Hadapi Beragam Kendala, UMKM Pengolah Ketela Mogok

oleh
Bekas ruang produksi UMKM Mugi Rahayu, sudah dua tahun berhenti beroperasi. KH/ Kandar
Bekas ruang produksi UMKM Mugi Rahayu, sudah dua tahun berhenti beroperasi. KH/ Kandar

KARANGMOJO, (KH)— Salah satu Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) pengolah ketela di Gunungkidul kini kondisinya mati suri. Tidak beroperasinya home industry tersebut akibat beragam kendala yang dihadapi cukup sulit upaya pemecahannya.

UMKM yang berada di Padukuhan Seropan, Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo ini sebagaimana disampaikan Bendahara, Ema Maliyani, sudah tidak beroperasi selama kurang lebih dua tahun. Saat ditemui bersama salah satu anggotanya ia menyampaikan panjang lebar berbagai hal penghambat kelangsungan usaha pembuatan produk utama Pathilo.

Padahal, ujar dia, bimbingan dan bantuan peralatan dari  UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta, yang berada di Gading, Playen Gunungkidul pada 2008 lalu telah diperolah.

“Setelah ada introduksi dan penyediaan peralatan sempat mengalami peningkatan produksi, dari 25 kilo gram setiap proses menjadi 50 kilo gram,” katanya, beberapa waktu lalu.

Bersama LIPI perbaikan proses secara kontinyu dilakukan. Produk Pathilo telah diupayakan memiliki ukuran yang seragam, selain itu plastik kemasan berjenis polypropilen (PP) dengan ketebalan 0,8 mm sudah diberi label, lalu digunakan pula mesin sealer agar kemasan terlihat rapi dan tertutup rapat.

Tak sebatas itu, dukungan upaya perluasan pemasaran juga telah dilakukan, apabila sebelumnya hanya dijual melalui warung-warug sekitar UMKM dan pasar tradisional, serta Koperasi LIPI Gading (KOLIGA), produk juga diikutsertakan pada pameran yang diselenggarakan baik di dalam maupun luar DIY.

Meski serangkaian upaya telah dilakukan, kenyataannya kelangsungan usaha UMKM “Mugi Rahayu” ini sulit dipertahankan. Diuraikan Ema, faktor penghambatnya ialah permintaan pasar yang tidak stabil, hal ini dimungkinkan karena upaya promosi yang tidak maksimal.

“Memang pemasaran sepertinya kurang gencar, pernah laku dalam jumlah banyak itu karena melalui perantara LIPI, sementara di daerah lokal tidak begitu tinggi jumlah yang terjual,” sebut Ema.

Dia melanjutkan, tidak stabilnya omset, diikuti dengan hasil pendapatan yang diperoleh masing-masing anggota kelompok dirasa tidak sesuai dengan beban dan durasi waktu bekerja. Ema merinci, hasil untuk produk Pathilo tiap bahan ketela seberat 50 kilo gram diperoleh keuntungan sebanyak kurang lebih Rp. 28.000.

“Setiap bahan ketela 50 kilogram dihasilkan Pathilo sekitar 14 kilogram, hasil bersih dari penjualan setelah dikurangi operasional produksi disepakati bahwa upah setiap anggota dalam bekerja setiap satu jam mendapat Rp. 1.500,” rinci Ema.

Maka, sambung dia lagi, dalam sehari bekerja kira-kira mendapat Rp. 11 ribuan. Sehingga sebagian anggota terkadang memilih bekerja atau buruh tani di ladang. Lebih jauh disampaikan, kegiatan proses produksi juga terkendala cuaca.

Terik matahari sangat mempengaruhi hasil produk yang dibuat, menurutnya apabila tidak terkena panas secara maksimal saat penjemuran warna Pathilo tidak bisa putih sempurna. Sebab, hal ini juga akan mempengaruhi harga jual.

Dalam proses pengukusan juga terbilang rumit, apabila api tidak stabil maka hasilnya juga kurang baik, padahal selama ini proses pengukusan masih mengandalkan kayu bakar. Anggota kelompok sepakat sengaja tidak menggunakan kompor gas karena dinilai biaya operasionalnya jauh lebih tinggi.

Saat ditanya kapan mau memulai memproduksi Pathilo lagi, mereka belum dapat memastikan mengingat upaya pemecahan masalah yang dihadapi seakan mentok. “Belum tahu kapan membuat lagi, waktu luang anggota ibu-ibu juga terbentur dengan kesibukan mengurus keluarga,” kata Ema lagi. (Kandar)

Komentar

Komentar