Dalam Dua Hari, Dua Warga Gunungkidul Mengakhiri Hidup

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
ilustrasi. Dhadhung, kala, jerat, tali. KH/WG

GUNUNGKIDUL, (KH),– Peristiwa bunuh diri masih terus menghantui. Musibah di Saptosari dan Patuk menambah deretan catatan kelam tragedi kemanusiaan. Harus diakui, hingga menjelang akhir Mei 2017 ini permasalahan mengakhiri nyawa sendiri memiliki angka yang tinggi. Berdasar data, ada 17 peristiwa warga Gunungkidul meninggal bunuh diri.

Pelaku bunuh diri yang terjadi di Saptosari, Sunadi (33), sebelumnya dikenal sebagai orang yang normal tanpa kelainan, baik secara fisik maupun mental. Sebagaimana yang disebutkan Daryanto (32), warga yang tinggal tidak jauh dari kediaman pelaku.

“Setahu saya dia gagah, sehat, dan juga tampan,” Daryanto bertutur seakan tidak percaya dengan tindakan orang yang begitu dikenal itu.

Daryanto menyahut, pada diri pelaku terjadi perubahan perilaku yang menunjukkan bahwa kondisi pikirannya terganggu. Perkara asmara menjadi latar belakang yang banyak disebut di kerumunan orang-orang ketika datang di rumah duka mengantar kepergiannya.

Ungkap Daryanto, perubahan sikap terjadi sudah cukup lama. Sejak sekitar 6 hingga 7 tahun lalu pelaku memendam keinginan meminang gadis pujaannya. Apa daya, orang tua kandung tidak mengijinkan Sunadi bersemenda dengan gadis pilihannya.

Kenyataan pahit bagi Sunadi. Ia terpaksa menyaksikan dan merelakan perempuan yang dicintai dimiliki orang lain, membangun rumah tangga setelah hubungannya gagal dengan dirinya.

“Terlihat berubah sudah sejak tujuh tahunan lalu, bahkan setelah mengalami gangguan mental pelaku sempat dirawat di rumah sakit jiwa,” Daryanto menyinggung riwayat pelaku sebelumnya.

Diketahui, Salah satu orang terdekat pelaku, sang bapak telah mendahului pergi selamanya. Sunadi selama ini tinggal bersama si ibu, sementara dua saudara lainnya telah berumah tangga, tinggal dengan pasangan masing-masing.

Diduga akibat beban pikiran yang berat, Sunadi memilih mengakhiri hidup. Mengejutkan banyak orang di Minggu, (21/5/2017) siang yang sepi. Si Ibu histeris, menjadi saksi pertama kali selepas pulang dari ladang, teriakan dan tangisnya mengundang orang-orang datang. Sebagaimana peristiwa pada umumnya, polisi bersama tim medis hadir memenuhi kewajiban untuk memastikan bahwa kematian Sunadi murni bunuh diri.

Sementara itu, peristiwa yang sama terjadi sehari setelahnya, Senin, (22/5/2017). Berlokasi di Kecamatan Patuk, Gunungkidul, seorang bapak yang berusia 56 tahun mengakhiri hidup di pohon rambutan.

Sebagaimana laporan kejadian yang disampaikan Kapolsek Patuk, Kompol Mugiman, bahwa pelaku, Mukiran, melakukan tindakan bunuh diri lantaran sakit mata yang diderita. Disebutkan, mata Mukiran sakit lantaran terkena kawat besi.

“Sudah ada sekitar tiga bulan pelaku mengalami depresi. Sakit mata yang dialami tidak sembuh-sembuh,” ujar Kapolsek.

Sepertihalnya kepala rumah tangga pada umumnya, memiliki kewajiban sebagai tulang punggung keluarga menjadi tugas utama. Peran ini yang diduga membebani pikirannya lantas menjadi salah satu pemicu Mukiran meninggalkan keluarga selamanya.

Sebab, karena sakit yang tak kunjung sembuh itu, Mukiran tidak bisa bekerja lagi mencari nafkah. Antara kesembuhan mata dan panggilan tanggung jawab moral yang sulit Mukiran tunaikan itu sepertinya menjadi beban bertumpuk.

Urai Kapolsek, penemuan pelaku bunuh diri disaat hari menjelang petang. Rivaldi (19), kerabat pelaku dengan mata kepalanya menyaksikan kepergian Mukiran. Dengan seutas tali, mati di pohon rambutan. (Kandar)

Komentar

Komentar