Irigasi Tanpa Biaya Operasional Cetak 25 Ha Lahan Pertanian Produktif Sepanjang Tahun

oleh
Keberhassilan irigasi perpipaan tanpa mesin membuat lahan pertanian produktif saat kemarau. KH/ Kandar.

NGLIPAR, (KH),– Secara umum petani Gunungkidul merupakan petani tadah hujan. Oleh sebab itu petani umumnya hanya mampu melakukan kegiatan penanaman rata-rata satu sampai dua kali saja setiap tahun dengan pola Padi-palawija.

Kalaupun ada sumber air, terkadang untuk membuat saluran irigasi bagi lahan pertanian memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi. Menghadapi persoalan tersebut, berbagai inovasi dilakukan petani agar lahan yang dimiliki tetap produktif saat musim kemarau. Sebagaimana dilakukan Kelomok Tani Ngudi Raharjo Dusun Kedungppoh Kidul, Desa Kedungoh, Kecamatan Nglipar.

Kepala Dusun Kedungpoh Kidul, Sutejo mengatakan, inovasi irigasi yang diciptakan nyaris tanpa biaya operasional. Sebab jauh lebih murah dari yang dibuat sebelumnya.

“Sebelumnya pakai mesin pompa air. Saat ini dikembangkan sistem irigasi dengan memanfaatkan beda tinggi (gravitasi) dan sistem kapilaritas. Sehingga air dapat mengalir dari sumbernya menuju lahan yang berjarak 1 kilometer tanpa bantuan mesin,” papar dia.

Sebelumnya, setiap mengalirkan air dengan mesin pompa dari Sungai Tambran di wilayah setempat, per blok lahan sedikitnya membutuhkan biaya Rp. 200 ribu untuk BBM dalam satu hari. Namun karena saat ini tidak pakai mesin, pengelola hanya akan membutuhkan biaya ganti kran air untuk periode tertentu saja jika mengalami kerusakan.

Dengan keberhasilan tersebut, petani mampu menanam tanaman pertanian terus menerus dalam satu tahun. “Kami kedepan dapat menanam padi dua kali, lalu dilanjut palawija atau tanaman hortikultura. Potensi air diprediksi mampu mencukupi 20 hingga 25 hektar lahan,” sambung dia.

Dijelaskan, sarana irigasi perpipaan kapilaritas ini merupakan bantuan dari Dinas Pertanian Dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul. Keberadaannya melanjutkan irigasi dengan mesin pompa yang pernah dicoba oleh kelompok tani, namun berhenti karena biaya operasional yang tinggi.

Ditemui di lahan pertanian di Dusun Kedungpoh, salah satu petani, Winarti mengaku bahwa keberhasilan irigasi perpipaan sangat menunjang kegiatan pertaniannya. Lahan garapan yang ia miliki akan produktif sepanjang tahun.

“Meski kemarau kami dapat menanam aneka sayuran, ada sawi, kacang panjang, bayam, kangkung, dan jagung manis. Kelompok pemanfaat air ‘Lantip’ dibentuk menyusul berfungsinya irigasi perpipaan,” tuturnya. (Kandar)

Komentar

Komentar