Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia Diwarnai Bunuh Diri, Imaji Ajak Lawan Stigma Dan Tingkatkan Kepedulian

ilustrasi. Dhadhung, kala, jerat, tali. KH/WG

WONOSARI, (KH),– Minggu, (10/9/2017) kemarin diperingati sebagai Hari pencegahan bunuh diri sedunia. “Luangkan Satu Menit untuk UbahKehidupan (Take A Minute, Change A Life)” adalah tema peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia tahun 2017 yang ditetapkan oleh IASP (International Association for Suicide Prevention).

Begitu miris, bertepatan dengan hari pencegahan tersebut terjadi tindakan bunuh diri di Gunungkidul. Sebagaimana diketahui, Waspodo (52), warga Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang bunuh diri di sebuah hutan/ alas di wilayah setempat.

Menurut Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji), sebuah perkumpulan swadaya masyarakat yang berkedudukan di Gunungkidul, yang berfokus berkarya pada upaya promotif dan preventif peningkatan kesehatan jiwa masyarakat dan pencegahan bunuh diri, hal tersebut menjadi pengingat sekaligus pesan agar semua pihak menyatukan pandangan dan bergerak melangkah melakukan penanggulangan.

Ketua Imaji, Jaka Yanu Widiasta mengajak seluruh komponen masyarakat Gunungkidul, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, satuan vertikal pemerintah pusat di Gunungkidul, BLU RSUD Wonosari, UPTD Puskesmas se-Gunungkidul, RS/Klinik/BP Swasta se-Gunungkidul, karangtaruna, ormas/organisasi keagamaan/LSM se-Gunungkidul, tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, para pendidik, dan insan media-massa; untuk terus berjuang dan berkarya tanpa lelah bersama-sama melakukan upaya penanggulangan dan pencegahan peristiwa bunuh diri yang secara faktual masih terjadi di Kabupaten Gunungkidul.

Berdasar data, Dalam kurun waktu 2001-2016, di Kabupaten Gunungkidul tercatat sebanyak 458 kejadian bunuh diri dan termasuk percobaan bunuh diri. Rata-rata masih terjadi 28-29 kejadian bunuh diri per tahun. Pada tahun 2017 sampai 10 September 2017, tercatat sebanyak 27 peristiwa bunuh diri.

“Semua pihak sesuai kapasitas masing- masing bersedia sangkul-sinangkul ing bot-repot (bahu membahu) untuk peduli dan mengambil bagian dalam upaya penanggulangan dan pencegahan bunuh diri,” ajak Jaka.

Melalui release, Imaji menyerukan beberapa poin penting, diantaranya;

Kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, satuan vertikal pemerintah pusat, ormas, karangtaruna, organisasi keagamaan, BLU RSUD Wonosari, UPTD Puskesmas, dan RS/Klinik Swasta : 1) Mari berikan perlindungan kepada masyarakat dengan memahami peristiwa bunuh diri sebagai isue permasalahan kesehatan jiwa masyarakat dalam cara pandang/ kebijakan organisasi, 2) Mari menjadi lembaga melawan stigma (pandangan dan cap buruk) masalah bunuh diri dan kesehatan jiwa, 3) Mari tingkatkan penjangkauan dan kapasitas layanan kesehatan jiwa sampai dengan tingkat UPTD Puskesmas, RS/ Klinik/ BP Swasta di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Kepada masyarakat umum, tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, pendidik, dan insan media-massa: 1) Mari pahami peristiwa bunuh diri sebagai peristiwa kemanusiaan yang terkait erat dengan kondisi kesehatan jiwa masyarakat, 2) Mari menjadi bagian melawan stigma masalah bunuh diri dan kesehatan jiwa, 3) Mari bergerak tolong sesama dengan caraLIHAT (peduli situasi lingkungan terdekat), DENGAR (peduli mendengarkan dan berempati terhadap masalah yang dihadapi), dan SAMBUNGKAN (menyambungkan kepada unit layanan kesehatan terdekat, layanan sosial/keagamaan terdekat, dan layanan bantuan kemanusiaan lainnya yang ada). (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar