Hujan Mengguyur, Pengunjung Pembukaan Cupu PanJala Sepi

oleh
Juru kunci, Dwijo Sumarto melakukan ritual sesaat sebelum melakukan pembukaan Cupu. KH
Juru kunci, Dwijo Sumarto melakukan ritual sesaat sebelum melakukan pembukaan Cupu. KH

PANGGANG, (KH)— Hujan yang mengguyur wilayah Gunungkidul sejak Senin, (26/9/2016) sore nampaknya membuat warga enggan datang menyaksikan tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala di Padukuhan Mendak, Desa Girisekar, Panggang.

Seperti biasa, pada Selasa Kliwon dini hari di kediaman Dwijo Sumarto, selaku juru kunci sekaligus pemilik Cupu Kyai Panjala dilaksanakan ritual atau upacara pembukaan kain mori pembungkus cupu.

Diduga kuat lantaran hujan serta hawa dingin yang menyelimuti malam pembukaan cupu itu mengakibatkan pengunjung turun drastis. Padahal biasa terjadi pada waktu ritual sebelumnya pungunjung selalu mencapai angka ribuan.

“Kisaran hanya 500-an pengunjung, kali ini terhitung sepi, berbeda dari tahun sebelumnya,” kata Anjar Gunantoro,” tokoh warga Desa Girisekar.

Hal senada mengenai sedikitnya pengunjung diungkapkan oleh anggota kepolisian Polsek Panggang yang bertugas. menurutnya cuaca menjadi kemungkinan penyebab utama menurunnya jumlah pengunjung.

“Sepertinya gara-gara hujan sehingga jumlah pengunjung berbeda jauh dari sebelumnya,” kata Yayan Eko P, Babinkamtibmas setempat.

Hujan juga sempat membuat keluarga trah dan warga sekitar kerepotan mempersiapkan segala sesuatu agar pembukaan cupu berjalan lancar. Untuk diketahui, sebelum dibuka beberapa prosesi ritual terlebih dahulu dilakukan oleh sang juru kunci dibantu keluarga dan warga sekitar.

Rangkaian kenduri selamatan, atau berdoa dilakukan dua kali. Yang pertama merupakan kenduri syukur terutama bagi mereka yang hajatnya terkabul di tahun lalu setelah menyampaikan permohonan melalui juru kunci pada ritual yang sama sebelumnya. Kemudian yang kedua merupakan kenduri selamatan sebelum pembukaan cupu.

Nasi gurih, ingkung serta lauk pauk diberikan sebagai sajian santapan kepada seluruh pengunjung pada kenduri yang ke dua. Biasanya pengunjung yang datang tak hanya dari Gunungkidul saja, banyak dari mereka berasal dari wilayah seputar DIY, Magelang, Wates, bahkan Tawangmangu

Masih banyak yang  meyakini, hadir dalam tradisi adat turun-temurun ini dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup, baik rezeki, jodoh, karir dan juga dalam hal pendidikan serta kesehatan.

Konon gambar kain pembungkus cupu menunjukkan pralambang atau tanda mengenai sesuatu yang akan terjadi di tahun depan, bagi sebagian masyarakat hal ini masih dipercaya. Dahulu kala pertanda ini hanyalah untuk ramalan pertanian saja, namun perkembangannya saat ini dimaknai juga sebagai pertanda terkait kehidupan sosial, ekonomi dan juga politik. (Kandar)

Komentar

Komentar