Hobi Game Matematika Sejak TK, Pelajar Tepus Ikuti Lomba Tingkat Nasional

oleh
Alief Tegar Pramudya, pelajar yang akan mengikuti lomba matematika tingkat nasional memiliki kebiasaan main game matematika sejak TK. KH/ Woro.

TEPUS, (KH)— Bagi sebagian besar pelajar di Gunungkidul dan bahkan di Indonesia, pelajaran matematika itu selayaknya hantu yang menakutkan. Matematika terlihat demikian rumit untuk dipelajari.

Akan tetapi bagi Alief Tegar Pramudya (9), matematika justru adalah pelajaran yang amat menyenangkan. Yang menarik, kesukaan Alief pada matematika bermula dari kebiasaanya bermain game di telepon pintar milik orang tuanya.

Fenomena Alief ini barangkali adalah bukti bahwa asalkan diarahkan pada hal tepat dan terkontrol, bermain game bisa memberi pengaruh positif bagi anak-anaknya.

Ditemui di rumahnya pada Kamis (13/04/2017), Alief tampak sedang sibuk mencoretkan angka-angka secara tak beraturan. Untuk ukuran anak SD jelas coretan-coretan tersebut sangatlah rumit. Saat ditanya tentang angka-angka tersebut, pelajar kelas 3 SD Muhammadiyah Wonosari ini hanya tersenyum tanpa ma umenjawab.

Orang tua Alief, Pipit Fitriyani menjelaskan, bahwa perlombaan matematika yang diikuti anak sulungnya bukanlah memecahkan soal matematika berdasarkan rumus-rumus yang diajarkan di sekolah.

“Dalam lomba, peserta dituntut menciptakan sendiri rumusnya,” jelasnya.

Pipit mengisahkan, awal mula anaknya tertarik dengan matematika adalah karena seringnya Alief bermain game matematika di android miliknya.

“Sejak TK senangnya bermaingame matematika. Barangkali karena itulah anak saya secara naluri jadi suka dengan pelajaran matematika,” kisahnya.

Dia bersama suaminya, Cahyo Nugroho, sejak dulu memang tidak melarang anak-anaknya untuk bermain perangkat komunikasi yang mereka miliki.

“Saya dan suami dari dulu tidak melarang anak-anak untuk bermain HP atau lainnya, karena mereka akan menangis. Yang saya lakukan hanyalah mengawasi penggunaannya dan mengarahkan ke hal-hal yang baik sesuai usia mereka,” lanjutnya.

Ditanya tentang persiapan apa yang dilakukan untuk menghadapi perlombaan di Institut Pertanian Bogor (IPB), Pipit mengungkapkan, upaya yang dilakukan dengan memperpanjang intensitas belajar anaknya di rumah dan menambah kegiatan bimbingan belajar di luar rumah.

“Biasanya Alief belajarnya sekitar 1,5 jam sehari, namun untuk menghadapi perlombaan di IPB besok jam belajarnya tambah jadi 3 jam sehari,” imbuhnya

Pipit tak menutupi rasa bangganya atas prestasi yang diraih putranya. “Tentu bangga bisa sampai tingkat nasional,” kata Pipit lagi.

Tak lupa dirinya meminta doa restu agar anaknya bisa mendapatkan yang terbaik. “Mohon doanya, mudah-mudahan anak saya bisa bertambah pengalaman dan syukur-syukur bisa juara,” pungkasnya. (Woro)

Komentar

Komentar