Hewan Kayu Karya Riyadi Pernah Dibeli Rp. 35 Juta Per Unit

Aneka kerajinan akar kayu menjadi patung-patung hewan karya Riyadi. KH/ Kandar

PANGGANG, (KH)— Berkunjung ke rumah Riyadi (43) di Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang, akan menemui pemandangan berbeda. Baik di halaman, atau beranda samping kanan dan kiri rumah akan ditemui banyak binatang.

Ada Kuda, kura-kura, Rajawali, dan Banteng, bahkan beberapa yang lain merupakan hewan buas, seperti Singa dan Harimau. Namun hewan-hewan tersebut bukanlah hewan sungguhan, melainkan patung hewan kayu, kerajinan karya Riyadi.

Potongan dan serpihan kayu tak beraturan tersebut dipadukan, disusun menjadi bentuk aneka satwa dengan beragam pose. Selain sampel pajangan diantaranya adalah pesanan dari gallery atau marketing kerajinan di wilayah Yogyakarta.

Riyadi mengatakan, perjalanan rumah produksi kerajinan hiasan ruangan yang ia geluti berawal dari pekerjaannya yang berprofesi sebagai tukang kayu atau mebelair. Profesinya yang dijalani sejak 1995 tersebut dianggap tak memberikan kepastian hasil.

“Saya merantau ke Sumatra. Di sana bekerja dengan profesi yang sama sebagai tukang kayu,” terangnya. Pada akhirnya ia memutuskan pulang dikampung halaman. Kembali menjalani rutinitas sebagai tukang kayu panggilan.

Suatu ketika peluang baru datang kepadanya. Lelaki empat anak ini ditawari oleh salah satu pemasar produk kerajinan di wilayah Yogyakarta untuk membuat kerajinan lonceng berbahan kayu. Ia menilai hasil dari pembuatan kerajinan tersebut mampu memberikan lebih banyak tambahan pemasukan.

Agar memperoleh pesanan lagi, tahun 2007 ia mulai membuat kerajinan lain sebagai sampel. awalnya ia memilih membuat alat-alat pertanian, seperti cangkul, sabit dan lainnya.

“Saya keliling pakai motor tawarkan ke sejumlah gallery di Yogyakarta,” kisahnya. Singkatnya, minat konsumen terhadap produk kerajinan hiasan berbahan akar kayu buatan Riyadi meningkat. Seriring waktu berjalan, perkembangan jumlah jenis juga kerajinan juga bertambah.

“Harga cukup bervariasi, tergantung ukuran karya, tingkat kesulitan pembuatan, dan bahan pembuat. Dari yang paling murah seharga Rp. 450.000, Rp. 500 ribu, Rp, 1,5 juta, bahkan pernah sekali  menjual hingga laku Rp. 35 juta,” paparnya.

Permasalahan yang dihadapi Riyadi berbeda dengan pengusaha Gunungkidul lainnya, ketika yang lain kesulitan dalam pemasaran, Riyadi justru kesulitan memperoleh bahan baku. Tingginya permintaan dan keterbatasan tenaga professional membuatnya membatasi permintaan yang datang.

“Bahan pembuat benar-benar sulit sekarang, sejak tahun 2013 saya datangkan dari Jepara dan Bojonegoro,” tambahnya. Ditanya hasil, dalam setahun ia memprediksi mendapat omset kotor sebanyak Rp. 500 juta. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar