Gunungkidul Terima Penghargaan Anugerah Kihajar 2018

oleh
Bupati menunjukkan Penghargaan Kihajar Award yang diterima Gunungkidul. Sedangkan Sigit Suryono Guru SMPN 1 Wonosari memperoleh nominasi Duta Rumah Belajar 2018 kategori terinovatif. KH/ Kandar.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Bupati Gunungkidul, Badingah, S,Sos, menerima Anugerah Kita Harus Belajar (Kihajar) 2018 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Penghargaan diberikan oleh Sekjen Kemendikbud RI, Didik Suhardi pada malam Anugerah Kihajar Ke-7 di Jakarta, (12/10/2018) lalu.

Badingah mengaku sangat bangga atas raihan penghargaan yang dicapai. Sebab meski keikutsertaan pada kompetisi tersebut baru yang pertama kalinya, namun Gunungkidul telah mampu memperoleh penghargaan kategori Madya.

“Kita memperoleh penghargaan Kihajar kategori Madya. Setingkat lagi mudah-mudahan nanti memperoleh Utama,” harap Badingah, di hadapan awak media, Senin, (15/10/2018) lalu.

Terang Badingah, anugerah Kihajar diberikan diantaranya kepada Gubernur, Bupati/ Walikota atas prestasi pemerintah daerah dalam pendayagunaan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan.

“Pendayagunaan TIK baik dalam hal kegiatan pembelajaran maupun dalam kegiatan administrasi di skeolah dan lembaga pemerintahan terkait,” ulas Badingah.

Pada kesempatan jumpa pers di rumah dinas pihaknya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada tim Kihajar yang berkerja maksimal sehingga keikutsertaan pada kompetisi Kihajar Award 2018 memberikan hasil memuaskan. Usaha menghadapi penilaian oleh tim juri sejak Juni hingga Agustus 2018 mampu mengantarkan Gunungkidul kembali mendapat penghargaan dikancah nasional.

Dalam kesempatan tersebut, bupati juga menyampaikan, Anugerah Kihajar hanya diberikan kepada 16 kepala daerah yang terdiri dari 5 gubernur, 7 walikota dan 4 bupati. Sehingga persaingan antar daerah cukup ketat.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rosyid mengatakan, sistem TIK terintegrasi guna penyelenggaraan pendidikan telah dikembangkan. Di dalam sistem tersebut berisi baik khusus tentang pembelajaran, serta mengenai data pokok pendidikan, keuangan dan lain-lain.

“Kamu juga integrasikan sistem TIK dengan Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) yang lain, misalnya dengan Disdukcapil terkait dengan data siswa,” ungkap Bahron.

Bahron menambahkan, contoh lain pendayagunaan TIK dalam dunia pendidikan yakni dilaksanakannya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada jenjang SMP tahun 2017 lalu.

“Kami juga melaksanakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online yang terintergrasi dengan dapodik dan zonasi. Inovasi ini juga memperoleh apresiasi yang mendukung diperolehnya Anugerah Kihajar,” papar Bahron.

Bersamaan diterimanya Anugerah Kihajar 2018, salah satu pendidik dari SMP N 1 Wonosari, Sigit Suryono, M.Pd juga memperoleh penghargaan Duta Rumah Belajar 2018 kategori terinovatif.

Untuk memperoleh penghargaan tersebut dirinya harus bersaing dengan 7000-an guru se Indonesia. Tahapan yang dilalui cukup panjang. Berbagai penilaian atas inovasi secara kesinambungan dilakukan. Mulai dari pembuatan media pembelajaran dan pemanfaatannya. Hingga replikasi inovasi ke sekolah-sekolah lain. Beberapa inovasi lain yang menunjang perolehan penghargaan yang dilakukan Sigit Suryono yakni pemanfaatan website untuk pembelajaran, serta melatih guru-guru di sekolah lain mengenai cara merubah file Power Point menjadi aplikasi berbasis android. (Kandar)

Komentar

Komentar