Dolar Naik Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur Merugi

oleh
Nurdin berada di kandang ayam petelur miliknya. KH/ Kandar.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Sekitar Seminggu terakhir peternak ayam petelur tak mampu merup untung dari usaha ternaknya. Hal tersebut terjadi lantaran harga telur anjlok.

Peternak ayam petelur yang ditemui KH, Muhammad Nurdin, Rabu, (10/10/2018) mengaku mengeluh dengan kondisi hasil penjualan telur selama seminggu terakhir. Di samping merosotnya harga telur di pasaran, kondisi diperparah bersamaan diikuti melambungnya harga pakan ayam.

Menurutnya, turunnya harga telur lantaran minimnya permintaan oleh masyarakat. Turunya permintaan karena tak banyak masyarakat yang menggelar hajatan karena memasuki Bulan Sura. Lagi-lagi peternak dibuat semakin frustasi karena melambungnya harga konsentrat yang dipengaruhi naiknya kurs dollar terhadap rupiah.

“Saat harga telur merosot karena memasuki Bulan Sura, harga pakan justru naik. Kami tidak bisa berbuat banyak,” keluh Nurdin. Warga Tegalmulyo, Wonosari ini akan berusaha bertahan dengan hasil penjualan telur yang nyaris tanpa untung itu.

Seminggu terakhir, harga telur ayam yang ia jual ke sejumlah pedagang hanya laku Rp. 17.500 tiap kilogram. Padahal sebelumnya harga normal berada pada kisaran Rp. 20 ribuan.

Lantas harga pakan konsentrat yang sebelumnya hanya Rp. 320.000 per zak kini mencapai Rp. 385.000 per zak. Di luar itu, pakan campuran berupa jagung juga ikut-ikutan naik, yang sebelumnya Rp. 3.500 per kilogram, saat ini melambung hingga Rp. 5 ribu per kilogram.

“Bahan konsentrat umumnya impor dari Amerika, maka jelas harga menjadi naik saat dollar naik,” imbuh Nurdin.

Lebih jauh disampaikan, turunnya harga telur membuat kalkulasi untung rugi setiap hari hanya menyisakan pendapatan sekitar Rp. 50 ribu saja. Namun pendapatan tersebut dapat dibilang impas. Sebab, dengan kata lain nilai Rp. 50 ribu habis untuk biaya operasional tenaga kerja.

“Harapannya dolar turun sehingga harga pakan ikut turun. Lalu diikuti pula harga telur yang kembali ke harga normal,” harap Nurdin.

Sebelum harga turun, dari 700-an ayam petelur yang dipelihara, biasanya dirinya mendapat untung antara Rp. 150 hingga Rp. 200 ribuan setiap harinya. (Kandar)

Komentar

Komentar