Forum Lintas Iman Hidupkan Spirit Pancasila Di Gunungkidul

Kegiatan #KitaPancasila yang digelar FLI di halaman Gedung DPRD Gunungkidul. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Denyut menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila tumbuh di sana-sini, mencoba menangkal semakin maraknya konglomerasi persoalan yang dapat menyudutkan dasar negara. Benih perselisihan akibat politisasi massa demi tujuan sebuah kelompok serta adanya indoktrinasi secara sengaja yang menyanggah jiwa Pancasila menjadi kekhawatiran banyak pihak.

Resistansi Pancasila yang ada ditengah masyarakat terancam. Tidak ingin situasi tersebut semakin  memburuk, Forum Lintas Iman (FLI) Gunungkidul menggelar peringatan hari lahir Pancasila, Rabu, (31/5/2017) malam. Selain prihatin dengan berbagai peristiwa akhir-akhir ini yang dapat mengakibatkan perpecahan, kegiatan #KitaPancasila bertujuan untuk menghidupkan kembali spirit Pancasila di Gunungkidul.

Ratusan peserta lintas keyakinan berkumpul di halaman gedung DPRD Gunungkidul. Terdiri dari tokoh NU, Banser, perwakilan GKJ Wonosari, Ansor, Muda Mudi Buddhis, serta Pemuda Katholik. Mereka menyalakan lilin, berdoa bersama serta menggelar sarasehan, saling menguatkan bahwa Pancasila harus tetap dijaga.

Tokoh NU Gunungkidul, Zudi Rahmanto menyebut, nilai-nilai Pancasila sebenarnya telah mengkristal menjadi kebiasaan hidup di masyarakat. Bagaimana bertetangga, kebiasaan saling sapa, dan sikap tenggang rasa merupakan manifestasi amalan Pancasila.

“Nilai-nilai Pancasila ketika diletakkan sebagai dasar negara oleh Founding Fathers telah mencakup bagaimana berhubungan dengan sesama, bagaimana beragama, bagaiamana menggunakan hak dan lain sebagainya. Pancasila mesti hidup dalam kehidupan kita,” tandasnya.

Menurutnya, yang terpenting untuk menghadapi berbagai rongrongan terhadap Pancasila adalah secara bersama-sama berkomitmen bersikap “Kita Pancasila”, yakni bersama menginternalisasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dirinya meyakinkan bahwa didalam Pancasila tidak ada yang salah.

“Bapak pendiri bangsa dengan Pancasila dapat menyatukan keberagaman di Indonesia, tugas kita adalah mempertahankan nilai-nilainya dalam kehidupan,” Tegas Zudi Rahmanto lagi.

Sementara itu, salah satu tokoh penggagas acara, Aminudin Azis, bentuk pengamalan Pancasila dapat dimulai dengan melakukan kebiasaan sehari-hari, salah satunya bersikap tenggang rasa, serta dapat pula membudayakan kembali sopo aruh atau tegur sapa.

Sependapat dengan Aminudin Azis, salah satu tokoh, Pendeta GKJ Wonosari, Wahyu Prasetya MAPS tidak memungkiri banyak yang hafal Pancasila akan tetapi belum mampu menghidupkan dan mengamalkan nilai Pancasila.

“Kebiasaan Sopo Aruh atau tegur sapa menjadi bagian pengamalan. Itu salah satu nilai produk lokal yang harus dijaga,” ujarnya.

Ikut menyampaikan pendapat, tokoh dari Wanita Katolik, Veronika Suwarni, memaparkan bahwasanya nilai Pancasila semakin luntur didunia anak muda. Dicontohkan, kepedulian anak-anak muda semakin menurun, misalnya saja dalam kegiatan gotong royong. Menurutnya, nilai gotong royong menjadi bagian dari rasa persatuan, dilakukan tanpa melihat latar belakang agama, suku, atau ras. Dalam gotong royong juga terdapat semangat bagaimana memanusiakan manusia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar