Dosen UGK Inisiasi Gerakan 512: Metode Hemat Air Dan Optimalisasi Pekarangan

oleh
Pembiasaan gerakan hemat air metode 512. KH.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Berdasarkan analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2019 diperkirakan akan lebih panjang dibanding musim kemarau tahun lalu.

Sementara itu, sebagin besar tanah Gunungkidul merupakan lahan marginal. Sehingga pada musim kemarau banyak tanah yang menganggur atau tidak tergarap karena kurangnya ketersediaan air. Kondisi tersebut terutama terjadi di sektor selatan atau zona Gunung Sewu.

Secara geografi wilayah GunungKidul memang didominasi oleh pegunungan kapur (karst), minimnya keberadaan air di daerah ini menjadi kendala tersendiri bagi masyarakat. Air merupakan kebutuhan hidup yang tidak tergantikan oleh apapun. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan air di semua aspek kehidupan baik itu bagi manusia, hewan maupun tumbuhan.

Manusia membutuhkan air untuk konsumsi rumah tangga diantaranya untuk keperluan minum, memasak, mencuci dan mandi.Selain untuk memenuhi kebutuhan minum dan kebutuhan rumah tangga, manusia juga memerlukan air untuk kebutuhan dalam hubungannya dengan aspek spriritual keagamaan yaitu berwudhu sebagai kewajiban yang harus dilakukan sebelum sholat.

Menindaklanjuti Surat Keputusan Bupati Gunungkidul Nomor 521/0101 tertanggal 8 Januari 2019 point 4 yaitu meningkatkan pemanfaatan pekarangan dan lahan-lahan kosong untuk budidaya tanaman potensi lokal terutama umbi-umbian guna menunjang dan melestarikan keanekaragaman konsumsi pangan, seorang dosen di Universitas Gunung Kidul (UGK), Catarina Wahyu Dyah. P., M.Pd membuat sebuah metode untuk ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi keluarga dengan memaksimalkan pemanfaatan pekarangan bagi kawasan minim air yang diberi nama Metode 512.

Catarina menjelaskan, metode 512 ini adalah pembiasaan yang dilakukan dengan cara memaksimalkan penggunaan air yang sudah tidak terpakai tetapi tidak mengandung bahan berbahaya.

Dipaparkan, Angka 5 mengandung arti bahwa dalam satu hari umat Islam melakukan kegiatan sholat sebanyak 5 kali. Penggunaan air setelah berwudhu umumnya mengalir begitu saja dan terbuang percuma.

Untuk satu kali berwudhu setiap orang membutuhkan 2,5 liter air. Artinya bahwa dalam satu hari setiap orang membutuhkan sekitar 12,5 liter air untuk berwudhu. Jika dalam satu rumah ada 4 orang anggota keluarga yang melakukan kegiatan sholat, berarti ada 50 liter air dalam sehari yang terbuang percuma.

“Air yang terbuang tersebut ditampung atau dialirkan ke dalam kolam yang digunakan untuk memelihara ikan,” kata dia.

Sementara angka 1 artinya dalam satu hari ada kegiatan memasak. Dalam satu hari ibu-ibu rumah tangga dipastikan melakukan kegiatan memasak. Otomatis membutuhkan air, mulai dari mencuci beras sampai mencuci sayuran. Untuk kegiatan mencuci bahan masakan ini dibutuhkan air sekitar 3 liter.

Air tersebut ditampung dan bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman di pekarangan. Adapun angka 2 artinya dua kegiatan, yaitu pertanian dan perikanan. Jadi, lebih dalam disampaikan, inti metode 512 ini yakni 5 kali wudhu, 1 hari sekali memasak digunakan untuk 2 fungsi, yakni pertanian dan perikanan.

“Metode 512 saat ini sedang dikembangkan di Desa Petir Kecamatan Rongkop sebagai langkah awal untuk percontohan,” imbuh Catarina.

Adapun tanaman yang ditanam di pekarangan seperti cabai, sledri, terong, tomat dan umbi-umbian. Sedangkan ikan yang dipelihara di kolam dari pembiasaan hemat air 512 yakni ikan lele dan gurameh.

Terpisah, Kepala Bidang Litbang Bappeda Gunungkidul, Rismiyadi, S.P., M.Si menyatakan mendukung gerakan hemat air 512 dan optimalisasi pekarangan. Meski kelihatannya sepele, namun pembiasaan perilaku sederhana untuk hemat air yang konsisten dilaksanakan diyakini memiliki dampak manfaat yang besar. (Kandar)

Komentar

Komentar