Jumlah Penderita Naik, Dari 34 Kasus, 15 Suspek Leptospirosis

Ilustrasi penularan penyaklit laptospirosis. sumber : Microbiologybytes.com

WONOSARI, (KH)— Terjadi peningkatan kasus penyakit leptospirosis di Gunungkidul. Berdasar data yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, setidaknya ada 34 kasus penyakit. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding tahun 2016 kemarin.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) dan Zoonosis, Yudo Hendratmo SKM mengatakan, dari 34 kasus terdapat 15 yang suspek atau diduga menderita sakit Leptospirosis. Sedangkan dari 15 yang suspek tersebut dinyatakan 5 penderita berhasil disembuhkan. Sedangkan 10 lainnya meninggal.

“Tetapi yang positif atau resmi dinyatakan meninggal karena penyakit Leptospirosis baru 1. Hal ini merujuk telah terbitnya Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS) yang dikeluarkan oleh rumah sakit,” tandas Yudo, Senin, (21/3/2017).

Yudo menjelaskan, penyakit Leptospirosis diakibatkan oleh bakteri Leptospira sp yang ditularkan melalui hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan.

Yudo menambahkan, di Gunungkidul sendiri lokasi yang banyak terdapat kasus penyakit yang secara umum penyebarannya diakibatkan oleh kencing tikus ini terdapat di zona utara. Antara lain Nglipar, Ngawen, Gedangsari dan lainnya.

Untuk itu, telah dilakukan uji petik atau diambil sampel lingkungan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) DIY di lokasi yang banyak terdapat penderitanya. Hal tersebut untuk memastikan dan melakukan tindak lanjut penanganannya.

“Rencananya uji petik atau pengambilan sampel lingkungan dilakukan selama dua hari,” tambahnya. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar