Dulu Buruh Bikin Rambak, Setelah Buat Sendiri Habiskan 3 Kwintal Per Minggu

Totok Saryanto, pengolah rambak kulit di Desa Sodo, Paliyan. KH/ Kandar.

PALIYAN, (KH),– Merencanakan hingga kemudian mewujudkan impian butuh proses panjang. Tahapannya bisa saja dimulai dari titik terendah atau nol. Keuletan dan keggigihan menjadi bagian dari kunci untuk meraihnya. Perjuangan usaha Totok Saryanto (48) warga Desa Sodo, Kecamatan Paliyan ini dapat menjadi contoh menarik.

Awalnya ia memang bekerja sebagai buruh di sebuah industri rumahan pembuatan rambak kulit di wilayah Bantul. Bisa dibilang tidak sebentar. Waktu 5 tahun menjadi pekerja membuatnya merasa mampu dan menguasai bagaimana mengolah kulit sapi dan kerbau menjadi produk rambak.

Kerja 5 tahun ia memutuskan berhenti, namun dirinya tidak lantas buru-buru mendirikan industri rumahan yang serupa di kediamannya. Totok lebih dulu berniat berkecimpung didunia pemasaran rambak. Dunia pemasaran rambak sebelumnya sedikit diketahui saat bekerja sebagai pengolah.

“Saya lantas bekerja menjadi sales penjualan rambak di Magelang selama 3 tahun,” tutur lelaki yang memiliki 3 anak ini, Jum’at, (23/9/2017).

Lantas pada tahun 1996 mulailah dirinya merintis usaha pembuatan rambak. Skala produksi masih sangat kecil, begitu juga dengan jangkauan pemasaran. Telaten ia tawarkan ke pasar-pasar tradisional.

Perlahan ia merintis pasar. Saat menemui penolakan tak sedikitpun ia hiraukan. Totok terus berusaha meyakinkan kepada pedagang dan konsumen bahwa produknya berkualitas baik. Seiring berjalan waktu, pasar semakin meluas. Jumlah produksi juga semakin banyak.

“Awal tahun 2000-an produk juga bisa diterima dengan baik di luar Gunungkidul. Saat ini tiga lokasi yang menjadi langganan pasar yang cukup besar yakni Solo, Wonogiri dan Sragen,” ujar lelaki yang kini memiliki 5 karyawan di industri rumahan miliknya ini. untuk pasar lokal produk rambaknya menyuplai wilayah atau pasar di Wonosari, Playen, Semanu, dan Semin.

Tak hanya dirinya, di sekitar tempat tinggalnya kemudian bermunculan warga lain sebagai pembuat rambak kulit. Hingga Pemerintah Daerah (Pemda) Gunungkidul melalui dinas terkait memberikan label Di desa Sodo sebagai salah satu sentra produsen rambak kulit.

Bersama sesama pembuat rambak, Totok membentuk kelompok Karya Mandiri. Dirinya menyebutkan ada 20 anggota yang tergabung. Namun, saat ini yang aktif rutin melakukan produksi sebanyak 12 anggota saja.

“Ditempat saya pribadi tiap mingu menghabiskan sekitar 3 kuintal kulit sapi dan kerbau sebagai bahan mentah,” imbuh Ketua Kelompok Karya Mandiri ini.

Produk jadi yang dihasilkan dalam waktu seminggu tersebut jika dijual juga akan habis dalam jangka waktu kurang lebih satu minggu. Jumlah produksi akan mengalami peningkatan pada waktu-waktu tertentu. Peningkatan produksi terjadi pada bulan-bulan tertentu, misalnya saat warga banyak menggelar hajatan dan juga pada bulan Ramadhan.

Totok menerangkan, kulit-kulit bahan mentah yang digarap menjadi rambak berasal dari wilayah Jogja, Klaten dan Magelang. Selama ini dirinya bekerja sama dengan beberapa penyedia jasa pemotong hewan sapi dan kerbau dalam hal pemenuhan bahan baku.

Ditanya soal harga, Totok mengungkapkan, harga dibedakan menjadi dua berdasar kualitas rambak. Untuk rambak kulit sapi jenis kualitas sedang tiap kilogram dijual Rp. 45 ribu, sedangkan kualitas baik harganya menyentuh Rp. 65 ribu tiap kilogram.

Sementara rambak kulit kerbau harganya mencapai Rp. 55 ribu per kilogram untuk kualitas sedang, lalu Rp. 75 ribu per kilogram untuk rambak dengan kualitas baik. Harga tersebut juga dapat berubah menyesuaikan ketersediaan bahan dan jumlah permintaan. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar