Kalabandana: Grenengan Seputar Fenomena Gantung Diri

Dhadhung, kala, jerat, tali. KH/WG
Dhadhung, kala, jerat, tali. KH/WG

Si Bagag, Si Bodoh, Si Batur, Si Petani, Si Proletar, Si Kriya, dan teman-temannya, adalah pelabelan pada golongan yang untuk sementara disimpulkan oleh beberapa pengamat terhadap individu atau beberapa orang yang memutuskan untuk, orang dusun bilang, ‘nglampus-driya‘, atau ‘ngracut-raga‘, atau ‘ngruru-runtuh‘ (seperti yang digambarkan dalam pentas sendratari Kabupaten Gunungkidul dengan penokohan Rara Rembayung; penulis lebih senang penyebutan “Lembayung” perawan Giring ini dengan “Rembayung“; yang ngrembuyung ibarat perempuan suci), atau sebutan lain pada level yang terasa lebih tinggi (diwariskan oleh leluhur) yang disebut ‘mokswa‘, sebagai nama-ciri pelaku bunuh diri. Dengan ‘dhadhung‘ atau alat/teknik lain. Yang mereka (para yang tersebut: bagag, batur, petani, dan seterusnya itu; yang sebagian orang berkata “tak mungkin pelakunya orang kaya apalagi terdidik”) memilih membunuh-raganya.

Raga yang maya.

Pelabelan itu, untuk direlasikan dengan istilah yang lebih keren di wilayah kajian sosial-pembangunan atau karakter-mental atau istilah ‘ngehits’ lainnya, didekatkan pada kebendaan seperti: kebodohan (tak berpendidikan; sejatinya makhluk seperti apa ini yang disebut berpendidikan?; upaya seumur hidup untuk ‘naik-kelas’ menjadi ilmuwan, golongan-golongan kelas-atas di strata sosial; pencapaian-hirarkial-material?), kemiskinan (dianggap ‘black-goat‘nya pembangunan-kemanusiaan; sementara satu sisi pergerakan ‘naik-kelas’ sebagai terjemahan kasar ‘tanpa-kelas’ model Marx menjadi kaya adalah ‘paran’ banyak orang), keterbelakangan-mental (ini juga pelabelan yang lazim; beberapa pendekatan psikologi ‘alat’nya), dan keputusasaan-hidup [banyak orang yang merasa dirinya telah memiliki pemahaman keagamaan yang tinggi, selamat, masuk surga, dan paling sahih, hingga menyebut perilaku para pelaku ini sebagai keputusasaan (fatalisme) dan pelarian-diri (eskapisme); pemelencengan kehidupan (deviasi); di lain sisi mereka merayakan kegilaan-kegilaan ekstatif yang jika memungkinkan dilegalkan].

Banyak agamawan (salah satu definisi ‘agama’: gerak [kebaikan] yang kontinum) yang korup nggak diteliti oleh pemerhati. Bukan suatu bentuk keresahan yang ‘dikhawatirkan’ Tuhan (Tuhan kok ‘ndadak’ khawatir segala ya?). Hingga manusia juga ikut resah. Alih-alih, kemudian, hasil pengamatan menyarankan: hendaknya mereka (agamawan-korup) melakukan bunuh-diri; membunuh raganya, lha wong golongan ini tetap diterima masyarakat; karena meski korup kan tidak membunuh-raganya; sementara yang bunuh-diri kan menyalahi aturan kehidupan yang ‘dikehendaki’ Tuhan. Tentu, bunuh-diri adalah apologi yang pas (tanpa ‘kah’; Jokpin).

Penulis termasuk orang yang takut untuk bunuh diri. Secara kualitas-manusia, penulis ini ‘ecek-ecek’. Jauh dibanding mereka yang berani bunuh-diri. Bekerja jadi tukang batu saja takut, apalagi tukang batu yang membunuh-diri. Maka saat mereka seperti ini: tabik!

Banyak orang yang sangat terinspirasi, kemudian memuji, memuja, materi yang oleh Langit disabdakan sebagai “watu” (batu). Kreasi (akibat dari kehendak mencipta) batu berwujud: rumah manusia, demi mendukung spiritualitasnya. Ada yang berbentuk batu ‘thok’, ada yang susunan batu-batu. Maka tersebutlah: omah, candi, babel, piramida, pundhen berundak, hajar-aswad, ka’bah, dan seterusnya. Menciumnya. Merasukkannya. Adalah spirit. Seakan ingin hancur-lebur di dalam batu. Dan laku memuji ini sah. Termasuk bagi penulis.

Menghancurkan meleburkan diri dari bentuk keras-kokohnya bebatu itu seperti histeria, tragedi, misteri, yang selalu menginspirasi peradaban manusia. Bukankah peristiwa tragis-misteri-mitis akan menuntun manusia ke kesadaran tak berhingga?

Gunungkidul yang bersifat batu, yang batur, itu tampaknya sejati dirinya. Tragis. Ketragisan Gunungkidul adalah inspirasi tiada henti. Batu melebur tanah. Batur menyediakan dirinya untuk kemuliaan “bendara“. Dan batu-batur yang membunuh-diri-sendiri atas kehendak sendiri disebut hina. Sebaliknya, para “bendara“, terdidik, ‘pangreh-praja‘, yang seringnya malah membunuh kemerdekaan diri-lain, yang digolongkan batur, sah-sah saja; seharusnya, mulia.

Dalam gerak sosial: orang dusun yang merasa telah tercerahkan, melek pendidikan a la Kulonan, menganggap dirinya sejajar dengan Piyayi (Borjuis) Eropa, Arab, Tionghoa. Akhirnya, perjuangan kelas orang dusun seperti orang Gunungkidul mencapai puncaknya, di ‘varna‘ tertinggi, yaitu golongan melek-aksara cerdik-pandai, kemapanan-ekonomi, sehat-psiko-spiritual, sejajar dengan logika kepiyayian Kolonial. Toh golongan ini hanya diakui sebagai ‘pidgin’; campuran. Bukan selevel dengan Kolonial. Bahasanya pun ‘petjoek‘; campuran kelas tinggi dan rendahan. Luar dan pribumi. Namun, kemudian, banyak di antaranya (anak-anak ‘pidgin’) secara lantang menyebutkan bahwa kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan (penyimpangan) mental lah penyebab utama bunuh-diri. Bunuh-diri membahayakan peradaban!

Tampaknya inilah makna menyimpang politik-etis; balas budi. Poskolonial. Warisan kolonialisasi. Yang pribumi pun telah berfikir dengan cara kolonial. Juga dalam hal pelayanan (abdi). Pemimpi-n yang sebaiknya bersifat pelayan, juga pelayan (abdi) yang hendaknya dimuliakan: melenceng.

Akhirnya, kenapa membunuh-diri sendiri, dengan kehendak untuk bebasnya (meminjam pemikiran Eropah: ‘free-will‘) sendiri, banyak ditentang, dicaci? Sementara banyak di antara orang dusun yang telah naik-kelas, yang tubuhnya seakan merdeka, bebas, namun sebenarnya dikekang, dijajah, oleh suatu hal, yang justru tidak mengenyam suatu kemerdekaan. Bukankah seperti benda yang ‘keli‘?

Atau hanya ikut-ikutan ‘ngeli‘?

Dulu, Ki Ajar, Ki Ageng, Sarjana, Kiai, Begawan, Pujangga (dari kata ‘bhujangga’: sumber air kehidupan), Pandhita, dan lainnya itu banyak yang melepaskan label kelas-atas mereka. Disimpan. Dengan pilihan hidup sebagai ‘zuhud‘. Seorang Kiai yang begitu hormat pada ‘orang-gila‘ di sekitar pasar. Lha kok nggak: mbok jangan gila ta, gila itu dilaknat Tuhan, lho! Seorang ajar yang berguru pada cantrik. Seorang guru yang nyusu muridnya (gudel). Seorang raja membuang baju kebesarannya. Seorang Einstein yang meratapi nuklirnya. Archimedes yang memilih: gila.

Menurut pikiran ‘waton‘ saya (bisa: 1] menggunakan ‘wewaton‘ atau dasar, 2] menggunakan logika ‘watu‘), Gunungkidul, lewat objek bunuh-diri, tampaknya harus ‘ngruru-runtuh‘, seperti supernova, sepeti Shinta, laksana Rara Rembayung, yang begitu khusyuk menikmati musnahnya raga, berubah menjadi ‘watu-an‘; tetanah, yang melanggengkan kehidupan. Karena yang ragawiah, yang material, akan selalu ‘nggondheli‘ perjalanan (h)yang suksma.

Ya, bunuh-diri di Gunungkidul ini memang dianggap mitos. Dan kebanyakan orang nyinyir-nyindir pada kata ‘mitos’; sebagai sebuah keremehtemehan. Banyak yang lupa, atau tepatnya tak mau tahu, bahwa penyebutan mitos, atau ‘hanya mitos’, adalah ‘penyimpangan-mental’, bentuk kebodohan, kemiskinan nalar, dari makna-makna yang lembut susah diraba pikiran manusia yang serba terbatas (ego-terbatas) yang disebut mitologi. Yang menurut nalar penulis, banyak yang menyebut ‘mitos’ sebenarnya ditujukan pada suatu mitologi, sementara mitologi menganggap ‘mitos’ pada sebagian sains. Dan manusia dengan bangga menciptakan ‘mitos-mitos’ yang diakukan sebagai realitas akhir segala sesuatu. Padahal, kebanyakan cara-berfikir manusia, terutama yang ‘beragama’ (organized-religion), adalah penuh ‘mitos’: kesadaran-kesadaran lembut yang dengan ikhlas diwujudkan di ranah aksi. Sementara laku kehidupannya telah ditentukan jalan dan umurnya. Diikat sedemikian kuat. Ditelikung. Dijerat.

Dalam kehidupan modern pun, sebagai makna: simulasi, hiper-realiti, satu-dimensi, banyak orang yang tertelikung jerat. Kehidupan yang menipu, menjilat, memanipulasi, mengkorup, adalah jerat; tak lebih mulia dari membunuh-diri (dan jelas takut untuk membunuh diri; seperti penulis kan?). Berhaji, bergelar, berjabatan, tak selalu meninggi dibanding bunuh diri yang melepaskan materi. Yang memilih miskin. Bodoh. Menyimpang. Juga menjadi gila.

Dan memiliki keyakinan bahwa bunuh-diri itu hina (bolah-boleh saja, mubah), kalau perlu wajib, sebaliknya kalau penulis berkeyakinan mereka mulia ‘seharusnya’ juga boleh. Kebanyakan manusia menganggap bahwa ‘yang-lain’ seharusnya berkeyakinan dan berkeimanan sama dengannya. Cara pandang tentang dunianya. Tentang tali. Dhadhung. Sakit. Miskin. Tentang ekonomi. Dengan ‘kebodohan’ dan atau ‘kecerdasannya’ masing-masing.

Namun mereka, para yang dianggap ‘bagag‘ (bodoh) itu, yang memilih ‘runtuh’, menurut penulis justru yang mampu mengantarkan Gunungkidul ke tataran surgawi; yang predikatnya telah disimpulkan sebagai ketakmelekan (kebodohan), ketak-kayaan (kemiskinan), ketaknormalan (penyimpangan), dan sebagainya, hingga banyak dicaci.

Dibenci.

Toh bunuh-diri, tanpa perlu membuat undang-undang bunuh-diri, dapat mengurangi angka kemiskinan (jika dan hanya jika pelabelan miskin bagi yang bunuh-diri adalah benar sesuai kategori yang dibuat pengamat; karena ada yang memilih miskin, puasa, tanpa jabatan, sebagai jalan kehidupan), dari pada menambah angka kemiskinan lewat strata kaya yang malah ‘miskin’ karena rakus menumpuk makanan bagi perut dan keluarganya sendiri.

Hanya para yang dianggap bagag, batur, abdi, petani, dengan pilihan-pilihan kelangitan mereka, yang tetap sebagai korbannya korban konspirasi narasi-besar, yang mampu ‘angon‘ para yang menganggap dirinya ksatria (cerdik-pandai, piyayi), menuju ke kesurgaan tiada terpermanai.

(Barangkali termasuk penulis yang menggunakan kesunyian pilihan mereka untuk kesenangan tulisan ini).

Mereka tergantung. Bergelantung. ‘Dipulungi‘; diambili. Di dalam peran sebagai para bagag. Para abdi. Di sebuah jerat antara Langit dan Bumi.

Selamat.

____

Penulis: Wong Gunung.

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar