil, banyak yang tidak. Justru semakin liar ketika ‘keluar’ dari kandang. Bahkan peruangan yang disebut kandang bagi manusia, menjadikan komunitas manusia beringas, liar, bahwa merekalah manusia; bukan hewan. Manusia menjelma jago kandang. Jika perlu, kandang manusia lain digempur, dibabat, karena ‘beda kandang’.

Kandang sapi yang dijual di pinggil JJLS Saptosari. KH/Kl
Kandang sapi yang dijual di pinggil JJLS Saptosari. KH/Kl

Semangat adaptif, akulturatif, sebagai sebuah makhluk yang memiliki genetika unggul, hewan yang merupakan bagian dari alam justru ‘miskin’ dimiliki manusia. Hewan naluriah, maka alamiah. Mereka dengan kesadaran menyediakan diri demi kelangsungan hidup manusia. Sementara manusia, lemah.

Manusia, dengan konsep peruangan, pendomestifikasian, pengandangan, yang ia ciptakan sendiri, ‘keponthal-ponthal‘ mengejar kesiapan hewan menghadapi perubahan-perubahan semacam ini.

Malah sering mengkebokan (mengumpamakan dengan hewan kebo) dengan kata-kata bijak: “Aja cedhak kebo gupak!“. Ya, yang namanya kebo, sapi, wedhus, ayam, yang hidup di kandang ya lekat dengan kekotoran. Toh, kekotoran tak harus dijauhi, dihilangkan.

Kekotoran dimodifikasi, ditransmutasi, hingga manusia tak semakin mengerdil dalam kandangnya, yang diyakini sebagai semesta tanpa tepi, sendiri.

(Klepu).