Kaki Lumpuh, Jumali Bangkit Berkat Kerajinan Anyaman Bambu

Jumali menyelesaikan pesanan peralatan rumah tangga. KH/ Kandar
Jumali menyelesaikan pesanan peralatan rumah tangga. KH/ Kandar

SAPTOSARI, (KH)— Dalam kondisi terhimpit keadaan, memungkinkan seseorang dapat melakukan hal melebihi kemampuan sebelumnya. Untuk mengadapi sebuah tekanan itu, terkadang upaya yang ditempuh ternyata dapat menghasilkan sesuatu melebihi dugaannya.

Seperti kegigihan Jumali, warga Padukuhan Gondang, Desa Kepek, Kecamatan Saptosari ini, meski mengalami kelumpuhan kaki permanen setelah jatuh saat memetik melinjo sekitar awal 2001 silam, namun tetap berusaha bangkit, tidak pasrah dengan keadaan.

Operasi tulang belakang memang sempat ditempuh, namun kerusakan saraf yang terjadi memaksa Jumali harus menerima kenyataan bahwa dirinya tak dapat lagi berjalan normal. Sekitar tiga tahun dilaluinya lebih banyak hanya berada di tempat tidur saja.

Sehingga, lelaki dari dua anak ini tak mampu memberikan nafkah lagi bagi keluarganya, lantas ia putuskan pulang ke rumah orang tuanya. Adanya perasaan menjadi beban orang lain sehingga ia tak mampu bertahan tinggal bersama istrinya.

Menjadi awal sebuah harapan, ia bersyukur tatkala ada bantuan dari Dinas Sosial yaitu sebuah kursi roda. “Saya mulai dapat beraktivitas, terkadang keluar rumah meski hanya di teras, lalu mulai berfikir keras apa yang dapat dilakukan,” kata dia mengenang masa sulitnya.

Ia tak ingin menjadi beban bagi orang lain. Meski sebagai penyandang disabilitas, Jumali sangat ingin mandiri. Titik balik dimulai, tanpa kemampuan sedikit pun mengenai anyaman, ia mulai berlatih membuat anyaman perlengkapan alat dapur. Dengan melihat produk jadi yang ada di rumahnya ia coba menirunya.

“Itu hal pertama yang dapat saya coba, sesuatu yang dekat dengan saya, selain itu  memungkinkan untuk mendapatkan bahan baku di sekitar,” lanjut Jumali. Percobaan demi percobaan dilakukan, ia mulai dengan membuat tempat nasi untuk dipakai sendiri.

Lantas, karya buatanya itu diketahui oleh Tarno tetangganya, yang lantas meminta untuk dibuatkan. Membuat tempat nasi (Ceting) untuk orang lain yang pertama kali inilah teriring harapan dan doa produk buatannya dapat dikenal lebih luas lagi.

Benar saja, kebiasaan warga mencuci perkakas dapur di telaga menjadi awal diketahuinya bahwa Jumali mampu membuat alat rumah tangga dari anyaman bambu. Dari mulut ke mulut menyebar, tetangga dusun pun ikut memesan.

“Saya mulai melayani pesanan dari luar dusun. Kemudian, saat di Desa Kepek ada sebuah acara, oleh tokoh warga saya diminta membuat beragam produk untuk ditampilkan dalam bazar. Ada Tenggok, Irik, Tampah dan lainnya,” sambung Jumali.

Mulai saat itulah pesanan datang dari berbagai wilayah khususnya dari Desa Kepek dan sekitarnya. Upaya pengembangan dilakukan, atas permintaan tokoh pemuda ia pun mencoba membuat berbagai souvenir untuk dijual di kawasan pantai,.

Namun, upaya ini tidak mulus, souvenir sepi peminat. “Susah jualnya, kemudian upaya lain dengan mengikuti kursus elektro di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas selama 1,5 tahun. Kemudian saya dapat melayani service elektronik di rumah,” urai Sekretaris Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul wilayah Saptosari ini.

Dalam sebulan, imbuh dia, hasil dari jasa pembuatan anyaman dan service elektronik ia dapat memperoleh pemasukan antara Rp 100 hingga 500 ribu. Hasil tersebut ia pergunakan untu membantu memenuhi kebutuhan keluarga. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar