Elang Brontok Dilepas Di Gunungkidul, Dipantau Melalui Satelit Tracking

oleh
Pelepasliaran Elang Brontok. foto: istimewa.

PLAYEN, (KH),– Elang Brontok yang telah dipasangi alat Satelit Trecking dilepas liarkan di Gunungkidul, Minggu, (25/2/2018). Upaya konservasi serta untuk menjaga keberadaan populasi elang tersebut dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya alam Alam (BKSDA) Yogyakarta dengan didukung berbagai lembaga.

Beberapa lembaga yang terlibat pada kegiatan yang juga difungsikan untuk kebutuhan penelitian ini diantaranya; Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yayasan Kutilang, Yayasan ACTION Indonesia, Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), Raptor Indonesia (RAIN), YKEI, Suaka Elang, dan Center for Orangutan Protection (COP).

Usai mengikuti acara pelepasan Elang Brontok, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiranto mengatakan, Elang merupakan bagian dari siklus ekosistem penting yang populasinya saat ini semakin menurun.

“Berkurangnya populasi berbagai jenis elang tidak lepas dari banyaknya pemburu liar dan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap satwa yang dilindungi,” terang Wiranto usai pelepasan elang di kawasan Stasiun Flora- Fauna Hutan Raya Bunder, Playen.

Diharapkan, pelepas liaran satwa Elang Brontok/ Nisaetus cirrhatus demi upaya konservasi terhadap satwa yang dilindungi dapat membuahkan hasil.

Pihaknya saat ini terus mengawasi penjualan satwa liar melalui media sosial. Untuk mengungkap perdagangan satwa liar melalui media sosial, pihaknya mengaku sudah membentuk tim dan akan berkoodinasi dengan pihak facebook Indonesia untuk melakukan pemblokiran jika ditemukan aktifitas terlarang tersebut.

“Selain memantau penjualan satwa dilindungi melalui medsos, kementerian juga terus memantau penyelundupan burung dari berbagai daerah di Indonesia yang saat ini marak terjadi,” ungkapnya.

Menurutnya, ada pergeseran modus yang awalnya menggunakan market tradisional, kini penjualan satwa dilindungi seperti burung telah berkembang melalui media online.

Dalam kesempatan yang sama, staf dosen Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Muhammad Tauhid Nur Salim mengatakan, satelit tracking yang berada di Elang Brontok tersebut akan mengirimkan data setelah elang dilepas.

“Alat satelit tracking akan mengirimkan data posisi elang, wilayah jelajah, ketinggian jelajah, dan kecepatan terbang,” jelas Muhammad Tauhid.

Data yang dikirimkan melalui satelit tersebut akan dikirimkan ke server dan didownload untuk kepentingan penelitian. Alat tersebut dikatakan akan mampu bertahan selama 3 tahun dengan sumber energi solar cell.

Sementara itu, Anggota Yayasan Konservasi ELang Indonesia (YKEI), Gunawan mengungkapkan, sebelum dilepas liarkan, Elang Brontok telah menjalani masa habiutasi di kawasan Hutan Bunder. Elang tersebut juga sudah menjalani masa rehabilitasi untuk memastikan elang dapat hidup mandiri dalam habitatnya. (Wibowo)

Komentar

Komentar