drg. Dyah Mayun Hartanti, Inovator Yang Berhasil Turunkan Stunting Di Gedangsari

oleh
drg. Dyah Mayun Hartanti., M.M.R. foto: ist.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Pada tahun 2013 angka pernikahan dini di Kecamatan Gedangsari cukup tinggi. Data yang ada menunjukkan, setidaknya terjadi sembilan kasus pernikahan dini.

Untuk menekan angka pernikahan dini tersebut, Koordinator UPT Puskesmas Gedangsari II, drg. Dyah Mayun Hartanti, M.M.R., berinovasi menginisiasi gerakan pencegahan pernikahan dini. Gerakan tersebut dinamai “Ayunda Simenik”, yang artinya Ayo Tunda Usia Menikah.

Inovasi yang dilakukan membuahkan hasil, sebanyak sembilan kasus pada tahun 2013 turun menjadi 6 kasus pada tahun berikutnya. Begitu juga dengan tahun-tahun selanjutnya jumlahnya selalu menurun. Pada 2015 hanya terjadi dua kasus, kemudian pada tahun 2016 tidak ada kasus sama sekali. Keberhasilan inovasi ini dinobatkan masuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 lalu.

“Inovasi Ayunda Si Menik kami lanjutkan dengan tambahan, ‘Makan Sego Ceting’, yakni bermakna Semangat Gotong Royong Cegah Stunting,” jelas inovator, drg. Dyah Mayun Hartanti belum lama ini.

Menurutnya, lanjutan inovasi tersebut cukup beralasan. Faktanya, Kecamatan Gedangsari menjadi penyumbang angka stunting tertinggi di Kabupaten Gunungkidul. Di mana tahun 2017 mencapai angka 37,41 persen, sementara standar WHO kurang dari 20 persen.

Tinginya stunting, diungkapkan, salah satunnya karena adanya kehamilan remaja di bawah usia 20 tahun. Hal tersebut merupakan efek domino rentetan adanya pernikahan dini.

“Inovasi lanjutan ini diharapkan bisa menampung keterlibatan semua unsur untuk mendukung upaya mencegah stunting dan menyiapkan generasi yang berkualitas,” harap drg. Dyah.

Hasil dari inovasi yang dilakukan terbukti berhasil. Terjadi penurunan angka stunting menjadi 21,3 persen di tahun 2018. Selain masuk dalam penghargaan Top 99, inovasi ini juga terpilih masuk dalam Top 45 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019. (Kandar)

Komentar

Komentar