Jeli Melihat Peluang, Bayu Layani Pesanan Cetak Kaos Bijian

oleh
Bayu Candra pendiri Rumah Langit bersama salah satu rekannya. KH/ Kandar
Bayu Candra pendiri Rumah Langit bersama salah satu rekannya. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Dua tahun sudah tempat produksi “Rumah Langit” berdiri, tempat bikin kaos ala anak muda ini mampu menyesuaikan dengan keinginan pasar. Pendiri cukup jeli melihat peluang mengenai kebutuhan busana khususnya anak muda.

Ialah Bayu Candra (30), pemuda yang mendirikan bisnis cetak kaos di Padukuhan Tawarsari, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari ini awalnya berbisnis jualan kaos dengan merek atau brand yang ia buat sendiri, namun waktu itu dirinya tidak melakukan produksi sendiri.

Semenjak booming kaos ala clhotingan atau distro, ia merasa pesimis karena saingan merek yang beredar semakin melimpah. Maka ia menyusun rencana baru terhadap bisnisnya, namun tetap seputar kaos dan pakaian.

“Awalnya saya punya merek sendiri, bikin kaos lalu dititipkan ke distro-distro atau toko busana segmen anak muda,” tuturnya beberapa waktu lalu. Merasa saingan brand luar biasa banyak lantas ia memilih menyediakan tempat produksi atau cetak kaosnya.

Ia menilai banyaknya merek yang beredar pasti membutuhkan tempat produksi, maka atas intuisinya tersebut ia mendirikan Rumah Langit sebagai tempat produksi kaos. Slogan sekaligus bahasa promosi serta layanan yang ditawarkan cukup menarik yakni cetak kaos bisa bijian atau tanpa jumlah minimun, bahkan dengan desain sesuai keinginan peminat.

“Cetak kaos di sini tidak perlu banyak tetapi bisa satu kaos saja, peminat juga bisa memesan desain atau membuat sendiri sesuai kesukaan,” jelas Bayu. Selain dirinya, ia kini memiliki 4 rekan lain yang membantu produksi kaos yang selalu mengalami peningkatan permintaan dari waktu ke waktu.

“Istri juga terlibat dibagian jahit, sementara yang lain pada bagian pemotongan kain dan sablon menggunakan mesin digital printing,” terang lelaki berkumis ini.

Rumah langit memiliki konsep workshop, melayani berbagai komunitas, pelajar atau suatu perkumpulan yang menginginkan kaos seragam, selama ini ia mendatangkan bahan dari dua wilayah,  yakni Yogyakarta atau dari Solo.

Sambung dia, Sreenprinting atau cetak saring yang lebih dikenal umum dengan istilah sablon, pada prosesnya ada tiga tahap dasar yang harus dilalui yaitu desain, pembuatan film dan proses cetak itu sendiri. “Dalam tiap tahapanya ada beberapa step wajib yang harus dilakukan seperti misalnya pada tahap desain haruslah melakukan pecah warna,” urai Bayu sedikit menjelaskan teknis kerja di bisnis yang ia jalani.

Upaya pengembangan bisnis dilakukan, karena tidak menutup kemungkinan banyak yang tertarik untuk membuat usaha sablon, ia lantas menyediakan atau menjual peralatan sablon. Selain itu bisnis yang beromset antara Rp. 15 hingga 25 juta ini juga melayani service screen sablon. (Kandar)

Komentar

Komentar