Ibu Paruh Baya di Watusigar Ngawen Meninggal di Ruang Penyimpan Gabah

oleh
ilustrasi. Dhadhung, kala, jerat, tali. KH/WG
Ilustrasi. Dhadhung, kala, jerat, tali. KH/WG

NGAWEN, (KH),– Seorang ibu paruh baya, Sudarsi (44) dari Padukuhan Sambirejo, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri, pada Jum’at pagi (4/1/2018).

Hasil pengumpulan informasi dan keterangan oleh pihak berwenang dari keluarga dan para saksi mengindikasikan, bahwa pelaku sedang mengalami tekanan kejiwaan karena permasalahan ekonomi.

Peristiwa pagi hari tersebut cukup mengagetkan warga setempat. Warga berduyun-duyun mendatangi lokasi kejadian, usai mendengar jeritan minta tolong suami Sudarsi yang bernama Sumardi.

Petugas Kepolisian Sektor Ngawen dan petugas medis dari Puskesmas Ngawen 1 juga mendatangi lokasi kejadian untuk memastikan penyebab kematian Sudarsi.

Berdasar keterangan Kapolsek Ngawen AKP Kasiwon melalui Kanit Reskrim, Iptu Suryanto S.Pd, peristiwa tersebut diketahui pertama kali oleh Sumardi sekitar pukul 10.00 WIB.

“Suami pelaku pulang dari ladang sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu melihat rumah dalam kondisi sepi,” terang Iptu Suryanto.

Sambung Iptu Suryanto, lantas Sumardi masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan istrinya. Kaget bukan kepalang, ia mendapati istrinya tergantung sudah tidak bernyawa di sudut ruangan. Dirinya menjerit melihat istrinya tergantung kain biru di ruang penyimpan gabah.

“Diduga depresi karena himpitan ekonomi,” ujar Iptu Suryanto.

Sementara itu dr. Pudji Astuti memastikan bahwa kematian Sudarsi murni akibat bunuh diri. Selesai proses pemeriksaan, jasad Sudarsi diserahkan ke pihak keluarga untuk dilakukan prosesi pemakaman. Iptu Suryanto juga menginformasikan, bahwa keluarga telah menerima kematian Sudarsi, dan pihak keluarga akan melakukan prosesi pemakaman dengan selayaknya. (Kandar)

***

Catatan Redaksi:

Ayo bantu cegah bunuh diri di Gunungkidul dengan cara peduli kondisi fisik dan kejiwaan anggota keluarga, sanak saudara, dan sesama. Berikan bantuan kepada sesama yang memerlukan dukungan permasalahan kejiwaan atau kesejahteraan mental. Menyambungkan sesama yang membutuhkan pertolongan dengan layanan kesehatan terdekat (Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit) atau layanan konseling kepada pemuka masyarakat dan pemuka agama setempat dapat menjadi upaya preventif mencegah bunuh diri.

Komentar

Komentar