Geliat Pasar Argosari, Sentra Ekonomi Rakyat Terbesar di Gunungkidul

oleh
Pasar Argosari Wonosari. KH/Kandar.
Pasar Argosari Wonosari. KH/Kandar.

WONOSARI, (KH) — Pasar  Argosari merupakan pasar utama atau dengan kata lain merupakan pasar terbesar di Gunungkidul. Pasar yang berada di ibu kota kabupaten ini masuk kedalam Kemantren Wonosari bersama dua pasar lain yakni Pasar Kepek dan Pasar Karangtengah. Dari kawasan pasar inilah distribusi barang dan jasa wilayah Gunungkidul menyebar atau terkumpul.

Sesuai data yang disampaikan oleh Lurah Pasar Joko Santoso, jumlah pedagang di pasar yang beroperasi tiap hari ini mencapai 689 orang. Mereka menempati sekitar dua ratusan kios dan sisanya berada di los pasar. “Meski telah dimiliki berstatus hak sewa hampir mencapai ratusan kios, masih terdapat los tidak aktif beroperasi kebanyakan di lantai 2,” ujarnya beberapa waktu lalu saat ditemui di ruangannya.

Berdasarkan domisili pedagang, kebanyakan pedagang berasal dari Gunungkidul. Mereka dikenakan biaya sewa kios atau los berkisar antara Rp 2,5 hingga 5 juta per tahun. Perbedaan harga sewa ditentukan berdasar pada posisi lokasi dan ukurannya.

Seperti diketahui, jenis dagangan yang ada mencapai puluhan ragam pengelompokan. Joko menyebutkan beberapa di antaranya seperti, aneka konveksi atau pakaian dan aksesoris, makanan dan buah, bunga dan jamu, daging sapi dan ayam, ikan segar, dan gerabah.

“Selain itu, pupuk dan garam, kelontong dan bumbu, hasil bumi (pertanian) dan sayur, serta alat pertanian juga elektronik,” jelas Joko Santoso.

Ditambahkan olehnya, jumlah dagangan terbanyak di Pasar Argosari adalah jenis kelontong dan bumbu lalu pakaian dan aksesoris. Dari dua jenis komoditi yang diperdagangkan tersebut sebagian besar berasal dari luar Gunungkidul. Ia menambahkan, kalaupun ada dari produk lokal jumlah prosentasenya sedikit.

Selaras seperti halnya yang disampaikan Joko, Siti Kholimah, seorang pedagang pakaian menuturkan, dagangan pakaian yang dijualnya sebagian besar berasal dari Solo dan Klaten. “Selama ini langganan belanja dagangan pakaian dari sales asal Solo dan Klaten. Dari Gunungkidul ada, blangkon saya ambil dari Karangtengah,” ujarnya.

Sebagaimana yang dikatakan Siti, hal yang sama juga diakui dan dilakukan oleh pedagang pakaian lainnya. Perkiraan warga Karangrejek ini, ada 90% atau lebih pakaian yang diperjualbelikan itu berasal dari luar wilayah Gunungkidul atau produk luar Gunungkidul.

Untuk jenis komoditas sayuran, terkait sumber pemasoknya, komoditas sayuran yang diperjualbelikan di pasar ini maupun yang didistribusikan ke pasar lain di Gunungkidul sebagian besar juga berasal dari luar. Situr, salah satu tengkulak lokal penyuplai sayuran ke pasar mengungkapkan, kisaran perbandingan kebutuhan sayuran di pasar yang berasal dari luar dan lokal sekitar 80% : 20%.

“Dari luar terutama datang bersumber dari Boyolali dan Tawangmangu, misalnya ada dari Klaten dan Yogya atau Bantul kemungkinan sebagian juga dari sana,” ungkapnya.

Situr menyebutkan, petani lokal penghasil sayuran ada dari Kecamatan Wonosari, misalnya di Singkar, Pulutan, dan Wareng, ada juga dari desa di  kecamatan lain seperti Sodo, Duwet, Karangsari, dan beberapa wilayah asal Playen.

Bawang merah dan putih, sawi putih, wortel, kubis, buncis, bangkol, lombok dan terong adalah contoh sayuran yang berasal dari luar, lanjut Situr. Sedangkan komoditas dari dalam Gunungkidul seperti kangkung, bayam, terong, dan lombok pada musim tertentu saja, biasanya sehabis masa panen padi.

Sumbangsih Pasar Argosari terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup tinggi di banding pasar lainnya milik Pemkab Gunungkidul. Kepala Seksi Pendapatan Kantor Pengelolaan Pasar Bagda Sumpena, SE melalui Subbag Tata Usaha Esti Rukmi Pratiwi, S STP menyebutkan, pada Tahun 2014 lalu, khusus Pasar Argosari menyumbang pendapatan ke Pemerintah Kabupaten sebanyak Rp 548. 892.250.

Data Kantor Pengelolaan Pasar menempatkan Kemantren Pasar Wonosari berada di urutan teratas terhadap sumbangsihnya dalam memberikan pendapatan. Setelah Pasar Argosari, pendapatan terbesar adalah dari Pasar Kepek dan Pasar Karangtengah. Kemudian diikuti Kemantren Pasar Semanu-Karangmojo berisi Pasar Umum Munggi, Pasar Hewan Munggi, Pasar Ngenep, Pasar Tengeran, Pasar Wonotoro, Pasar Wiladeg, dan Pasar Bejiharjo.

“Lalu Kemantren Pasar Playen, meliputi Pasar Playen, Pasar Hewan Siyonoharjo dan  Pasar Hewan Ngawu. Sementara 6 Kemantren Pasar lain mengikuti di bawahnya,” papar Esti di kantornya beberapa waktu lalu. (Kandar)