Iseng Bikin Cutting Siluet Manual, Karya Pemuda Ini Banyak Diminati

Mbuting Santo sedang menyelesaikan karya lukisan siluet dengan cutting manual. KH/ Kandar.

PLAYEN, (KH),–  Sebuah ide yang diwujudkan menjadi karya bernilai akan mendapat apresiasi. Seperti yang dilakukan Susanto (23), pemuda dari Padukuhan Glidak, Desa Logandeng, Kecamatan Playen ini, yang mendapat banyak order atas karya eksentrik bikinannya.

Pemuda ramah yang akrab disapa Mbuting Santo ini membuat kerajinan lukis Silhouette atau siluet dengan teknik cutting manual. Berawal ide sederhana, saat ini banyak peminat yang menghendaki karya Santo untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kado atau hadiah, pernak-pernik hiasan dinding, dan lainnya.

Lukisan siluet dengan cutting manual yang dibuat umumnya bergambar wajah pemesan. Beberapa karya lain diantaranya berupa kaligrafi, dan gambar-gambar tokoh terkenal. Hobi yang kini mendatangkan rupiah ini ia tekuni dengan serius.

“Saya mulai sekitar satu tahun lalu. Awalnya saya bikin kado untuk kakak yang ulang tahun. Lantas ada tetangga yang ikut memesan, mulailah sedikit demi sedikit karya saya dikenal,” tuturnya, Senin, (6/11/2017).

Kini, upaya pemasaran dan pengembangan usaha tersebut dirinya bekerja sama dengan calon istri. Dalam memperluas pasar, lulusan SMK otomotif ini menggunakan beberapa media sosial. Cara ini dinilai efektif untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Santo tergolong lelaki dengan tipikal pekerja keras. Bagaimana tidak, ia sering lembur hingga pagi hari untuk menyelesaikan pesanan. Dirinya mengaku, malam hari menjadi pilihan waktu yang pas untuk mengerjakan beraneka lukisan. Sebab, siang hari dirinya harus bekerja di sebuah pusat perbelanjaan.

“Tiap bulan rata-rata ada pesanan antara 17 hingga 20 lukisan siluet cutting manual. Harga yang kami patok mulai dari Rp. 90 ribu hingga 150 ribu,” tuturnya.

Selain sebagai pembayaran atas jasa pembuatan, biaya tersebut untuk menutup modal operasional berupa belanja kayu, kertas sticker, cat dan beberapa kebutuhan lain. Meski dibilang usaha sampingan, hasil yang didapat melebihi hasil dari pekerjaannya di pusat perbelanjaan.

Tiap bulan ia memperoleh penghasilan antara Rp. 1,5 juta hingga Rp. 2 juta. Dirinya berharap, karya yang dihasilkan dari rumah produksi yang kini dinamakan Dapur Kriya miliknya ini semakin dikenal secara luas.

“Selain pesanan lokal, ada juga pesanan dari kota-kota di Pulau Jawa. Sementara pesanan paling jauh datang dari Jambi,” tukasnya. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar