Daniel: Perintis Kaos ‘Gundoel Handayani’ Yang Sukses Di Usia Belia

oleh
Daniel, pengusaha kaos ‘Gundoel Handayani’. Kaos desain khas Gunungkidul. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Merintis bisnis sejak dini, lalu berhasil diusia yang masih sangat muda bukan hal yang mustahil. Hal tersebut dibuktikan Daniel, warga Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Meski usia baru menginjak 22 tahun, usaha jualan kaos dengan brand ‘Gundoel Handayani’ laris manis diminati pasar.

Ditemui di gerai penjualan produk Gundoel Handayani di Jl. MT. Pontjodirja, Budegan, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Rabu, (16/5/2018), Daniel berkisah bagaimana perjalanan merintis usahanya hingga berhasil.

Tahun 2013, lajang yang supel ini mulai mengenalkan kaos ‘Gundoel Handayani’ melalui media sosial (medsos). Saat itu ia masih duduk di bangku SMA. Dengan modal kemampuan desain grafis yang diperoleh di sekolah ia mencoba memasarkan kaos dengan sistem pre order. Kaos yang dijual selalu menyematkan teks ‘Gunungkidul’ dengan berbagai desain.

Dirinya memang sengaja agar produknya menjadi salah satu produk asli khas daerah. Menjadi oleh-oleh atau cindera mata, serta produk yang menunjukkan identitas wilayah Gunungkidul.

“Ada pembeli tetapi tidak sesuai target. Kendalanya memag kurang fokus, produk yang ditawarkan juga tidak begitu diminati pasar,” ungkap Daniel mengutarakan kendala saat awal merintis usaha.

Penetrasi pasar atas produknya belum sesuai harapan. Beberapa evaluasi menyimpulkan hal tersebut disebabkan karena variasi desain dan warna kaos belum beragam. Karenanya, usaha yang dijalankan bersama kakaknya tersebut sempat vakum selama dua tahun.

Barulah saat menginjak semester II ketika menempuh pendidikan D3 ekonomi UGM ia bersemangat lagi untuk serius menekuni bisnis kaosnya. Dengan kemampuan studi kelayakan usaha dan mempelajari peluang pasar Daniel melakukan beberapa inovasi.

Beberapa hal yang dilakukan diantaranya menambah kemampuan desain grafis melalui intertnet, menambah ragam warna kaos, serta bermain kombinasi warna untuk setiap potong kaos. Bersamaan dengan adanya booming wisata di Gunungkidul produk kaosnya banyak diminati.

Dirinya juga menghendaki agar pasar menerima produknya sebagai produk premium. Sehingga pemasaran secara online selalu menggunakan foto yang berkualitas. Beberapa rekannya yang berpenampilan menarik dimintanya untuk menjadi ‘model’ kaos Gundoel Handayani.

“Selain secara online kami juga menitipkan ke toko oleh-oleh. Kami berusaha selalu mengikuti desain kaos sesuai permintaan pasar,” terangnya.

Dalam menjalankan usahanya, saat ini Daniel fokus ke desain dan penjualan. Sementara kakaknya mengerjakan proses jahit dan penyablonan. Seiring meningkatnya penjualan dari waktu ke waktu ia kemudian menambah ragam produk. Ada topi, sandal dan jaket. Tahun 2016 produknya juga tersedia ready stock.

Bertambahnya ragam produk disusul dengan pembukaan gerai. Semenjak gerai berdiri, perluasan pasar juga mulai dirintis dengan menjalin relasi dengan biro jasa perjalanan wisata. “Produk terserap hampir imbang baik penjualan secara online maupun penjualan langsung,” imbuh Daniel.

Kiriman untuk penjualan secara online hampir menyasar ke seluruh kota-kota besar di Indonesia. Ke Jakarta, Bandung, Papua, Kalimantan, Batam, dan lain-lain. Bahkan kiriman pernah juga menyasar luar negeri seperti Malaysia dan Jepang.

Disebutkan, kaos menjadi produk yang paling laris. Sementara produk varian yang lain tidak laku lebih dari 10 persen dari keseluruhan produk yang terjual. Kaos tersedia dengan harga mulai dari Rp. 75 hingga 80 ribu. Model kaos Polo seharga Rp. 100 ribu, sementara untuk jaket dibanderol Rp. 150 ribu.

Dalam satu bulan setidaknya 400 potong kaos terjual. Lantas dapat meningkat hingga 500 kaos saat musim liburan. Dalam mengelola usahanya saat ini dirinya dibantu 3 karyawan. Selain menjual kaos sesuai desain buatannya, Daniel juga melayani pemesanan kaos dengan desain sesuai permintaan pelanggan. (Kandar)

Komentar

Komentar