Gapura Pecinan Marak, Gapura Lar Badak Terpinggirkan

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gapura Lar Badak dibangun di pintu masuk sebuah wilayah Administratif.

WONOSARI, (KH)— Gapura Lar Badak merupkan salah satu bangunan warisan budaya menjadi ciri khas Mataram Yogya. Keberadaannya semakin tergantikan dengan gapura model baru atau biasanya banyak disebut gapura pecinan.

Sebagaimana dikatakan Ketua Dewan Budaya Gunungkidul, CB supriyanto baru-baru ini, apabila masyarakat ingin mendirikan gapura, menurutnya sudah jarang yang memilih mendirikan gapura Lar Badak.

“Gapura Pecinan ada setelah era reformasi Tahun 1998,” terang CB Supriyanto saat ditemui di kediamannya.

Terlebih, pelaksanaan lomba desa akhir-akhir ini secara tidak disadari semakin mendesak kelestarian Gapura Lar Badak. Karena banyak kebijakan pemerintah desa untuk membangun gapura secara seragam.

Pihaknya tidak menganggap hal tersebut sesuatu yang bertentangan atau keliru karena hal tersebut juga merupakan bagian dari budaya yang muncul. Sebagaimana diketahui budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa.

“Tetapi mungkin masyarakat tidak tahu atau lupa ada Gapura Lar Badak yang mempunyai filosofi. Menjadi ciri khas serta membawa pesan moral keraton,” ungkapnya.

Untuk itu, belakangan ini Dewan Budaya mengadakan sosialisasi di 18 kecamatan. Menyampaikan terkait makna filosofi Gapura Lar Badak, agar masyarakat luas tahu arti dan sejarahnya. CB Supriyanto memaparkan, arti nama dan makna simbol atau lambang bagian-bagian dari gapura. Lar diartikan swiwi atau sayap, ada di bagian kanan dan kiri jalan/ pintu masuk. Urai CB, Badak itu binatang kuat (dari Amerika) dengan usia lebih dari 40 tahun.

Sambung Supriyanto, Ujung tiang berupa bunga Melati yang melambangkan kesucian. Bunga melati memiliki lima kelopak. Jumlah kelopak ada lima ini erat kaitannya dengan pendidikan. Lima kelopak diartikan bahwa Yogyakarta sejak dahulu memang sudah direncanakan menjadi kota pelajar yang memiliki lima jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi.

Pada Gapura Lar Badak ‘sempurna’ pada tiang terdepan (lebih tinggi) atau belakang (lebih pendek) di bagian bawah melati sebenarnya terdapat tiga tingkatan persegi empat, hal tersebut menunjukkan bahwa budaya berasal dari tiga hal yakni cipta, rasa dan karsa.

Sedangkan penghubung antara tiang yang tinggi dan yang lebih rendah pada sisi atas sayap terdapat variasi lengkungan. Dilihat dari tinggi tiang yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi menggambarkan makna sebuah cita-cita.

Cita-cita yang disusun atau direncanakan harus naik ke tingkatan lebih baik atau tinggi menuju bunga melati yang melambangkan kesucian. Tiang atau pilar digambarkan pemimpin makanya lebih besar dan kuat, kokoh mampu mengayomi. Serta adanya lubang pada sayap berjumlah tujuh menunjukkan bahwa untuk menuju sesuatu yang baik itu perlu melalui sebuah perjalanan/ laku. Dimana laku tersebut harus penuh keterbukaan dan transparansi.

Lantas pada bagian bangunan pondasi bagian bawah merupakan rakyat. Manunggal atau menyatunya peminpin dengan raykat dimanifestasikan dari pertemuan antara pondasi dan tiang. Pemimpin dan yang dipimpin harus tegak dan jujur.

CB Supriyanto tidak menampik bahwa pebangunan gapura baru banyak yang memilih model baru atau yang banyak disebut sebagai gapura pecinan. Gapura Lar Badak banyak dinilai berbiaya lebih mahal jika dibangun, serta tidak efisien tempat karena berukuran panjang. (Kandar)

Komentar

Komentar