Dengan Teknik Yang Tepat, 4 Petani Muda Tanjungsari Sulap Lahan Berbatu Jadi Lahan Subur

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Sunandar bersama rekan sesama petani yang mengolah lahan tandus menjadi lahan produktif. KH/ Woro.

TANJUNGSARI, (KH),— Lahan pertanian milik Sunandar (28) warga Dusun Candisari, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari bisa dibilang tidak ideal untuk lahan pertanian. Tanahnya kering, tandus dan berbatu.

Siapa pun akan beranggapan  lahan tersebut tidak akan bisa dipakai untk pertanian. Namun dengan  perlakuan yang tepat, Sunandar  bersama 3 petani muda lainnya mampu mengubahnya menjadi lahan yang subur.

Keberhasilan anak-anak muda ini memantik optimisme bahwa ribuan lahan tak produktif di Gunungkidul sesungguhnya bisa dimanfaatkan menjadi lahan pertanian yang baik.

Siang itu cuaca cukup bersahabat. Di lahan seluas kurang lebih 1000 meter persegi terhampar ribuan pohon terong dan cabe yang tmbuh subur dan berbuah sangat lebat. Ini amat kontras dengan kondisi di samping lahan yang penuh dengan bebatuan berukuran sedang.

Dua orang nampak sibuk memanggul tangki berukuran 15 liter yang berisi hormon organik untuk meningkatkan kwalitas buah.

Salah seorang petani muda yang ditemui KH, Toni Sulistyo (24) mengisahkan bahwa dulu lahan tersebut sebelum dibuka merupakan lahan tandus dan berbatu yangg tak bisa ditanami apapun.

“Ngeri, dulu waktu pertama kali membuka, lahannya berbatu,” kisahnya sembari menunjukkan potho di ponselnya.

Petani lain, Sumadi (30) menjelaskan bahwa kunci dari keberhasilan mengubah lahan tandus menjdi subur adalah pemberian pupuk kandang dan mikroba penyubur tanah.

Yang juga mengagumkan dari pertanian di kebun Sunandar ini adalah bahwa seluruhnya menggunakan pupuk organik dan hayati, sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia

“Mulai dari pupuk dasar, penanggulangan hama hingga perangsang buah seluruhnya organik,” jelas Sumadi.

Ketika ditanya tentang pemasaran, Toni menjawab bahwa dulu memang sempat kuatir tidak dapat memasarkan tapi sekarang justru kewalahan.

“Banyak yang sudah pesan tapi kami tidak bisa melayani seluruhnya karena lahannya tidak terlalu luas dan masih masa awal panen,” terang Toni yang juga mengatakan bahwa saat ini dalam sekali panen mencapai 70-100 kg.

Adapun mereka berharap panen buah mereka yang 100 persen organik bisa menembus swalayan maupun pasar-pasar modern.

“Kami berharap pemerintah membantu mencarikan jalan agar panen kami bisa tembus pasar modern,” kata Sunandar.

Sementara itu pengamat social Tanjungsari, Maryanto, S. Sos berharap, pemerintah mau menindaklanjuti model pertanian yang telah dirintis anak-anak muda kreatif itu.

“Di lahan berbatu saja tanaman bisa tumbuh subur apalagi di tanah yang baik. Mestinya pemerintah bisa merespon keberhasilan para petani muda tersebut,” jelasnya. (Woro)

Komentar

Komentar