Gelar Seni Budaya Warnai Promosi Tahura Bunder

Pentas kesenian pembukaan wahana wisata Tahura Bunder. Foto: Atmaja.
Pentas kesenian pembukaan wahana wisata Tahura Bunder. Foto: Atmaja.

PLAYEN,(KH) — Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY memperkenalkan dan mempromosikan taman hutan raya (Tahura) Bunder untuk kegiatan rekreasi masyarakat umum. Beberapa wahana permainan untuk anak-anak dan kelengkapan sarana camping ground hutan Bunder sudah selesai dibangun.

Untuk mempromosikan fasilitas di Tahura tersebut, pada Minggu pagi (08/03/2015) Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY mengadakan kegiatan pertunjukan kesenian reog, tarian dan campursari. Tahura Bunder yang berlokasi persis di samping jalur utama jalan raya Jogja-Wonosari diharapkan mampu melengkapi daya tarik wisata di Gunungkidul.

Kepala Bidang Penataan Hutan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY Ir Woro Sulistyaningsih mengatakan, hari ini diadakan berbagai pertunjukan kesenian. Selain untuk ikut melestarikan kebudayaan, acara tersebut juga salah satu cara untuk menarik perhatian wisatawan.

“Selain itu, di Tahura juga bisa digunakan untuk kegiatan kepramukaan. Saat ini terdapat satu pendopo dan 10 kamar mandi dan sarana outbond,” ucapnya.

Ia menambahkan, kepada pihak sekolah maupun instansi tertentu yang akan menggunakan tempat dan sarana tersebut agar menghubungi mantri hutan yang berada di BDH Playen RPH Banaran. “Bagi instansi yang ingin menggunakan camping ground dapat menghubungi Pak Lukas Mantri RPH Banaran,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu warga yang datang Sutiyono (52) mengatakan, taman bermain di Tahura dapat menjadi wahana bagi warga yang akan mengisi akhir pekan bersama keluarga. Selain itu rindangnya pepohonan yang ada memberi suasana yang berbeda dengan tempat lain.

“Meski berada di dekat jalur utama yang selalu ramai setiap akhir pekan, taman dan arena bermain anak berada di dalam yang jaraknya cukup aman dari jalan raya,” katanya.

Ia berharap, taman hutan rakyat ini tetap mendapatkan perhatian terutama dalam hal perawatan. Pengunjung juga merasa nyaman ketika tahura tetap terawat. “Harapannya apa yang sudah ada dapat dikembangkan dan dijaga,” tandasnya. (Atmaja).

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar