Dokter Sandangan: Penjahit Yang Dorong Karyawan Untuk Bikin Usaha Setelah Mahir

oleh
Bowo Santoso, pemilik usaha jahit Dokter Sandangan. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Tidak berusaha menghalagi karyawan yang ingin keluar setelah memiliki kemahiran menjahit busana. Hal itu dilakukan Dokter Sandangan, sebuah usaha jasa jahit busana di Wonosari, Gunungkidul.

Prinsip tersebut diutarakan pendiri Dokter Sandangan, Bowo Santoso (33) saat ditemui di tempat usaha di jl Sri  Tanjung, Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul, Sabtu, (23/3/2019). Kata dia, hal tersebut dilakukan agar karyawan yang pernah bekerja dengannya lebih meningkat serta lebih mapan dari sisi ekonomi.

“Sudah ada sekitar 5 karyawan yang pernah ikut saya lalu buka usaha jahit sendiri,” ungkap Bowo.

Menurut bapak dua anak ini, masing-masing bekerja dengannya antara 2 hingga 3 tahun. Setelah mahir ia memotivasi agar karyawan berani buka usaha sendiri.

Baginya tak ada pengaruh mengenai peluang usaha tersebut jika dihadapkan kenyataan dengan semakin banyaknya penjahit. Dirinya menggaris bawahi, asal memiliki produk berkualitas, layanan prima, konsumen lama-lama datang mencari.

Sebagaimana yang ia lakukan, kegigihan diawal saat membangun ‘nama’ menjadi faktor penentu eksistensi usaha yang digeluti.

Alasan lain, kenapa ia mendorong karyawan agar membuka usaha sendiri yakni disebabkan karena dirinya mengalami hal yang sama. Sebelum mendirikan usaha sendiri, ia pernah belajar sekaligus bekerja di usaha jasa milik kerabat. Saat pertama masuk kerja benar-benar ia mulai dari nol.

Mulanya ia mengerjakan pekerjaan yang simpel serta mudah. Seperti memasang kancing baju, dan pekerjaan-pekerjaan ringan lainnya. Fase ini seolah tidak akan pernah dilupakan. Sebab, peristiwa itu yang membawanya hingga pada pencapaian yang sekarang. Yakni setelah mahir ia dipersilahkan untuk membuka usaha sendiri. Kini ia telah memiliki usaha sendiri yang tak pernah sepi permintaan jasa menjahit aneka busana.

10 tahun bekerja dengan orang lain mengantarkannya menjadi seorang penjahit yang profesional.

“Yang jelas selalu ada permintaan menjahit busana. Jika antrian permintaan banyak, mantan karyawan juga saya kasih pekerjaan ini. Diambil di sini lalu dibawa dikerjakan di tempat usahanya,” tutur Bowo menambahkan.

Dirinya saat ini dibantu istri dan beberapa penjahit yang tak terikat sebagai karyawan. Menurutnya cukup susah mencari karyawan yang siap terjun di dunia jahit menjahit.

Lebih jauh disampaikan, dalam sehari Bowo dapat menyelesaikan 3 hingga 5 potong busana sederhana. Bowo mengaku mematok tarif yang standar atau umum di pasaran. Harga jasa jahit akan semakin naik jika produk busana yang diinginkan semakin rumit pekerjaannya.

Warga asal Jeruksari, Wonosari ini saat membuka usaha pertama kali hanya punya satu mesin jahit saja. Namun, secara bertahap dirinya dapat menambah jumlah mesin yang mendukung jalannya usaha.

Komentar

Komentar