Diskusi FPNB, Penulis Tak Mati Bersama Jasadnya

FPNB bersama penerbit buku Graha Ilmu, Wakil Bupati Immawan Wahyudi, dan Kepala Disdikpora, Sudodo, dalam kegiatan diskusi dan buka bersama. KH/ Kandar
FPNB bersama penerbit buku Graha Ilmu, Wakil Bupati Immawan Wahyudi, dan Kepala Disdikpora, Sudodo, dalam kegiatan diskusi dan buka bersama. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Begitu hebatnya sebuah tulisan, dengan bahan yang sama, huruf abjad A – Z dan angka 0 – 9 dapat  membuat manusia menangis, dan sebaliknya dapat pula membuat tertawa terbahak-bahak. Hal ini disampaikan Josep Edyanto, Direktur Penerbit Graha Ilmu saat acara diskusi dan buka bersama Forum Penulis Negeri Batu (FPNB), Sabtu, (25/6/2016) sore.

Pada Acara yang digelar di rumah dinas Wakil Bupati Gunungkidul tersebut, ia memberikan motivasi kepada puluhan anggota FPNB terkait dengan dunia tulis menulis. Penulis, kata dia, merupakan profesi yang tidak bisa dianggap remeh, bahkan, ia seolah akan hidup lebih lama meski nyawa telah meninggalkan jasadnya.

“Tulisan yang bermanfaat dalam bentuk buku, jurnal dan lainnya akan memiliki dampak kebaikan baik kepada dirinya dan orang lain, tentu saja sampai kapanpun selama tulisan itu dibaca,” ucap Josep.

Dengan kata lain, tidak mengenal ukuran waktu, dari generasi ke generasi dari zaman ke zaman, benar nyawa telah tiada tetapi namanya akan terus dikenang. Sebaliknya, tulisan yang meracuni dan mengandung keburukan akan berdampak panjang pula. Sehingga, ia berpesan, jadilah penulis yang sungguh-sungguh bertujuan menularkan ilmu, pengetahuan dan kebaikan.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati berharap, FPNB melalui karya-karyanya dapat berperan dalam menunjukkan wajah dan jati diri Gunungkidul. “Masih banyak kearifan lokal masyarakat yang belum diangkat serta perlu digali secara mendalam makna filosofinya,” kata Immawan.

Sementara itu, Kepala Disdikpora, Sudodo MM mengapresiasi adanya forum ini, pihaknya meminta agar FPNB mampu terus eksis, meski diakui banyak kalangan remaja dan pelajar yang kurang tertarik. “Ke depan agar melibatkan lebih banyak lagi pelajar, semangat dan manfaatnya dapat ditularkan ke sekolah-sekolah,” pinta Sudodo.

Sugiyanto, Ketua FPNB seusai acara mengatakan, melalui forum tersebut selain bersemanagt dalam kepenulisan, dirinya juga ingin memberikan pembelajaran kepada masyarakat Gunungkidul terutama dalam hal budaya, supaya masyarakat tidak terkikis modernisasi dan globalisasi.

Kata dia, supaya tetap berada dan kembali ke habitus masyarakat Gunungkidul, sehingga memiliki potensi khas yang tidak dimiliki orang lain, harus pandai-pandai menyikapi lokal konten itu sendiri, jangan sampai yang menjual orang lain.

Meski budaya dan seni banyak dipelajari orang asing, tetapi hak dan produktivitas nilai jual serta nilai etika tetap dimiliki masyarakat seperti pelaku seni dan budaya.

“Melalui tulisan pula, kita terus ingin menggali tentang Gunungkidul dari berbagai aspek terutama aspek manusia dengan agamanya, manusia dengan manusia, dan aspek manusia dengan alamnya,” pungkas dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar