Eko Raih Kesuksesan Berawal Dari Sampah

oleh

PATUK, kabarhandayani.– Sampah seringkali menjadi polemik berbagai pihak, terutama sampah plastik yang susah terurai oleh lingkungan. Dan hal yang dilakukan oleh Eko Priyanto (31) warga Padukuhan Ngepung, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Gunungkidul yang berprofesi sebagai tukang grosok ini turut berkontribusi dalam antisipasi sampah agar tidak berserakan sehingga mencemari lingkungan.

Pria lulusan SMA ini mengungkapkan, ia memulai bergelut dengan sampah sejak tahun 2006 dengan membeli sampah dan barang bekas dari rumah ke rumah. “Dulu sempat merantau ke Jakarta menjadi buruh, dan ya gitu-gitu aja tidak bisa berkembang. Lalu pulang, di rumah tidak punya pekerjaan. Akhirnya jadi tukang rosok,” ungkapnya kepada Kabarhandayani saat ditemui di rumahnya pada Sabtu (28/6/2014).

Dari hasil jerih payahnya melawan kerasnya kehidupan dan perjuangannya yang betul-betul dimulai dari nol ini mengantarkannya meraih kemapanan. Dari barang-barang yang sudah tidak terpakai dan hanya dianggap sampah, akhirnya dia mampu membeli motor yang dulu hanya ia sewa. Hebatnya lagi, ia mampu mempunyai mobil, rumah dan mampu menghidupi keluarganya.

Selain itu, sampah mampu memberikan lapangan kerja bagi warga di sekitarnya. Sejumlah 10 warga yang dulunya pengangguran ia pekerjakan untuk membantu pengumpulan sampah ini. “Ada 6 orang yang saya modali untuk membeli sampah dari rumah ke rumah. Ada juga salah satu pekerja saya yang dulunya preman tetapi sekarang membantu saja,” jelasnya.

Berdasarkan penuturan Eko, sampah-sampah tersebut Ia kumpulkan dari wilayah Gunungkidul dan bahkan dari Klaten. Sampah yang sudah terkumpul dipilah-pilah berdasarkan jenisnya seperti plastik, kertas, besi, beling dan sebagainya. Sampah yang sudah terkumpul dijual ke penggilingan sampah dengan harga Rp 4.000,00 hingga Rp 8.000,00 per kilonya tergantung jenis barangnya. Dari hasil usahanya Eko mampu mengantongi keuntungan bersih 4 hingga 5 juta per bulan dari omset 10 hingga 15 juta.

Adit (25) salah satu pekerja yang dulunya adalah seorang preman menyatakan sangat terbantu dengan sampah ini. Dengan upah 30 hingga 35 ribu per hari ia bekerja membantu Eko dalam mengelola sampah sehingga menjadi barang yang berdaya jual. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar