Dr Tugiman Ajak Tanggulangi Masalah Bunuh Diri Di Gunungkidul

oleh
Dr Tugiman dalam sebuah pertemuan bersama warga. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),–Pengamat sosial politik Universitas Pasundan Bandung, Dr. Tugiman, SH. M.Si menilai mitos “Pulung Gantung” masih menjadi salah satu kendala penanggulangan kasus-kasus bunuh diri di Gunungkidul.

Pandangan Akedemisi Universitas Pasundan Bandung, sekaligus tokoh masyarakat kelahiran Kedungpoh, Nglipar, tersebut disampaikan kepada awak media, Senin, (9/9/2019), menanggapi masih adanya peristiwa bunuh diri dengan gantung diri di Gunungkidul.

Lebih lanjut Tugiman mengatakan, bahwa dirinya selalu mengikuti berbagai perkembangan di Gunungkidul, termasuk salah satu persoalan yang paling menonjol saat ini, yaitu terjadinya bunuh diri dengan tali gantung di berbagai tempat.

Menurut Tugiman, beberapa faktor penyebab bunuh diri yang paling dominan adalah persoalan sosial-ekonomi dan rumah tangga. Ada diantara mereka yang terjerat hutang dari sejumlah bank keliling (lebih dikenal masyarakat dengan istilah bank plecit). Dalam kondisi himpitan dan kesulitan hidup yang tidak menemukan jalan pemecahan, maka mereka mengalami depresi, yang kemudian memilih mengakhiri perjalanan hidupnya dengan cara gantung diri.

“Dari depresi itulah kemudian muncul halusinasi di tengah kekosongan daya nalar. Di sisi lain, di masyarakat masih meyakini mitos “PulungGantung” yang kemudian diyakini menjadi pembenar pilihan terakhir dalam menghadapi berbagai problem dan kesulitan hidup. Disitulah gantung diri dianggap menjadi jalan terakhir menyelesaikan persoalan beban kehidupan yang dialami,” jelas dia.

Menurut Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang belakangan namanya santer didorong oleh sejumlah pihak untuk maju dalam pemilihan Bupati Gunungkidul 2020 itu menuturkan, setiap tahun setidaknya ada 25 hingga 30 orang mengakhiri hidup dengan gantung diri, dari jumlah itu sebanyak 31 persen pelaku gantung diri berusia 45 s.d 60 tahun, sedangkan 44 persen berusia di atas 60 tahun.

“Dari data itu artinya sebanyak 75 persen korban bunuh diri berusia di atas usia 45 tahun. Sementara usia 60 tahun ke atas jumlahnya paling banyak. Nah, kalau kita lihat, pelaku gantung diri berusia 60 tahun keatas, maka secara umum para pelaku gantung diri termasuk dalam katagori “generasi tua”  yang kecenderungannya sebagian besar masih percaya pada mitos pulung gantung itu,” ungkapnya.

Disitu terlihat, sambung Tugiman, mitos pulung gantung masih menjadi keyakinan pembenar tindakan bunuh diri di Gunungkidul. Sementara persoalan kondisi fisik, sakit yang menahun serta gangguan kejiwaan juga merupakan faktor lain yang turut memberi kontribusi terus berlanjutnya dilema tersebut.

Menurut lelaki yang masih berstatus perwira aktif TNI-AD ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi atau setidaknya mengurangi angka bunuh diri di Gunungkidul, antara lain:

Pertama; Pentingnya edukasi kepada masyarakat terutama untuk mengikis mitos pulung gantung, termasuk di dalamnya melalui pendekatan agama, budaya dan kearifan lokal.

Kedua; Peningkatan dan pemerataan ekonomi, pelayanan kredit usaha kecil untuk mengatasi ketergantungan sebagian masyarakat ekonomi bawah kepada bank-bank plecit yang memberatkan masyarakat. Selain itu juga perlu penciptaan lapangan kerja, guna peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mengikis angka kemiskinan yang masih tinggi.

Ketiga;  Perlu political will dari Pemerintah Daerah untuk mengambil langkah solutif terkait beroperasinya bank-bank plecit dan solusi implementatif yang terarah dan terukur terkait persoalan tersebut.

Keempat; Pentingnya membudayakan keterbukaan dalam lingkungan keluarga untuk memecahkan persoalan-persoalan internal keluarga, dan yang

Kelima; Pentingnya kepedulian dan kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang ditopang oleh semangat gotong-royong dan guyup rukun dalam memecahkan persoalan yang terjadi dilingkungannya.

“Saya yakin bila upaya tersebut dilakukan secara sungguh-sungguh, pada akhirnya akan dapat menekan dan mengurangi angka bunuhdiri di Gunungkidul ,” pungkasnya. (Red)

Komentar

Komentar