Hari Santri Nasional, Momentum Penghayatan Atas Nilai-Nilai Falsafah Hidup

Makan bersama satu wadah/ kembulan ala santri diikuti oleh Wabup Gunungkidul, Dandim, Kejari, dan ketua Tanfidziyah NU Gunungkidul. KH/ Kandar
Makan bersama satu wadah/ kembulan ala santri diikuti oleh Wabup Gunungkidul, Dandim, Kejari, dan ketua Tanfidziyah NU Gunungkidul. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober tahun ini diperingati dengan berbagai kegiatan.  Di Gunungkidul kegiatan seremonial peringatan dilaksanakan Apel Santri di alun-alun Pemda yang diikuti Bupati beserta Wakil Bupati, Dandim O730, Kapolres dan Jajaran Forkompinda.

Selepas upacara, kegiatan dilanjutkan dengan Sarasehan Santri bersama Wakil Bupati, DR. Drs Immawan Wahyudi, MH, Dandim, Kejari dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Gunungkidul di Ponpes Darul Qur’an Wal Irsyad, Wonosari. pada kesempatan tersebut, Immawan mengajak para santri untuk melaksanakan apa yang tertuang dalam Resolusi Jihad NU.

“Pertama saya mengucapkan selamat Hari Santri, semoga menjadi inspirasi bagi semua, kemudian yang kedua mudah-mudahan dari seluruh pemikiran-pemikiran yang ada di resolusi jihad dapat kita laksanakan,” katanya seusai makan bersama satu wadah/ kembulan ala santri bersama Dandim, Ketua Tanfidziyah NU dan perwakilan Kejari Gunungkidul.

Sambung Immawan, pelaksanaan resolusi jihad dimaksudkan untuk kemanfaatan warga dalam berbangsa dan bernegara, lalu khususnya di Gunungkidul momentum hari santri merupakan inspirasi sekaligus energi baru untuk memajukan Gunungkidul yang makmur dan sejahtera.

Menurutnya, menjadi hal yang penting, bahwa Hari Santri ini harus melihat ke belakang atau flashback mengenai sejarah, kemudian dipadukan dengan kenyataan  sekarang bahwa santri tidak hanya yang ada di pesantren.

Saat ini, ungkapnya, santri sudah beraneka rupa berada atau merambah diseluruh aspek kehidupan, ada santri menjadi pengusaha, militer, birokrat dan sebagainya, sehingga inspirasi dari resolusi jihad itu pas sekali untuk menggambarkan masa lalu, kemudian paduan kenyataan sekarang Inshaa Allah merupakan jihad bagi masa depan santri.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah NU Gunungkidul, H Arief Gunadi, mengatakan, sebenarnya peringatan hari santri bukan seremonial semata tetapi hal ini lebih kepada penghayatan atas nilai-nilai falsafah hidup untuk mempunyai sikap toleransi, gotong-royong, kemudian terus berjuang membangung sinergitas interaksi antar elemen, antar sosial masyarakat, dan antar manusia, tidak hanya sesama warga NU sendiri tetapi juga diluar NU dan bahkan kepada umat lain.

“Kehadiran NU sebenarnya mengembangkan azas-azas Rahmatan Lil ‘Alamin, jadi bagaimana agar kedepan santri mampu berkontribusi untuk dapat turut serta membangun bangsa ini dan turut menciptakan situasi dan konsdisi yang dinamis, aman, yang tidak lagi ada gesekan-gesekan, tidak ada yang namanya fragmentasi antar elemen masyarakat sehingga yang ada adalah untuk memajukan masyarakat,” tandasnya. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar