Damanhuri: Pelopor Swadaya Air Bersih Desa Banyusoca

oleh
Damanhuri dan sumber air bersih di dusun Karangi Banyusoca. Foto: Wibowo

PLAYEN, (KH),– Tepat hari ini tadi, seluruh penduduk dunia merayakan Hari Air. Peringatan bahwa air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi seluruh penduduk bumi.

Berbicara mengenai ketersediaan air bersih di Gunungkidul, tentu ada banyak kisah getir dan perjuangan keras, bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan air di kawasan pegunungan karst ini. Damanhuri, warga Dusun Karangi Desa Banyusoca Kecamatan Playen ini layak menjadi pahlawan bagi masyarakat desanya yang dahulu begitu sulit untuk mendapatkan air bersih untuk keperluan domestik rumah tangga.

Berkat tangan dingin Damanhuri dan kerja kerasnya bersama warga masyarakat Dusun Karangi, hampir 400 rumah tangga di desa tersebut kini tak lagi kesulitan mendapatkan air bersih. Saluran distribusi air melalui jaringan perpipaan sederhana telah tersambungkan dari tandon induk ke masing-masing rumah tangga.

Kamis siang (22/3/18) di rumahnya, bapak dari 2 anak ini menjelaskan, pada awalnya ia dan tiga rekan sesama warga dusun membuat instalasi pemompaan air dari sumber air ke tandon air induk (reservoar utama) di Dusun Karangi. Dari tandon air induk yang elevasinya lebih tinggi itu lalu dibuat jaringan distribusi perpipaan ke rumah-rumah.

“Kami memanfaatkan sumber air Ngringin di dusun kami sebagai sumber airnya. Sumber air itu tidak pernah kering. Lalu kami memompanya dengan tenaga listrik ke tandon induk, untuk kemudian disalurkan ke masing-masing rumah warga dengan pipa atau selang,” ungkap Damanhuri.

Ia menambahkan, pemompaan dari sumber air ke tandon dengan debit pengambilan 4 liter/detik Pompa listrik yang digunakan berkapasitas 4000 watt. Menurutnya, selama beroperasi sampai saat ini tidak ditemui kendala atau kerusakan pompa yang sangat berarti.

Pada saat ini sudah ada 323 pelanggan dari 3 dusun terdekat yang memanfaatkan penggunaan instalasi penyediaan air bersih yang dikelola secara swadaya ini. Untuk menjaga keberlangsungan penyediaan air bersih ini, Damanhuri dan warga dusun yang menjadi pelanggan air membuat kelompok swadaya air yang diberi nama Ngudi Ajining Tirno. Melalui kelompok swadaya air inilah, ia bersama anggotanya melakukan pengelolaan, pemeliharaan, dan juga upaya kreatif untuk pengembangannya.

Damanhuri mengingat, sebelum terwujud instalasi penyediaan air ini hampir semua warga dusun mengambil air ke sumber air dengan jerigen. Beramai-ramai warga masyarakat memikul atau menggendong air dalam jerigen dari sumber air ke rumahnya masing-masing. Ia juga berkisah, rintisan pembuatan instalasi penyediaan air bersih ini juga dimulai dengan modal uang pinjaman. Dengan tersenyum Damanhuri menyampaikan, modal pinjaman senilai Rp 24 juta itu diperolehnya dengan menggadaikan 3 BPKB sepeda motor kesayangannya.

Atas upaya mempelopori penyediaan air bersih di desanya ini, Damanhuri yang berpendidikan formal sampai jenjang SMP ini sempat mendapat piagam penghargaan pelopor lingkungan dari Gubernur DIY.

Karya kepeloporan dan pengalaman nyata di lapangan tersebut juga membawa Damanhuri ke berbagai forum seminar dan ajang berbagi pengalaman lainnya. Belum lama ini, ia diminta untuk memaparkan sistem penyediaan air bersih secara swadaya di kampus Universitas Indonesia Jakarta. (Wibowo/Kandar).

Komentar

Komentar