Furniture Berbahan Limbah, Tak Disangka Laku Hingga Belanda

oleh
Tukimin dengan produk Furniture berupa satu set meja kursi tamu. KH/ Kandar
Tukimin dengan salah satu produk Furniture berupa satu set meja kursi tamu. KH/ Kandar

SEMIN, (KH)— Siapa sangka, usaha dibidang furnitur yang pernah diremehkan kini malah makin berkembang. Usaha ini berdiri sekitar satu tahun yang lalu, awalnya dimulai dari sebuah keinginan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, tetangga sekitar dan masyarakat, dari situ dirintislah pembuatan berbagai mebelair yang mengedepankan keunikan, estetika, dan beda dengan yang lain.

Berada di Padukuhan bernama Kerdon, Desa Karangsari, Kecamatan Semin, Tukimin yang tak lain kepala dukuh setempat memiliki keinginan adanya peningkatan ekonomi dan taraf hidup, mengandalkan gajinya sebagai pamong desa saja, rasanya tak cukup untuk memiliki kesempatan mendorong perbaikan ekonomi orang lain.

Dimulai dari sebuah uji coba, dengan bantuan warga setempat yang bekerja di bidang Furnitur di Yogyakarta, ia diminta untuk membuat meja sebagai sampel untuk dipromosikan. Latar belakang pengalaman yang minim tak membuatnya ragu, prinsipnya yang penting mencoba terlebih dahulu.

“Pak Walyono dan Pak Ragil Sadari yang memberikan dukungan dan support awal pembuatannya, kami diminta membuat mebelair berbahan kayu jati limbah penebangan, ranting besar dan kecil menjadi bahan baku utama,” kata Tukimin saat ditemui di rumah produksinya, Sabtu, (18/6/2016).

Meja berukuran 180 cm x 80 cm menjadi produk perdana. Menggunakan potongan-potongan ranting yang direkatkan menggunakan lem dan paku, pada media pembentuk berbahan triplek, kemudian disela potongan kayu diisi/ dicor menggunakan bahan gypsum, ia coba buat sebagaimana permintaan dan arahan yang diterima pihak pemasar.

Potongan kayu, yang terdapat empulur (jawa,galih) dan gelang-gelang pada penampang batang kayu tak beraturan itu menjadi bagian yang diupayakan untuk terpampang jelas di sisi luar setiap produk agar memiliki nilai estetika. Olesan resin diberikan pada tahap finishing agar memberikan kesan mengkilap dan guratan kambium kayu agar lebih terlihat.

“Merasa ada harapan, sampel bisa diterima dengan mendapat beberapa order pertama kali, sembari memperbaiki kualitas, produksi berjalan terus, bersama istri serta tetangga kami kerjakan pesanan siang dan malam,” lanjut Tukimin.

Merasa kewalahan, ia mengajak orang lain untuk ikut bergabung. Pertanyaan “berani membayar berapa?” sebagai bentuk penolakan dari orang yang diajak membuatnya lebih gigih mewujudkan jerih payahnya hingga berhasil.

“Mungkin orang lain meremehkan, karena pernah ada mebel besar dari Jepara di daerah ini gulung tikar. Kebanyakan ingin hasil pasti terlebih dahulu dari sebuah pekerjaan yang dilakukan, semisal kerja buruh tani sehari pasti dapat Rp. 50 ribu,” terang dia.

Ia mengakui, memang hasil diawal berdiri tidak bisa diprediksi, akan tetapi dirinya yakin, apabila berhasil dapat memberikan hasil yang lebih mungkin untuk berkembang, bertambah naik, bahkan lebih baik dari pekerjaan utamanya sebagai kepala dukuh.

Prediksi tidak meleset, kini sedikitnya ia dapat memberdayakan 15 karyawan perempuan dan 4 laki-laki dari desa setempat. Mereka bergabung, menjadi pekerja borongan setiap ada pesanan, entah dari lokal, kota-kota besar di Indonesia, bahkan hingga ke Korea, Amerika, dan Belanda.

“5 bulan semenjak berdiri order semakin banyak, kamipun kewalahan, denda karena tak mampu mengirim sesuai target pernah kami alami,” ujar Tukimin bangga dengan perkembangan usahanya.

Menariknya, karyawan pada usaha dibidang furniture ini lebih banyak perempuan bahkan beberapa diantaranya masih remaja. Alasannya, dari sisi pekerjaan perempuan dinilai lebih teliti dan rapi dalam menata pion/ potongan kayu. Sedangkan tugas karyawan laki-laki lebih pada tahap finishing.

Jasa borongan, jelas Tukimin, untuk satu Pieces mebel ukuran kecil sekitar Rp. 35 ribu, sedangkan akan lebih tinggi lagi sesuai kerumitan dan ukuran produk. Ia contohkan, Misal dalam sepuluh hari, pemasukan karyawan di tempat produksi bernama Nunutlaku Furniture ini bisa mencapai Rp. 600 ribu. Dengan penghasilan tersebut seluruh karyawan sangat terbantu dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga masing-masing.

Guna kelancaran melayani pesanan, tutur Tukimin, terdapat mebel lain di wilayah Karangsari yang ikut bergabung mensuplai memenuhi target pesanan yang diterima. Biasanya, satu truk bahan baku seharga Rp. 3,5 juta berisi sekitar 7 kubik ranting kayu jati akan habis selama dua bulan.

“Karena kami anggap sangat menguntungkan, kami berencana akan membuat rumah produksi lebih layak dengan mempertimbangkan limbah yang dihasilkan. Awalnya kami hanya memakai kandang sapi saja,” Pungkas  Tukimin. (Kandar)

Komentar

Komentar