Jagung dan Padi Hibrida Berikan Keuntungan Lebih Bagi Petani

oleh
Penen padi varietas hibrida intani 602 di Gedangsari. KH.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Masa panen jagung petani di Gunungkidul usai. Sementara saat ini panen padi sedang berlansung. Dari pantauan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, baik jagung maupun padi jenis hibrida memiliki hasil yang menggembirakan.

Kepala Bidang Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, dari sampel beberapa analisa usaha tani, baik petani atau kelompok tani, jagung hibrida memiliki hasil kotor antara Rp. 28 juta hingga 30 juta tiap hektarnya.

“Sedangkan biaya operasionalnya antara Rp. 4,5 hingga 5 juta. Jadi keuntungannya masih berlimpah. Masih ada margin antara Rp. 23 sampai dengan Rp. 24 juta per hektarnya,” ungkap Raharjo Yuwono, Senin, (11/3/2019).

Sementara untuk padi jenis hibrida keuntungannya lebih banyak lagi. Sebab, hasil tiap hektar padi hibrida menjapai 8,5 ton. Dengan harga gabah yang berkisar antara Rp. 4,5 hingga 5 ribu tiap kilogram keuntungan petani berpotensi lebih besar.

Raharjo mencontohkan, Di Wareng, Desa Ngalang Kecamatan Gedangsari padi varietas ciherang atau non hibrida menghasilkan 8.2 ton Gabah Kering Giling (GKG) tiap hektar. Sementara varietas padi hibrida intani 602 menghasilkan 8.75 ton GKG per hektar.

Bahkan di tempat lain, di Kecamatan Purwosari padi hibrida hasilnya mencapai 10.5 ton GKG per hektar. Menurut Raharjo, keunggulan varietas hibrida yakni mampu berproduksi tinggi.

“Ditanam di lahan kering seperti Gunungkidul tetap produksi tinggi,” tandaas Raharjo.

Untuk itu, Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Gunungkidul, Ir Bambang Wisnu Broto mengaku akan mengajukan permohonan lagi benih hibrida ke pusat. Adapun pengajuan yang disampaikan sedianya untuk persiapan musim tanam pertama atau MH1 pada Oktober 2019 nanti. (Kandar)

Komentar

Komentar