Inspiratif, Kembangkan Jamur Di Sekolah Untuk Tingkatkan Pendapatan GTT

oleh
Budidaya jamur tiram di SD Jatisari, Ponjong. KH

PONJONG, (KH),– Meratapi situasi akan semakin mempersulit ditemukannya solusi. Sementara berfikir kreatif dan mau mencoba hal baru dapat menjadi jalan keluar atas kesulitan yang membelenggu. Ungkapan tersebut sesuai dengan apa yang dirintis SD Jatisari, Kecamatan Ponjong.

Untuk memberikan tambahan penghasilan bagi honorer, diantaranya Guru Tidak tetap (GTT) dan Pegawai Tidak tetap (PTT), SD Jatisari mengembangkan budi daya jamur tiram.

Disampaikan Kepala Sekolah SD Jatisari, Subardi, S.Pd, kegiatan ekstra kewirausahaan yang dijalankan GTT dan PTT tersebut dimulai pada awal Agustus 2017 lalu. Pengembangan jamur tiram dipilih atas potensi yang dihasilkan serta tersediannya media.

“Sekolah kami cenderung memiliki suhu yang sejuk dan lembab. Terdapat area antara gedung ruang kelas dan ruang belakang yang cocok dijadikan tempat budi daya jamur,” ungkap Subardi, Senin, (5/3/2018).

Lebih jauh dikatakan,  GTT dan PTT di SD Jatisari patungan untuk modal membuat rangka tempat menaruh baglog (media tumbuhnya jamur) serta membeli baglog itu sendiri. Pada awal budidaya, dilakukan ujicoba sebanyak 100 baglog jamur tiram.

Usaha tersebut membuahkan hasil. Dari 100 baglog, saat ini telah dikembangkan sebanyak 700 baglog. Jamur-jamur yang dipanen setiap harinya itu dijual kepada wali murid, warga sekitar sekolahan, serta kepada penjual sayur keliling, hingga pedagang di pasar.

“Hasil penjualan untuk tambahan pemasukan bagi honorer karena anggaran dari sekolahan minim,” terang lelaki yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah SD Ngabean Ponjong serta mengantarkannya meraih Adiwiyata Nasional 2013 silam ini.

Salah satu GTT, Dyah Anita Fibriyanti S.Pd. SD mengaku, kegiatan kewirausahaan di SD tempat dia mengajar mampu memberikan tambahan pendapatan. Selain itu, dapat pula menjadi media pembelajaran bagi siswa serta edukasi berupa upaya pemanfaatan limbah gergaji kayu.

Dijelaskan, hasil yang didapat dari panen baglog cukup lumayan. Jamur akan tumbuh di baglog antara 6 hingga 8 kali selama kurun waktu 3 hingga 4 bulan.

“Tumbuhnya jamur tidak serentak, tiap hari kita panen dan jual antara 3 hingga 4 kilogram. Satu kilogram jamur laku Rp. 15.000,” rinci Dyah. Sementara itu baglog-baglog tersebut dibeli dari produsen di wilayah Sleman dengan harga Rp. 2.500 tiap baglog.

“Perawatannya sangat mudah, hanya dengan semprotan air yang tidak terlalu basah. Tiap baglog kira-kira mampu memberikan keuntungan sekitar Rp.3.000,” tukas Dyah. (Kandar)

Komentar

Komentar